Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 13:23 WIB | Minggu, 13 Mei 2018

Pasarela di Omah Petroek

Pasarela di Omah Petroek
Pasar seni rupa "Pasarela" di Omah Petroek yang berada di Dusun Karangkletak Hargobinangun Pakem Sleman berlangsung sehari 13 Mei 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pasarela di Omah Petroek
Lapak Survive!garage dalam Pasar seni rupa "Pasarela"
Pasarela di Omah Petroek
Pengunjung melihat dan memilih karya-karya yang dipajang di Pendopo Omah Petroek pada pasar seni rupa "Pasarela".

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sepanjang hari Sabtu (12/5) Omah Petroek yang berada di Dusun Karangkletak Hargobinangun Pakem-Sleman menghelat "Pasarela", sebuah acara yang untuk pertama kali diselenggarakan dengan maksud mempertemukan seniman-perupa bersama karya-karyanya dengan pencinta seni (art lover). Acara yang diinisiasi oleh budayawan Sindhunata dan seniman grafis sekaligus dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta Edi Sunaryo berlengsung di seluruh area Omah Petroek.

"Ini menjadi semacam ruang apresiasi-edukasi untuk lebih mendekatkan seniman-perupa dengan masyarakat luas." jelas Edi Sunaryo saat ditemui satuharapan.com di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada pembukaan sebuah pameran, Kamis (3/5) malam.

Lebih lanjut Edi Sunaryo menjelaskan bahwa konsep Pasarela sederhana saja, seniman-perupa Yogyakarta diundang untuk memamerkan karya-karyanya yang bisa dikoleksi oleh siapapun dengan catatan tidak melebihi harga Rp. 5.000.000,00. Dengan harga yang relatif terjangkau harapannya masyarakat luas bisa memiliki karya seniman-perupa sebagai bentuk edukasi-apresiasi karya seni rupa.

Dengan semangat yang dibangun atas dasar kerelaan tersebut, puluhan seniman-perupa terlibat pada Pasarela. Tercatat Nasirun, Kartika Affandi, Putu Sutawijaya, Yaksa, Yuswantoro Adi, Anwar Musadad, Teguh Paino, Sabar Jambul, Meuz Prast, Joseph Wiyono maupun ruang kolektif Survive!garage.

Bisa dibayangkan, dengan harga maksimal Rp. 5.000.000,00, pencinta seni bisa membawa karya seniman-perupa Yogyakarta baik yang sudah memiliki nama di kancah dunia seni rupa ataupun seniman mula-muda. Acara yang berlangsung selama dua belas jam tersebut bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-66 pemilik Omah Petroek Sindhunata. Beberapa seniman muda menawarkan karya-karyanya dengan harga 300 ribuan rupiah berikut potongan harga pada pembelian karya berikutnya.

"Penyelenggaraan pertama ini nanti akan menjadi evaluasi panitia. Jika responnya positif kemungkinan kedepannya akan dihelat secara reguler." jelas pengelola BBY Yunanto Sutyastomo yang menjadi panitia Pasarela saat ini, Sabtu (13/5) siang.

Yunanto Sutyastomo menjelaskan tidak ada regulasi khusus pada penyelenggaraan kali ini. Seniman-perupa dibebaskan membawa sejumlah karya, pencinta seni dibebaskan untuk membeli karya dalam jumlah berapapun, hanya harga yang dibatasi. Jika ada lebih dari satu peminat pada karya yang sama akan dilakukan pengundian siapa yang berhak membeli. Jika bisa diselenggarakan secara reguler, kedepannya akan dilakukan perbaikan dalam penyelenggaraannya. Selain pasar tiban karya seni rupa, Pasarela dimeriahkan oleh penampilan musik dari seniman-perupa terlibat pameran, serta membuat karya on the spots.

Beberapa waktu lalu seniman Bali Dewa Made Mustika melakukan sebar karya untuk donasi bagi pengungsi Gunung Agung dengan harga yang relatif terjangkau. Melalui publikasi dengan media sosial sebanyak dua puluh delapan lukisan Made Mustika terjual dalam waktu kurang dari tiga jam. Dengan upaya tersebut sesungguhnya Made Mustika bersama dua perupa muda ataupun "Pasarela" sedang "menanam" investasi jangka panjang bagi perkembangan seni rupa di masyarakat luas: sebuah apresiasi-edukasi seni berikut karyanya yang semestinya tidak berjarak dengan masyarakat luas.

 

BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home