Loading...
DUNIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 08:53 WIB | Kamis, 07 Mei 2020

"Panic Buying" Melanda Korea Utara

Petugas memeriksa suhu tubuh para siswa yang mengenakan masker untuk melindungi diri dari virus corona di Kim Chaek University of Technology, Pyongyang, Korea Utara, 22 April 2020. (Foto: voaindonesia.com)

KOREA UTARA, SATUHARAPAN.COM – Wabah virus corona kemungkinan menelan banyak korban di Korea Utara, sehingga pemimpin Kim Jong-un menghindari kegiatan-kegiatan publik, dan rakyatnya panik berbelanja (panic buying) banyak kebutuhan sehari-hari, kata dinas intelijen Korea Selatan dalam sebuah sidang parlemen, Rabu (6/5), di Seoul.

Sejumlah media berita melaporkan, antrian panjang terlihat di banyak toko-toko yang menjual kebutuhan pokok. Sejumlah rak tampak kosong dan para pemilik toko membatasi belanja para pelanggan mereka. Situs NK News, yang banyak memberitakan Korea Utara, melaporkan, situasinya persis seperti di negara-negara yang dihantam keras wabah virus corona.

Radio Free Asia melaporkan, harga-harga bahan-bahan kebutuhan pokok melambung karena aksi belanja rakyat Korea Utara.

Meskipun mengambil langkah-langkah karantina keras, Korea Utara bersikeras mengatakan tidak ada kasus penularan virus itu di dalam negeri. Banyak pakar kesehatan di luar Korea Utara meragukan pengakuan itu dan memperingatkan bahwa wabah penyakit akan sangat menyulitkan negara itu karena sistem layanan kesehatannya yang rapuh.

Dinas Intelijen Nasional Korea Selatan (NIS) mengatakan, dalam sidang dengar keterangan tertutup sebuah komisi parlemen, wabah itu merupakan salah satu alasan mengapa Kim Jong-un jarang tampil di hadapan publik tahun ini, kata Kim Byung Kee, kata seorang legislator yang menghadiri pertemuan dengan dinas intelijen itu.

Hingga Rabu (6/5), Kim Jong-un hanya 17 kali muncul di hadapan publik tahun ini. Angka itu, kata legislator tersebut, jauh lebih rendah dari angka kemunculannya pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Menurut NIS, pada periode Januari hingga April, sejak memegang kekuasaan pada 2011, Kim Jong-un rata-rata muncul di hadapan publik 50 kali.

NIS mengatakan, badan itu tidak bisa menghapus kemungkinan bahwa wabah virus corona sedang melanda Korea Utara saat ini karena perbatasan Tiongkok-Korea Utara dilaporkan aktif, sebelum Korea Utara menutup pintu-pintu perbatasannya pada Januari dalam usaha mencegah penyebaran virus itu.

Setelah 20 hari hilang dari pandangan publik, Kim Jong-un, Jumat lalu muncul pada sebuah upacara peresmian pabrik pupuk dekat Pyongyang. Ketidakmunculannya ini sempat memicu gosip mengenai kesehatannya dan masa depan negara itu. (voaindonesia.com)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home