Loading...
OPINI
Penulis: Weinata Sairin 04:07 WIB | Selasa, 17 Mei 2022

Mewaspadai Kematian

”Vive memor leti. Hiduplah dengan selalu waspada akan kematian.”
Pixabay

SATUHARAPAN.COM - Diksi yang maha penting dalam dunia manusia adalah ”hidup” dan ”mati”. Kedua kata itu seakan dua tonggak yang menghunjam dalam di pelataran sejarah manusia, dan di antara kedua tonggak itulah manusia mengukir karya terbaiknya dengan optimal walau terengah-engah dan penuh peluh.

Durasi atau jarak perjalanan dari tonggak H ke tonggak M itu amat relatif dan tak ada rumus baku tentang itu yang mampu dibuat manusia. 

Durasi itu tidak terukur atau terstandar, tidak karena prestasi, amal, kebajikan, suku, agama, ras, antargolongan, afiliasi politik, strata sosial dan/atau apa pun, tingkat pendidikan, gelar PhD atau Dr HC.

Umat beragama memahami bahwa durasi kehidupan manusia itu menjadi ranah Sang Maha Pencipta, domainnya Tuhan Yang Maha Esa.

Hal itu menjadi hak prerogatif Kuasa Transendental.

Dengan memahami dan menyadari dengan baik bahwa durasi hidup manusia berada dalam ranah Sang Maha Pencipta dan tidak berada dalam kompetensi manusia, manusia seharusnya hidup dalam ketaatan yang penuh kepada Kuasa Transenden, Sang Maha Pencipta.

Manusia harus makin memahami kediriannya, bahwa ia manusia fana dan terbatas, manusia yang digelimangi berbagai kelemahan, manusia yang amat rapuh, dan fragile dalam hal-hal tertentu; manusia yang tak mampu mewujudkan karakter khalifah Allah dan imago Dei.

Realitas manusia yang lemah, rapuh dan fragile, terlepas dari kemampuan intelektual serta harta kekayaan yang mereka miliki, membutuhkan adanya ”nilai-nilai unggulan” dalam kedirian manusia. Dalam diri manusia harus ada nilai-nilai Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera, Kebajikan, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, dan Penguasaan diri.

Dalam menapaki perjalanan dari tonggak H menuju tonggak M itu manusia menabur kebajikan, beramal saleh, melakukan diakonia, hal-hal yang positif demi kemaslahatan orang banyak.

Nilai- nilai unggul sebagaimana disebutkan di atas harus benar-benar menjadi habitus umat sehingga melaluinya kedirian manusia mampu menjadi teladan dan bisa menjadi ”investasi” untuk memasuki tonggak M. Persoalannya adalah manusia hidup dalam sebuah komunitas dan berinteraksi dengan banyak orang dengan beragam karakter.

Butir- butir nilai keunggulan itu (bahkan bisa lebih) memang tidak terlalu mudah untuk diimplementasikan, apalagi dalam sebuah masyarakat yang makin ”sangar” dan kasar, yang melahirkan berbagai kekerasan, kriminalitas.

Para tokoh masyarakat, pendidik, politisi, ataupun pejabat publik kita harapkan dapat memberikan keteladanan hidup yang signifikan, terutama bagi generasi muda kita, yang secara teoretik durasi hidupnya masih relatif lebih lama ketimbang para warga yang kini sudah berusia lanjut, pasca 50. Kejujuran, kebaikan hati, apresiasi terhadap keberagaman harus bisa kita wujudkan dalam kenyataan praktis.

Cerita-cerita tentang kebaikan hati dan kejujuran bisa kita gali dari banyak pengalaman di berbagai tempat. Kisah tentang kejujuran dari zaman baheula berikut ini bisa menjadi inspirasi untuk kita di abad modern ini.

Dr. Tobias Smollett (1721–1771), seorang dokter yang juga penyair dan penulis, suatu hari tergerak memberikan sedekah kepada seorang pengemis yang mendekatinya di sebuah restoran. Oleh karena sedang terburu-buru maka yang diberikan Pak Smollett kepada pengemis itu bukanlah uang melainkan sebutir mutiara. Pengemis miskin itu baru sadar ketika kemudian melihat bahwa benda itu amat mahal dan ia merasa tak layak menerimanya. Ia kemudian berupaya mencari dr. Smollett untuk mengembalikan benda itu.

Untunglah ia masih berhasil bertemu dengan dermawan itu. Namun, dr. Smollett ternyata bukan hanya menolak pengembalian mutiara itu, malahan memberikan lagi sebutir mutiara kepada sang pengemis sambil berkata:

”Betapa jujurnya kamu ini!”

Pepatah yang kita kutip di awal bagian ini mengingatkan agar kita hidup dengan selalu ”waspada akan kematian”! Waspada artinya siuman, sadar, dalam kondisi siaga, stand by; kondisi "on call" tidak tenggelam dalam kerutinan dan kekinian, eling dan ingat bahwa hidup ini temporer dan kematian dipastikan bisa datang kapan saja.tanpa jadwal waktu yang jelas. Waspada tidak hanya menghitung waktu, menjaga kesehatan.

Waspada artinya juga ”memelihara iman”, menjauhkan diri dari berbagai perbuatan yang melawan hukum dan melanggar ajaran agama; tidak melakukan perbuatan suap, korupsi, diskriminasi, melanggar HAM, meneror, membunuh, melakukan tindak kriminal, dan melakukan ujaran kebencian, menabur roh rasialistik dalam berbagai pidato, intervensi terhadap ajaran agama atasnama kekuasaan, dan berbagai tindak kejahatan lainnya. Berbuat baik, bertobat, tobat nasuha, metanoia, beragama secara kafah lakukanlah dengan sadar dan kontinyu. Metanoia itu harus dilakukan seseorang dalam hidupnya.

Kematian itu adalah sesuatu yang pasti, walau datangnya berbalut misteri. Oleh karena kematian itu sebuah kepastian maka kita harus mempersiapkannya dengan baik.

Kita harus makin mengasihi orang-orang yang ada disamping kita; kita harus makin tekun berdoa dan beribadah; kita harus membebaskan diri dari dendam sejarah dan hidup dalam pengampunan; kita harus menegaskan apakah kita akan di kremasi atau dimakamkan secara biasa; kita harus menetapkan pilihan dimakamkan di Menteng Pulo,Sandiego Hill, Tpu Pondok Kelapa, dan beberapa aspek teknis lainnya.

Kita tidak perlu takut dalam menyongsong kematian.Kita sesuai dengan ajaran agama adalah milik Allah. Kita akan kembali kepadaNya, memasuki keabadian dengan penuh sukacita!

Selamat Berjuang. God Bless!


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home