Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 21:08 WIB | Jumat, 21 September 2018

Nusasonic 2018 Siap Digelar

Ilustari. Poster Nusasonic, Crossing Aural Geographies 2018. (Foto: nusasonic.com)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kolaborasi ruang kolektif dari beberapa negara diantaranya Yes No Klub (Yogyakarta), WSK Festival of the Recently Possible (Manila), Playfreely/BlackKaji (Singapore) dan CTM Festival for Adventurous Music & Art (Berlin) menyusun program dengan mengadopsi pendekatan multi-perspektif menghasilkan kerja bareng bernama Nusasonic.

Nusasonic merupakan proyek multitahun yang diinisiasi oleh Goethe-lnstitut dengan menyelami keberagaman budaya bunyi dan musik eksperimental di Asia Tenggara.

Mengambil tajuk “Nusantara”, sebuah istilah bahasa Jawa kuno yang kini digunakan untuk menggambarkan aneka pertalian negara-negara Asia Tenggara, Nusasonic mencoba membuka dialog dalam kawasan tersebut, dengan Eropa, dan negara- negara lainnya. 

Program ini akan diawali pada tanggal 2-13 Oktober 2018 di Yogyakarta-Indonesia, dengan melibatkan lebih dari 50 seniman dari berbagai wilayah di Indonesia, Asia Tenggara dan Eropa. Nusasonic dimulai sebagai laboratorium dimana sebuah hacklab, sekelompok sonic wilderness dan pasangan-musisi/seniman baru akan bermain bersama serta mencipta karya, ide dan kemungkinan musikal baru, dan berpuncak pada festival yang mempertunjukkan hasil kerjasama tersebut dalam sebuah program yang mencakup konser, sebuah malam klub, acara oufdoor gerilya serta program diskusi, panel dan lokakarya.

Nusasonic akan menggabungkan beragam format seperti lab artistik, karya komisi, konser, instalasi, festival, diskusi, terbitan dan Iain sebagainya untuk mengamati bagaimana praktik-praktik bunyi kontemporer memungkinkan hubungan dan dialog di kawasan Asia Tenggara dan Eropa, sambil terus memberi perhatian kritis terhadap konteks lokal dan global yang tengah berlangsung.

"Untuk event Nusasonic di Yogyakarta akan dihelat di beberapa ruang publik di Yogyakarta." jelas penanggung jawab komunikasi media Nusasonic, Diendha Febrian kepada satuharapan.com, Jumat (21/9).

Selain menghadirkan suara-suara artistik berbakat kepada publik, inisiatif ini juga bertujuan mendukung seniman dalam praktiknya, memperkuat jaringan lokal, mendorong kerjasama lintas batas dan inter-budaya serta memberikan kontribusi terhadap perluasan pemahaman atas praktik bunyi kontemporer.

Pada Nusasonic di Yogyakarta melibatkan penampil di antaranya Dangerdope [Indonesia], Fauxe [Singapura], Gabber Modus Operandi [Indonesia], Jessica Ekomane [Prancis/Jerman], Joee & I [Filipina], Jogja Noise Bombing [Indonesia].

Sebagai rangkaian dari Nusasonic, panitia telah melakukan open call untuk MusicMaker Hacklab dengan tema "Play Ecology" yang akan dibuka hingga 25 September, serta lokakarya Sonic Wilderness di Teater Garasi Yogyakarta pada 7 Oktober.

Selepas inagurasi di Yogyakarta, Nusasonic akan mengambil bentukan serta format berbeda dan mengunjungi Manila, Singapura dan lokasi lainnya di Asia Tenggara dalam beberapa tahun mendatang. Inisiatif ini juga akan menghubungkan Berlin serta negara asing lainnya.

Informasi seputar Nusasonic bisa  diakses langsung pada laman www.nusasonic.com. 

 

Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home