Loading...
DUNIA
Penulis: Bayu Probo 08:34 WIB | Rabu, 18 Desember 2013

Pasukan Presiden Menyerbu Rumah Wapres Sudan Selatan, PBB Serukan Semua Pihak Tahan Diri

Tentara Pembebasan Rakyat Sudan (SPLA), militer Sudan Selatan. (Foto: ST)

JUBA, SATUHARAPAN.COM – Pasukan penjaga Presiden menggerebek rumah mantan wakil presiden Sudan Selatan, Riek Machar, di distrik Amarat. Mereka menghancurkan banyak properti. Kontak senjata kembali terjadi di Juba, Selasa (17/12).

Rumah tersebut dijaga pengawal Machar, tapi keberadaannya tetap tidak diketahui.

Tembakan-tembakan dari senjata berat juga terdengar di sekitar rumah Inspektur Jenderal Kepolisian Sudan Selatan, Pieng Deng Kuol, tempat para pejabat senior diduga pada Minggu malam merencanakan kudeta.

Tokoh senior partai penguasa Sudan Selatan,  Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM) yang diyakini berada di rumah Kuol adalah: mantan menteri pertahanan Majak D'Agoot, mantan menteri lingkungan Gier Chuang Aluong, mantan gubernur negara bagian Lakes Chol Tong Mayay, mantan menteri investasi Jenderal Oyai Deng Ajak, mantan menteri keadilan John Luk Jok, mantan menteri kebudayaan Cirino Iteng, dan mantan menteri telekomunikasi Madut Biar Yel.

Keberadaan mantan menteri lingkungan Alfred Lado Gore, mantan Sekjen SPLM Pagan Amum, mantan gubernur negara bagian Unity Taban Deng dan Duta Besar Yehezkiel Lol Gatkuoth masih belum diketahui.

Rebecca Nyandeng de Mabior, janda almarhum John Garang dilaporkan berada di rumahnya. Sikapnya yang beroposisi terhadap kepemimpinan Presiden Salva Kiir, seperti tokoh-tokoh lain yang ditangkap, telah tumbuh lebih kuat karena perombakan kabinet pada Juli dan Agustus melihat banyak dari mereka kehilangan posisi mereka.

Tidak jelas di mana pemerintah bermaksud untuk menahan anggota senior yang SPLM yang Kiir telah dituduh melakukan upaya kudeta terhadap dirinya pada hari Senin (16/12). Banyak laporan bertentangan versi pemerintah tentang peristiwa, mengklaim bahwa ketegangan antara kepemimpinan SPLM dalam beberapa pekan terakhir menyebar ke tentara, memicu bentrokan antara pendukung Kiir dan Machar.

“Rumah Jenderal Pieng dan Riek Machar sekarang sedang diserang oleh pasukan pengawal presiden. Mereka telah menghancurkan jendela rumah tempat tahanan disimpan. Saya tidak tahu apa yang orang-orang ini ingin melakukannya. Mungkin mereka ingin membunuh mereka. Mereka diikat di sebuah tangki”, sebuah sumber polisi mengatakan kepada Sudan Tribune, Selasa (17/12).

“Rumah Riek Machar sudah diserang dan warga sipil yang ditemukan di sana telah disiksa. Segala sesuatu di rumah telah dirusak dan dijarah,” kata pejabat, yang tidak mau disebutkan namanya, tetapi menyaksikan serangan setelah menanggapi panggilan dari warga bahwa daerah itu diserang.

Menteri Dalam Negeri Sudan Selatan, Aleu Ayeny Aleu, mengatakan pembangunan adalah bagian dari operasi keamanan untuk membersihkan area yang diduga setia kepada Machar.

“Biarkan penduduk kita tidak panik. Tidak ada pertempuran. Semuanya berada di bawah kendali sejak kemarin. Ini adalah aparat keamanan menyisir daerah yang dicurigai menjadi markas gerombolan tersebut. Mereka diburu dan diusir keluar sampai mereka dibawa ke pengadilan”, kata Aleu, Selasa (17/12).

 

Menteri Aleu tidak mengomentari mengapa rumah inspektur jenderal polisi digerebek atau pada operasi polisi dan militer (SPLA) di ibukota sejak pertempuran meletus pada Minggu malam.

Sekitar 66 mayat kini berada di Rumah Sakit Pendidikan Juba, menurut korps medis SPLA. “SPLA berencana melakukan pemakaman massal,” kata Brigjen Ajak Bullen.

PBB Lindungi 10.000 Warga Sipil di Sudan Selatan

PBB pada Selasa mengatakan bahwa mereka melindungi 10.000 warga sipil di dua pangkalan di ibu kota Sudan Selatan, Juba. PBB mendesak kelompok yang berperang di negara yang berlagu kebangsaan, “South Sudan Oyee!” ini untuk menahan diri dari aksi kekerasan etnis.

“Penting dipahami bahwa aksi kekerasan saat ini tidak diasumsikan dalam dimensi etnis,” kata perwakilan khusus dari sekretaris jenderal PBB, Hilde Johnson, dalam sebuah pernyataan.

Dia mengatakan bahwa “pada Selasa pagi, sekitar 10.000 warga sipil menerima perlindungan di dua pangkalan UNMISS di Juba,” yang dilanda oleh pertempuran selama dua hari.

“Misi ini menempuh setiap langkah yang memungkinkan untuk memastikan keselamatan mereka saat mereka berada di tempat UNMISS,” kata pernyataan tersebut.

“Pada saat persatuan di antara warga Sudan Selatan lebih dibutuhkan dibanding sebelumnya, saya meminta kepada para pemimpin negara baru ini dan semua faksi dan partai politik, serta para pemimpin komunitas untuk menahan diri untuk tidak melakukan aksi apa pun yang dapat memicu ketegangan etnis dan memperburuk aksi kekerasan,” kata Johnson.

Utusan itu juga menekankan perlunya “disiplin, komando dan kontrol dalam pasukan keamanan,” di tengah laporan tentang operasi pencarian dari rumah ke rumah yang kejam yang berlangsung di Juba.

Percobaan kudeta terhadap Presiden Kiir dipicu oleh pembubaran kabinet pada Juli lalu. Presiden dan wakil presiden adalah sama-sama menganut kekristenan. (AFP/ST)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home