Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 15:28 WIB | Minggu, 13 Mei 2018

Olah Tubuh Tony Broer di Art|Jog 11

Olah Tubuh Tony Broer di Art|Jog 11
Pementasan " TanahTubuhBatu" oleh Tony Broer di panggung Art|Jog 11, Sabtu (12/5) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Olah Tubuh Tony Broer di Art|Jog 11
Dialog Tony Broer pada batu.
Olah Tubuh Tony Broer di Art|Jog 11
Tony Broer berinteraksi dengan mengajak penonton berfoto bersama.
Olah Tubuh Tony Broer di Art|Jog 11
Perform Tony Broer di atas panggung Art|Jog 2018.
Olah Tubuh Tony Broer di Art|Jog 11
Tony Broer (di atas kursi batu) saat latihan body balancing di Titik Nol Km Yogyakarta, Kamis (10/5) sore.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Ruang pamer Art|Jog 11 2018 pada Sabtu (12/5) malam menjadi panggung bagi seniman oleh tubuh Tony Broer mempresentasikan performnya. Diawali dari area ticketing  Art|Jog yang berada di pelataran Jogja National Museum (JNM), Tony Broer melakukan perform secara natural tanpa diketahui oleh banyak pengunjung. Memakai jas lengkap dengan dasi, meskipun berambut panjang penampilan Tony tidak terlalu menarik perhatian pengunjung lain. Begitupun pada saat memasuki ruang pamer commision work.

Pengunjung mulai tersadar saat Tony memasuki lantai satu ruang pamer dan merebahkan diri di bawah karya Nasirun berjudul "Hutan Dilipat". Sebuah aksi yang tidak biasa yang dilakukan oleh pengunjung pameran. Belum sempat tersentak kesadaran pengunjung, Tony melanjutkan performnya menuju lantai dua. 

Sebuah batu pada satu sudut ruang pamer lantai dua menjadi dialog pertama Tony yang itupun ternyata luput dari pengamatan pengunjung. Baru saat Tony mengangkat batu melewati lorong lantai dua dalam langkah cepat-lambat bergantian, pengunjung lantai dua mengetahui sedang ada pementasan on the spots

Di lantai dua Tony menuju pada sebuah ruang pamer yang berada di ujung lorong. Sebuah karya berukuran besar "The Heart of Stone" yang dibuat perupa Agung Tato menjadi persinggahan Tony. Batu yang dibawa Tony diletakkan berseberangan dengan batu besar-bernapas karya Agung Tato. Dalam posisi dua batu berseberangan, kembali Tony membuat dialog dan sempat membuat seorang pengunjung kaget dan teriak histeris saat Tony menjatuhkan diri di tengah ruang pamer.

Dari ruang "The Heart of Stone" Tony melanjutkan perjalanan menuju lantai satu. Menariknya ketika Tony menuruni tangga dengan cara menggulingkan diri melewati anak tangga turun. Sebuah adegan yang cukup berbahaya. Di ruang pamer paling ujung sebelum memasuki pintu keluar, seorang penonton diajak berfoto bersama. Ini menjadi dialog interaktif tanpa kata yang dilakukan oleh Tony. Dialog tanpa kata berikutnya dilakukan Tony saat memasuki area kuliner dengan duduk pada bangku bersama pengunjung yang sedang menyantap makanan tanpa diketahui sedang terjadi adegan apa. Pengunjung tersebut baru menyadari setelah Tony mengajak berfoto bersama pengunjung lain pada tangga keluar merchandise booth. Di area inilah, Tony mulai mengawali menanggalkan pakaian lengkapnya.

Dalam kondisi hampir telanjang menyisakan baju putih, Tony menuju stage area dimana dia akan mengakhiri performnya. Tiga pengunjung secara acak diajak Tony untuk tampil bersama, salah satunya warga asing dengan masing-masing diberikan sebuah batu. Seember tanah-lumpur digunakan Tony untuk melumuri seluruh muka, kepala, dan badannya.

