Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 07:33 WIB | Kamis, 12 November 2020

Pasca Gencatan Senjata, Warga Armenia Menutut Perdana Menteri Mundur

Orang-orang menghadiri rapat umum oposisi untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, menyusul penandatanganan kesepakatan untuk mengakhiri konflik militer di wilayah Nagorno-Karabakh, di Yerevan, Armenia padahari Rabu (11/11/2020). (Foto: Reuters)

YEREVAN, SATUHARAPAN.COM-Ribuan demonstran Armenia, meneriakkan "Nikol Pashinyan sebagai pengkhianat", dan menuntut Perdana Menteri itu mengundurkan diri, pada hari Rabu (11/11) karena kesepakatan gencatan senjata setelah enam pekan pertempuran.

Gencatan senjata, yang diumumkan pada hari Selasa (10/11), mengakhiri pertempuran terburuk di kawasan itu dalam beberapa dekade, dan dirayakan sebagai kemenangan di pihak Azerbaijan. Pashinyan menyebutnya bencana, tetapi mengatakan dia tidak punya pilihan selain menandatanganinya untuk mencegah kekalahan.

Beberapa ribu orang menentang larangan darurat militer pada unjuk rasa jalanan untuk memprotes di ibu kota Yerevan, sehari setelah pengunjuk rasa menyerbu dan menggeledah beberapa gedung pemerintah.

Gencatan senjata menghentikan aksi militer di dalam dan sekitar Nagorno Karabakh, daerah kantong yang diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan tetapi dihuni oleh etnis Armenia. Berdasarkan perjanjian tersebut, 2.000 tentara penjaga perdamaian Rusia dikerahkan ke wilayah tersebut.

Pemimpin Oposisi Ditangkap

Tujuh belas partai politik menyerukan protes hari Rabu untuk meningkatkan tuntutan agar Pashinyan mundur. Namun sejumlah pemimpin oposisi ditangkap, di antara mereka adalah Gagik Tsarukyan, pemimpin Partai Armenia Sejahtera, menurut posting Facebook oleh Hripsime Arakelian, seorang anggota partainya. Partai ini adalah faksi terbesar kedua di parlemen.

Penjaga perdamaian Rusia yang dijadwalkan selama lima tahun mulai meninggalkan Rusia padahari Selasa dan sekarang mengendalikan koridor Lachin, sebuah jalur pegunungan yang menghubungkan Armenia dan Nagorno-Karabakh, kata tentara Rusia.

Bagi Rusia, yang memiliki pakta pertahanan dengan Armenia dan pangkalan militer di sana, mengamankan kesepakatan gencatan senjata mengirimkan sinyal bahwa mereka masih menjadi wasit utama di Kaukasus Selatan penghasil energi, yang dipandang sebagai halaman belakangnya sendiri.

Meskipun Azerbaijan memuji perjanjian gencatan senjata sebagai kemenangan, beberapa orang Azeri merasa frustrasi karena pasukan Azeri menghentikan pertempuran sebelum mendapatkan kembali kendali atas seluruh Nagorno-Karabakh. Warga Azeri lainnya khawatir dengan kedatangan penjaga perdamaian dari Rusia, yang mendominasi wilayah tersebut pada masa Uni Soviet. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home