Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 09:16 WIB | Selasa, 03 Maret 2020

Pakar Teliti Kasus Terinfeksi Ulang COVID-19

Dua ancak terinfeksi virus corona dan paramedis yang merawat meraka di rumah sakit di kota Wuhan, China. (Foto: Xinhua)

SATUHARAPAN.COM-Pemerintah prefektur Osaka di Jepang mengatakan bahwa seorang perempuan yang bekerja sebagai pemandu wisata dinyatakan positif terinfeksi virus corona untuk kedua kalinya. Ini mengikuti laporan dari China bahwa pasien yang dinyatakan sembuh dan keluar dari rumah sakit dites hasilnya positif.

Namun pejabat di Komisi Kesehatan Nasional China mengatakan bahwa pasien seperti itu tidak ditemukan menularkan ke orang lain, menurut laporan Reuters.

Para ahli mengatakan ada beberapa pasien yang dipulangkan bisa terserang virus lagi. Pasien yang sembuh mungkin tidak membangun antibodi yang cukup untuk mengembangkan kekebalan terhadap COVID-19, dan terinfeksi lagi. Virus ini juga bisa “biphasic”, artinya virus itu tidak aktif sebelum membuat gejala baru.

Perbedaan Cara Uji

Namun demikian, beberapa kasus "terinfeksi ulang" awal di China terjadi akibat perbedaan cara pengujian. Pada 21 Februari, seorang pasien yang keluar di kota Chengdu, China, masuk kembali ke rumah sakit setelah 10 hari ketika tes lanjutan hasilnya positif.

Lei Xuezhong, dari rumah sakit China Barat, mengatakan kepada media setempat, People's Daily, bahwa rumah sakit menguji sampel dari hidung dan tenggorokan untuk memutuskan apakah pasien bisa dipulangkan, tetapi tes baru menemukan virus itu ada juga di saluran pernapasan bagian bawah.

Paul Hunter, seorang profesor kedokteran di University of East Anglia, Inggris mengatakan bahwa meskipun pasien di Osaka bisa kambuh, juga mungkin bahwa virus masih dalam sistem infeksi awal, dan dia tidak diuji dengan benar sebelum dipulangkan.

Perempuan itu pertama kali dites positif pada akhir Januari dan dikeluarkan dari rumah sakit pada 1 Februari, membuat beberapa ahli berspekulasi bahwa itu adalah biphasic, seperti pada antraks.

Kriteria Pasien Dipulangkan

Sebuah jurnal dari American Medical Association melakukan studi tentang empat personil medis yang terinfeksi yang dirawat di Wuhan, pusat epidemi, mengatakan ada kemungkinan bahwa beberapa pasien yang pulih akan tetap menjadi pembawa (virus) bahkan setelah memenuhi kriteria untuk di pulangkan.

Di China, misalnya, pasien harus melakukan tes dengan hasil negatif, tidak menunjukkan gejala dan tidak memiliki kelainan pada hasil sinar-X sebelum dipulangkan.

Allen Cheng, profesor epidemiologi penyakit menular di Monash University di Melbourne, Australia mengatakan, tidak jelas apakah pasien terinfeksi kembali atau tetap "positif terus-menerus" setelah gejala mereka hilang. Namun dia mengatakan rincian kasus di Jepang menunjukkan pasien telah terinfeksi ulang.

Song Tie, wakil direktur pusat pengendalian penyakit di Provinsi Guangdong, China, mengatakan dalam briefing media pekan lalu bahwa 14% pasien yang pulang di Provinsi tersebut telah dites positif lagi dan telah kembali ke rumah sakit untuk observasi. Satu pertanda baiknya adalah bahwa tidak ada pasien yang tampaknya telah menginfeksi orang lain.

Antibodi dan Respon Imun

"Dari pemahaman ini... setelah seseorang terinfeksi oleh virus jenis ini, dia akan menghasilkan antibodi, dan setelah antibodi ini diproduksi, dia tidak akan menular," katanya. Biasanya, pasien yang sembuh akan mengembangkan antibodi spesifik yang membuat mereka kebal terhadap virus yang menginfeksinya, tetapi infeksi ulang bukan tidak mungkin, kata Adam Kamradt-Scott, seorang spesialis penyakit menular di University of Sydney.

“Dalam kebanyakan kasus, karena tubuh mereka telah mengembangkan respon imun terhadap infeksi pertama, namun infeksi kedua biasanya kurang parah,” kata Kamradt-Scott.

Para ahli lain juga telah melihat kemungkinan “peningkatan yang bergantung pada antibodi”, yang berarti paparan virus dapat membuat pasien lebih berisiko terhadap infeksi lebih lanjut dan gejala yang lebih buruk.

China mewakili hampir 46% dari total kasus ini. Jika tingkat infeksi ulang 14% itu akurat dan tetap konsisten, itu dapat menimbulkan risiko kesehatan yang lebih luas. "Saya lebih mengatakan bahwa ini tentang kemungkinan infeksi ulang dapat terjadi, ketimbang seberapa sering itu terjadi," kata Cheng.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home