Loading...
HAM
Penulis: Reporter Satuharapan 13:59 WIB | Kamis, 05 Maret 2020

PBB: Pendidikan Perempuan Meningkat, namun Masih Dibayangi Kekerasan

Ilustrasi. Gadis-gadis belajar dengan materi yang dipersiapkan oleh UNICEF di ruang belajar khusus di pengungsian Camp 18 Kutupalong di Cox's Bazar, Bangladesh, 24 Februari 2019. (Foto: The Romanian Journal/UNICEF LeMonye)

NEW YORK CITY, SATUHARAPAN.COM – Meskipun terdapat kemajuan dalam pendidikan selama 25 tahun terakhir, kekerasan terhadap wanita dan anak perempuan masih terjadi di banyak wilayah di seluruh dunia, menurut sebuah laporan yang dirilis pada Rabu (4/3) dari UNICEF, Entitas PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), dan Plan International.

Laporan yang dirilis jelang sesi ke-64 Komisi Status Perempuan pekan depan itu memaparkan jumlah anak perempuan yang putus sekolah turun 79 juta orang dalam dua dekade terakhir, dan dalam satu dekade terakhir anak perempuan memiliki kemungkinan lebih besar untuk melanjutkan ke sekolah menengah dibanding anak laki-laki.

Mereka masih lebih tidak beruntung di tingkat sekolah dasar, dengan 5,5 juta lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki yang putus sekolah di seluruh dunia, menurut laporan tersebut. Kemajuan global dalam mengurangi jumlah anak putus sekolah di tingkat dasar mengalami stagnasi, baik untuk anak perempuan maupun laki-laki sejak tahun 2007.

Saat ini terdapat sekitar 1,1 miliar anak perempuan di dunia, papar laporan setebal 40 halaman berjudul “Era Baru untuk Anak Perempuan, Merangkum Kemajuan 25 Tahun” itu.

Pada 1995, dunia mengadopsi Beijing Declaration and Platform for Action, agenda kebijakan paling komprehensif untuk kesetaraan gender, dengan visi mengakhiri diskriminasi terhadap wanita dan anak perempuan, kata laporan itu. Namun, 25 tahun kemudian, diskriminasi dan stereotip yang membatasi masih lazim ditemukan.

Harapan hidup anak perempuan semakin tinggi dengan bertambah delapan tahun, namun bagi banyak orang, kualitas kehidupannya masih jauh dari harapan, papar laporan itu.

Pada 2016, 70 persen korban perdagangan orang yang terdeteksi secara global adalah wanita dan anak perempuan, sebagian besar untuk tujuan eksploitasi seksual. Selain itu, 1 dari setiap 20 anak perempuan berusia 15-19 tahun, atau sekitar 13 juta anak perempuan, mengalami pemerkosaan dalam kehidupan mereka, salah satu bentuk pelecehan seksual paling kejam yang dapat dialami wanita dan anak perempuan, papar laporan itu. (Ant)

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home