Loading...
INSPIRASI
Penulis: Weinata Sairin 23:37 WIB | Sabtu, 04 Desember 2021

Mewujudkan Hidup Berhikmat dan Sadar Waktu

"Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar pergunakanlah waktu yang ada" (Kolose 4 : 5)
Ilustrasi. (Foto: inc.com)

SATUHARAPAN.COM - Hidup yang kita jalani kini dan disini amat kaya dengan dimensi ruang dan waktu. Hidup tak cukup ditangkap hanya dalam satu perspektif, sebuah angle. Hidup yang utuh dan penuh, yang holistik dan komprehensif mesti "di shoot" dalam multi angle. Dengan menyadari begitu luasnya samudera kehidupan dan majemuknya dimensi kehidupan maka durasi kehidupan (yang mencapai usia efektif rata-rata 80an) bisa dikatakan amat pendek. Oleh karena itu durasi yang tersedia mesti didayagunakan secara optimal.

Hikmat, wisdom, yang biasa dikaitkan dengan Salomo adalah pengetahuan yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan penilaian sesuai dengan pengertian tersebut. Masyarakat Yunani kuno menganggap bahwa hikmat adalah suatu kebajikan yang penting. Itulah sebabnya banyak wisdom yang lahir dari negeri tersebut, selain juga filsafat.

Ada beberapa kata kunci dari Surat Kolose ini, yaitu hikmat, orang-orang luar dan waktu yang ada. Paulus mengingatkan dengan amat cerdas kepada Jemaat Kolose agar mereka sadar dan siuman terhadap konteks yang dihadapinya. Ia meminta agar umat memberlakukan cara hidup yang bijaksana. Sikap, perkataan dan perbuatan umat jangan menjadi batu sandungan, yang merugikan umat secara pribadi tapi juga bisa berdampak buruk bagi kehadiran kekristenan ditengah komunitas non Kristen. Warga Jemaat Kolose hidup ditengah "orang--orang luar", orang yang belum mengenal Kristus, orang yang memang berbeda iman.

Hidup ditengah-tengah orang luar membutuhkan seni tersendiri. Tidak bisa kita semaunya, seenak sendiri. Berkata harus dengan hati-hati, mencari  diksi yang tepat yang tidak membuka peluang multitafsir atau berpotensi "menista agama". Soal makanan juga harus amat hati-hati, demikian juga soal melakukan ibadah. Di sebuah daerah di wilayah hukum NKRI  tahun 60-an warga jemaat Kristen disitu tak bisa melaksanakan kebaktian di rumah karena tetangga disekitarnya tidak suka mendengar orang menyanyikan lagu Gereja. Diwilayah-wilayah terpencil tahun 70an Gereja Kristen Pasundan tidak selalu memasang papan nama Gereja jika tidak dianggap amat penting.

Kesemua itu dilihat dalam frame hidup penuh hikmat terhadap orang luar dan tidak sama sekali dalam konteks "menutupi atau menyelubungi kekristenan". Hidup penuh hikmat terhadap orang luar memerlukan penjabaran teknis sesuai dengan konteks tertentu. Tak ada rumus yang umum dan baku yang bisa berlaku disemua wilayah.

Menarik apa yang ditegaskan Paulus bahwa umat mesti menggunakan waktu yang ada. Artinya jangan sia-siakan waktu, gunakan secara efektif sehingga terwujud sesuatu yang optimal. Kita fahami bersama bahwa Jemaat-jemaat Kristen abad pertama amat merindukan kedatangan Yesus kedua kali agar mereka bisa keluar dari dunia yang berlumuran  derita dan menikmati dunia baru yang penuh damai sejahtera. Sebuah "eskatologi presentis" saat itu memang menjadi harapan dari Jemaat Kristen mengingat hambatan, persekusi, aniaya, penyiksaan terhadap umat Kristen terjadi terus menerus.

Bacaan Alkitab ini penting untuk kita simak ulang ditengah berbagai kegaduhan yang mewarnai kehidupan kita membangsa dan menegara. Hikmat, sikap terhadap orang luar, kesadaran tentang waktu adalah hal-hal pokok yang mestinya menjadi perhatian utama kita dihari-hari kedepan.

Di zaman pandemi sekarang ini, apalagi di masa-masa penantian Omicron, denominasi baru dari Corona, kita juga harus memiliki kesadaran tentang waktu, tentang ruang, tentang konteks, tentang peta di depan kita. Kesadaran seperti itu membuat kita lebih mampu dalam memprediksi, mengkalkulasi, memetakan dan menentukan sikap serta melakukan positioning.

Sense of emergency, sense of crises harus menjadi bagian integral dari hidup kita di zaman ini. Tanpa itu maka hidup kita bukanlah sebuah hidup yang hidup,hidup yang kredibel dan berbalut trust tetapi hidup yang lemahlunglai, lemah gemulai hidup yang nyaris tiada bermakna.

Kita sebagai umat Tuhan sejatinya harus mewujudkan kehidupan yang  bermakna, bertanggungjawab dan gagah perkasa bukan hidup yang lunglai dan gemulai.

Selamat Menyambut dan Merayakan Hari Minggu. God bless.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home