Dengan wajah-badan penuh lumpur, Tony menuju panggung. Di atas meja dengan iringan musik instrumen wedding song Ave Maria dan latar belakang gerhana matahari, Tony melakukan olah tubuh sementara di lantai panggung tiga orang bergantian menyusun batu-batu dalam posisi rock balancing. Saat batu telah tersusun secara seimbang, di ujung meja Tony melakukan body balancing dengan posisi terbalik kaki di atas.

"Tanah diam, melahirkan tubuh yang terus bergerak membentuk ruang. Tanah mulai menubuh, melahirkan batu yang terus mengeras membentuk tumpukan. Batu mulai menubuh tanah. Begitulah konsep perform tersebut." jelas Tony Broer kepada satuharapan.com setelah pementasan selesai, Sabtu (12/5) malam tentang perform TanahTubuhBatu-nya.

Beberapa hal menarik bisa dicatat dalam perform Tony Broer. Memulai dengan berpakaian lengkap sebagai gambaran hidup dalam kekinian dan Tony mengakhiri pementasan dalam ketelanjangan berlumur tanah. Sebuah set-back perjalanan kehidupan dan peradaban manusia. Ada banyak drama kehidupan yang kadang hanya membatu dan hilang begitu saja, namun adakalanya terekam dalam ingatan kolektif masyarakat. Tony seolah sedang menelanjangi kehidupan yang kerap berjalan tidak seimbang. Di posisi mana perjalanan peradaban menempatkan manusia? Apakah keseimbangan hidup harus mendampingkan suka dengan duka, derita dengan bahagia, kesakitan/nestapa dengan yang lainnya, dan hidup itu sendiri dengan kematian? Drama kehidupan kerap memiliki cara untuk mencari jalannya sendiri menuju sebuah keseimbangan.

Penampilan di ruang pamer mengingatkan pada pembukaan Art|Jog tahun lalu dengan Opera Setan Jawa maupun sebuah koreografi di lantai dua JNM pada saat pembukaan Art|Jog tahun ini. Yang mungkin sedikit berbeda adalah Tony memulainya dalam perjalanan sunyi di keramaian Art|Jog. Olah tubuh sendiri sebagai sebuah performance art mensyaratkan ketahanan, stamina, kelenturan tubuh yang dibentuk melalui latihan teratur secara terus menerus.

Meskipun blocking yang dilakukan untuk melanjutkan perform panggung oleh penampil berikutnya tidak se-smooth tahun lalu, namun bocking antara dua penampil berbeda cukup rapi ketika grup musik Anak Wayang seolah mengakhiri penampilan Tony Broer di atas panggung dengan permainan etnik perkusi sebagai pembuka penampilan Anak Wayang percussion.

"Seminggu tiga kali latihan. Biasanya mengambil jalur dari Pasca Sarjana ISI-Alun-alun selatan, Alun-alun utara Yogyakarta dengan lari ringan menuju Titik Nol Km. Di Titik Nol Km kita bereksplorasi dari gerakan ringan hingga body balancing dalam posisi terbalik pada bidang-bidang dan ketinggian tertentu." jelas Tony di Titik Nol Km Yogyakarta ketika ditemui satuharapan.com saat latihan untuk persiapan pementasan di Art|Jog, Kamis (10/5) sore.

Untuk posisi body balancing dengan posisi yang sangat beresiko, Tony mampu melakukan hingga lima belas menitan.

"Harus ada pendampingan dan dilakukan secara bertahap. Tidak boleh sembarangan. Setiap orang mempunyai batas yang berbeda." jelas Tony.

Perform "TanahTubuhBatu" yang dilakukan Tony Broer adalah rangkaian program Daily Performance Art|Jog 11-2018 yang digelar melengkapi program Art|Jog lainnya. Selama pameran Art|Jog berlangsung hingga 4 Juni 2018 sebanyak delapan puluh tiga penampil/performer musik, tari/koreografi, teater, akan terus mengisi panggung Art|Jog setiap malamnya kecuali hari Senin panggung diliburkan.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home