Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 13:57 WIB | Kamis, 24 Desember 2020

Natal 2020 dalam Perayaan Yang Lebih Rohani

Suasana tenang di Kota Bethlehem, Palestina, kota yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus, menjelang perayaan Natal 25 Desember 2020. (Foto: dok. Ist.)

SATUHARAPAN.COM-Perayaan Natal tahun 2020 ini, yang pada hari Jumat, 25 Desember besok, dirayakan oleh seluruh umat Kristen di berbagai negara, akan berlangsung dalam suasana pembatasan akibat pandemi COVID-19. Dan ini kemungkinan akan menjadi perayaan yang lebih rohani, ketimbang kegembiraan duniawi.

Di Indonesia, gereja-gerja hanya akan dihadiri oleh sekitar seperlima dari kapasitas rumah ibadah itu pada perayaan Natal kali ini, dan sebagian besar akan mengikuti ibadah dari rumah-masing-masing bersama keluarga melalui video yang mungkin akan dipublikasikan secara langsung.

Pandemi COVID-19 yang sudah berjalan setahun ini di seluruh dunia, mengharuskan perayaan Natal tahun ini dengan cara yang berbeda, bahkan sangat sederhana. Dan ini menjadi bagian dari solidaritas atas penderitaan manusia mengingat dampak ekonomi dari pandemi ini telah begitu berat pada semua warga masyarakat.

Namun suasana ini, yang lebih tenang, bisa dibawa ke suasana yang lebih rohani, merefleksi makna menyambut kedatangan kasih Tuhan pada manusia yang pada dasarnya rapuh. Ini bisa mendorong kepada pengakuan yang makin kuat akan Tuhan sebagai sumber utama kehidupan dan kasih.

Kasih dan Solidaritas

Mengikuti ibadah di rumah masing-masing tidak harus mengurangi penghayatan akan Natal yang semangat utamanya: kasih Allah kepada manusia. Dan justru ada harapan untuk kemudian memancarkan kasih itu menjadi bagian dari praktik kehidupan bermasyarakat yang berbagi kasih dan solidaritas.

Suasana pandemi dengan berbagai masalah dan dampaknya, sangat membutuhkan kesadaran untuk solidaritas terhadap sesame, dan berbagi kasih. Ini setidaknya dengan menjaga diri dan orang lain untuk tidak terpapar virus corona, untuk secara aktif dan tidakan nyata menghentikan penyebaran virus ini.  

Suasana Natal menandai adanya pengharapan untuk kelepasan manusia dari pandemi, dan perbaikan kualitas kehidupan yang lebih baik di masa depan. Pandemi diyakini hanya akan berakhir ketika semua orang terbebas dari virus mematikan ini, bukan hanya ketika satu kelompok bebas dan yang lain terus berisiko. Dan ini telah banyak mengajarkan kita tentang arti solidaritas dan kasih kepada sesama, yang harus terwujud dalam tindakan dan bukan sebatas pernyataan, dalam gerakan mengatasi pandemi ini.

Dalam suasana ini, Natal bahkan juga menjadi pendorong kita untuk membangun persatuan di dalam bangsa kita, kita harus mengikis habis ujaran kebencian, membuat sekat-sekat warga atas dasar paham sektarian. Natal mengajak kita untuk membangun kerja sama umat manusia dalam kesetaraan untuk menyongsong normal baru selepas pandemi.

Ibadah Natal pada hari Jumat (25/12) akan menjadi momentum yang lebih rohani, tetapi selepas itu adalah tindakan nyata untuk membangun kasih antar sesama, solidaritas, dan kerja bersama menlawan COVID-19.

Selamat merayakan Natal 2020 dalam suasana memancarkan kasih Tuhan bagi sesame menghadapi pandemi.

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home