Loading...
BUDAYA
Penulis: Prasasta Widiadi 09:18 WIB | Sabtu, 09 Agustus 2014

Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti Komponis Dunia

Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti  Komponis Dunia
Pdt. Jonggi August Uluan Doloksaribu (kiri) dan Romauli boru Hutajulu. (Foto-foto: Prasasta).
Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti  Komponis Dunia
Pdt. Saut Sirait, teman dekat Pdt. J.A.U menyampaikan kesan dan pesan.
Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti  Komponis Dunia
Pdt. Daniel Harahap, teman dekat Pdt. J.A.U menyampaikan kesan dan pesan.
Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti  Komponis Dunia
Robert Nainggolan, Ketua Yamuger menyampaikan kesan dan pesan.
Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti  Komponis Dunia
Paduan Suara HKBP Tebet.
Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti  Komponis Dunia
Paduan suara HKBP Menteng.
Pdt Saut Sirait: J.A.U Doloksaribu Seperti  Komponis Dunia

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pendeta (Pdt.) Saut Sirait mengatakan sosok Pdt. Jonggi August Uluan (J.A.U) Doloksaribu merupakan sosok langka dalam dunia musik gerejawi di Indonesia karena jenius layaknya komponis dunia yang mampu menciptakan sebuah lagu dalam waktu cepat.

Saut menyatakan ini di hadapan para undangan yang hadir pada acara peluncuran buku Pdt. J.A.U Doloksaribu, M.Min yang berjudul Seribu Warna dan Nada untuk Tuhan, di Gedung Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Jumat (8/8) malam.

“Kita harus sama-sama ingat bahwa lagu di banyak negara menjadi penentu faktor sejarah. Kita pasti ingat perjuangan Martin Luther King yang membuatnya terkenal, apa coba, lagu. Gerakan Reformasi di Indonesia juga yang membuat terkenal adalah lagu. Kalau perjuangan tentara yang membuat terkenal apa, lagu,” kata Saut.

Saut menambahkan, Pdt. J.A.U adalah sosok yang unik karena dia mampu berbakat dalam dua hal yakni selain khotbah dia juga menggubah musik.

J.A.U atau yang terkadang disapa Jonggi merupakan pendeta yang kreatif, dan selalu proaktif memberdayakan seluruh kemampuan terutama dalam  seni, musikalitasnya tinggi sehingga saat membuka buku nyanyian rohani Kidung Jemaat, atau lagu-lagu untuk kebaktian di gereja berbahasa Batak, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) maka nama J.A.U Doloksaribu mudah ditemui. J.A.U yang lahir pada 1949 dari pasangan Melanchton Doloksaribu dan Heleria boru Sirait terbiasa memainkan organ sejak usia delapan tahun.

“Nah jadi sama lah abang ini seperti Bethoven, atau Sebastian Bach. Karena dia (J.A.U Doloksaribu) mampu menciptakan sejarah dalam perkembangan musik gereja, tidak hanya di gereja Batak saja tetapi di seluruh Indonesia,” lanjut Saut yang merupakan sahabat dari J.A.U Doloksaribu ini.

“Karena gereja terkadang berada dalam ketidaksadaran maka talenta seperti itu diabaikan begitu saja yang bisa menciptakan musik ini. Karena kalau ada banyak yang bisa mencipta lagu, maka akan ada kekhasan pada tiap-tiap gereja, dan ini mencirikan bahwa ada keunikan,” lanjut Saut.

Buku Seribu Warna dan Nada untuk Tuhan

Saat peluncuran buku Seribu Warna dan Nada Untuk Tuhan, turut dihadiri sejumlah kerabat Jonggi semasa dia menempuh studi teologi  di Fakultas Theologia Universitas HKBP Nommensen di Pematang Siantar pada 1960-an.

Buku yang berisi banyak tulisan mengenai Pdt. J.A.U Doloksaribu tidak hanya diisi oleh para teman dekatnya sesama pendeta, tetapi juga berisi ulasan-ulasan tentang masalah-masalah yang dihadapi gereja saat ini. Buku setebal 456 halaman ini merupakan buku yang diterbitkan oleh Departemen Pemuda dan Remaja Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).  

J.A.U yang menggemari musik dia buktikan dengan banyak mengarang lagu, termasuk lagu koor. Banyaknya lagu sebanding dengan penghargaan yang pernah dia raih pada lomba mengarang lagu gereja tingkat dunia United in Mission (UIEM).

J.A.U termasuk pendeta penerjemah paling banyak lagu-lagu gereja ke dalam bahasa Batak Toba. “Jadi setiap mendengar lagu-lagu ciptaan Jonggi, (panggilan akrab Pdt Doloksaribu) saya ingin menitikkan air mata karena berkesan,” lanjut pendeta yang pernah Saut.

Jonggi mengawali pelayanannya pada 1974, dan kini hampir 40 tahun melayani sebagai hamba Tuhan. Suka dan duka silih berganti mengiringi perjalanan kakek yang telah memiliki dua cucu ini. Dimulai vikaris di HKBP Binjai Medan. Lalu, menjadi pendeta pembantu di HKBP Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sana banyak kendala yang dihadapi. Rumah tinggalnya di Jalan Fatmawati, Gang Sawo Atas Gandaria, Kebayoran Selatan.

“Saya berpikir bagaimana kita saat ini kita dari denominasi gereja apa pun baik dari HKBP maupun bukan HKBP agar membuka peluang bagi orang-orang bertalenta khusus. Karena kalau soal khotbah biarlah banyak orang yang sudah tahu, dan paham tentang membuat urusan itu, tetapi kalau tentang musik ini aku bilang ini special gift ini, karena suara dan musik adalah talenta tersendiri,” tutup Saut.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home