Loading...
FOTO
Penulis: Reporter Satuharapan 13:37 WIB | Minggu, 16 Oktober 2016

PBNU: Hari Santri Bukti Kemerdekaan Bukan Hadiah

PBNU: Hari Santri Bukti Kemerdekaan Bukan Hadiah
Perwakilan Aliansi Santri Peduli Demokrasi membacakan pernyataan sikap terkait Pilkada DKI Jakarta di Tim Pemenangan Rumah Lembang, Jakarta, Jumat (14/10). Mereka menyatakan dukungan terhadap pasangan petahana, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. (Foto-foto: Antara)
PBNU: Hari Santri Bukti Kemerdekaan Bukan Hadiah
Sejumlah santri mengikuti pawai di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (13/10). Pawai yang diikuti ribuan santri tersebut, guna menyambut hari santri nasional yang jatuh pada 22 oktober.
PBNU: Hari Santri Bukti Kemerdekaan Bukan Hadiah
Sejumlah santri menulis mushaf Alquran guna menyambut Hari Santri Nasional di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (12/10). Penulisan mushaf Alquran yang dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia itu melibatkan 34 ribu santri dan di wilayang Palu sendiri melibatkan 604 orang santri dari berbagai pesantren.
PBNU: Hari Santri Bukti Kemerdekaan Bukan Hadiah
Menteri Pemuda dan Olah raga (Menpora) Imam Nahrawi duduk di atas barongan bagian kepala dhadhak merak Reog saat membuka Liga Santri Nusantara 2016 Region Jatim I di Stadion Batoro Katong, Ponorogo, Jawa Timur, Kamis (25/8). Reyog Ponorogo sering digunakan untuk menyambut tamu penting dan memberi kesempatan tamu utama untuk naik ke atas barongan dan diantar sampai lokasi acara, seperti halnya Menpora Imam Nahrawi saat membuka Liga Santri Nusantara 2016 di Ponorogo.

SURABAYA, SATUHARAPAN.COM - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Saifullah Yusuf menyampaikan Hari Santri bermakna memperkuat kenyataan bahwa Kemerdekaan Indonesia diraih bukan karena hadiah.

"Hari Santri adalah garis bawah sesungguhnya negara kita ini merdeka bukan karena hadiah, melainkan perjuangan," ujarnya ketika dikonfirmasi wartawan di Surabaya, hari Minggu (16/10).

Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober setelah Presiden Joko Widodo menetapkannya pada tahun lalu, yang salah satu alasanya karena menjadi hari heroik menandai perjuangan nasional.

Sesuai catatan sejarah, pada tanggal 22 Oktober 1945, bangsa Indonesia bahu-membahu mengusir penjajah yang kembali ingin menguasai Indonesia meski dua bulan sebelumnya terdapat deklarasi kemerdekaan.

Menurut dia, saat Presiden RI Soekarno memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, tidak sedikit negara di dunia yang masih ragu dan menganggapnya karena hadiah dari Jepang.

Karena itulah, kata dia, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menjadi bukti kemerdekaan RI adalah perjuangan rakyat sekaligus bentuk meyakinkan ke dunia bahwa bangsa ini layak merdeka.

Gus Ipul, sapaan akrabnya, berharap momentum ini dijadikan untuk meneladani para syuhada yang telah gugur berjuang dan mempertahankan Kemerdekaan RI.

"Para pahlawan saat itu bersama santri dan rakyat melawan penjajah dengan bertaruh nyawa. Tak ada alasan untuk tak meneladani jasa pahlawan kita," ucapnya.

Mantan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor itu juga mengatakan perayaan momen heroik tanggal 22 Oktober 1945 tidak lepas dari peranan santri dalam perjuangan nasional kala itu.

Saat itu, lanjut dia, terdapat komunikasi intens antara Presiden Soekarno dan KH Hasyim Asy`ari (pengasuh Pesantren Tebu Ireng) dalam mencari solusi perjuangan atas agresi pasukan sekutu, yang kemudian mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad." 

Di sisi lain, memperingati Hari Santri Nasional kali ini, diselenggarakan kirab Resolusi Jihad 2016 menempuh jarak 2.000 kilometer dengan memakan waktu sepuluh hari.

Rombongan dari Banyuwangi (13/10) menuju ke Kantor PBNU di Jakarta yang dijadwalkan tiba tepat 22 Oktober mendatang sekaligus mengikuti Upacara Hari Santri di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home