Loading...
SAINS
Penulis: Melki Pangaribuan 16:01 WIB | Senin, 28 Oktober 2019

Milenial Ogan Komering Ilir Buat Kerajinan Berbahan Purun

Pemuda asal Kabupaten Ogan Komering Ilir membuat beragam kerajinan berbahan daun purun. (Foto: Antara)

PALEMBANG, SATUHARAPAN.COM - Sejumlah pemuda asal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, membuat beragam kerajinan berbahan dasar daun purun, sekaligus mendukung program pelestarian lahan gambut.

Iqbal bersama enam rekannya dari Desa Menang Raya membuat beragam kerajinan berbahan daun purun seperti tas, tempat tisu, sandal, hingga rompi.

“Tas ini kami kirim ke Palembang, harganya Rp150.000 per buah. Kami juga sudah ada langganan yang setiap akhir pekan ambil barang ke kami,” kata Iqbal di Kayuagung, Senin (28/10).

Purun merupakan jenis tumbuhan rawa yang banyak tumbuh di lahan gambut sekitar Kecamatan Pedamaran, Kabupaten OKI.

Proses pembuatan kerajinan tangan ini, menurut Iqbal, tidak mudah karena daun purun harus dijemur selama tiga hari. Kemudian, daun dilemaskan menggunakan mesin sebelum dianyam sesuai jenis pesanan.

“Tanpa kreativitas purun yang dianyam akan lebih rendah nilainya bila dibandingkan dengan purun yang diwarnai diolah menjadi produk siap pakai,” kata dia.

Iqbal mengatakan kalangan milenial di desanya tergugah untuk memunculkan olahan daun purun ini karena mendapati kenyataan terpuruknya olahan purun oleh gempuran produk berbahan sintesis maupun plastik.

Kepala Desa Menang Raya Suparedi mengaku bersyukur dengan keterlibatan milenial di desanya dalam membina perajin tikar untuk menyelamatkan gambut.

“Di bawah arahan Tim Restorasi Gambut (TRG) Sumsel, akhirnya lahir produk-produk olahan kain purun yang beragam," kata dia.

Dukungan masyarakat dalam mewujudkan restorasi gambut, menurut dia, sangat penting. Namun masyarakat juga butuh jaminan sosial, ekonomi, dan budaya guna mendukung upaya tersebut.

Selama puluhan tahun, masyarakat di Pedamaran telah mengembangkan usaha kerajinan purun. Hanya saja, sumber ekonomi yang arif dengan lingkungan tersebut mulai ditinggalkan masyarakat karena hasilnya tidak memuaskan.

“Masyarakat banyak beralih mata pencaharian karena purun tidak lagi menjanjikan. Dengan pembinaan ini warga antusias kembali” ujar dia.

Selain mengolah purun, warga juga akan mengolah eceng gondok. Dalam waktu dekat, anak-anak muda di desa tersebut akan dikirim ke Yogyakarta untuk dilatih membuat kerajinan tangan.

Peneliti Muda Kabupaten OKI Raih Medali Kompetisi di Rusia

Seorang peneliti belia asal Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, meraih medali perunggu lomba penelitian internasional 8th Asia Pacific Conference of Young Scienties (APCYS) 2019 di Rusia pada 14-20 Oktober 2019.

Dhonan Nabil Hibatullah yang merupakan siswa kelas XII SMAN 1 Kayuagung menerima penghargaan pemuda berprestasi dari Bupati OKI pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 di Kayuagung, Senin (28/10).

“Bangga bisa membawa nama baik Indonesia di kancah internasional dan mengharumkan nama Kabupaten OKI. Saya berterima kasih atas apreasiasi yang diberikan pemerintah kabupaten,” kata dia.

Dhonan bergabung dengan delapan peneliti muda lainnya se-Indonesia yang tersaring melalui lomba peneliti belia (LPB) nasional 2018 mengikuti kompetisi bergengsi tersebut.

Pada lomba penelitian internasional yang digelar di Yakutks-Republic of Sakha, Rusia ini Dhonan berhasil meraih medali perunggu melalui proyek penelitian bidang Fisika, dengan judul “Slip-Stick Phenomenon”

“Metode pencarian material pembuatan mesin dengan memanfaatkan daya gesek, itu yang saya teliti,” kata dia.

Dari lomba itu, ia mengatakan, Tim Indonesia memenangkan dua medali perak, enam medali perunggu dan delapan penghargaan poster.

Bagi Dhonan, keberhasilan ini semakin meningkatkan kepercayaan dirinya untuk lebih berprestasi di kancah internasional.

Menurutnya, remaja-remaja Indonesia memiliki potensi luar biasa yang tidak kalah dengan SDM negara lain.

“Kuncinya mau bekerja keras, ini juga yang harus dimaknai dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda,” kata dia.

Dhonan yang bercita-cita menjadi ilmuan ini berpesan kepada rekan sebayanya untuk tidak mudah menyerah, memanfaatkan kemajuan teknologi dengan bijak serta tetap mempertahankan kearifan lokal.

“Jangan takut ketinggalan informasi atau terlambat update, lebih takut kalau kita kehilangan jati diri,” kata dia. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home