Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 05:22 WIB | Minggu, 26 April 2020

Pejabat dan Tim Medis China Kunjungi Korut

Diduga mereka memberi nasihat untuk kesehatan pemimpin Korut, Kim Jong Un.
Pemimpin Korut, Kim Jong Un. (Foto: dok. Reuters)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM-China telah mengirim tim ke Korea Utara termasuk para ahli medis untuk memberi nasihat tentang pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menurut tiga orang yang mengetahui situasi tersebut dikutip Reuters.

Perjalanan para dokter dan pejabat China itu dilakukan di tengah laporan yang saling bertentangan tentang kesehatan pemimpin Korut itu. Sebuah delegasi yang dipimpin oleh seorang anggota senior dari Departemen Penghubung Internasional Partai Komunis China meninggalkan Beijing ke Korut pada hari Kamis (23/4), dua orang mengatakan.

Departemen itu adalah badan China utama yang berurusan dengan negara tetangga Korut. Pihak sumber menolak untuk diidentifikasi mengingat sensitivitas masalah ini. Dan departemen itu tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar pada Jumat (23/4) malam. Kementerian luar negeri China juga tidak menanggapi permintaan komentar.

Daily NK, situs web yang berbasis di Seoul, melaporkan awal pekan ini bahwa Kim pulih setelah menjalani prosedur operasi kardiovaskular pada 12 April. Ia mengutip satu sumber tanpa nama di Korut.

Para pejabat Korea Selatan dan seorang pejabat China di departemen penghubung menantang laporan yang menyatakan bahwa Kim dalam bahaya besar setelah operasi. Para pejabat Korsel mengatakan mereka tidak menemukan tanda-tanda aktivitas yang tidak biasa di Korut.

Pada hari Kamis, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga mengecilkan laporan sebelumnya bahwa Kim sakit parah. "Saya pikir laporan itu tidak benar," kata Trump kepada wartawan, tetapi ia menolak mengatakan apakah ia telah menghubungi pejabat Korea Utara.

Pada hari Jumat, sebuah sumber Korsel mengatakan kepada Reuters bahwa intelijen mereka menyebutkan Kim masih hidup dan kemungkinan akan segera muncul. Orang itu mengatakan dia tidak memiliki komentar tentang kondisi Kim saat ini atau keterlibatan pejabat China.

Seorang pejabat yang akrab dengan intelijen AS mengatakan bahwa Kim diketahui memiliki masalah kesehatan, tetapi mereka tidak memiliki alasan untuk menyimpulkan bahwa dia sakit parah atau akhirnya tidak mampu muncul kembali di depan umum.

Tidak Muncul Sejak 11 April

Korea Utara adalah salah satu negara di dunia yang paling terpencil dan tertutup, dan kesehatan para pemimpinnya diperlakukan sebagai masalah keamanan negara. Reuters belum dapat mengkonfirmasi secara independen setiap detail tentang keberadaan atau kondisi Kim.

Media pemerintah Korut terakhir kali melaporkan keberadaan Kim ketika dia memimpin pertemuan pada 11 April. Media pemerintah tidak melaporkan bahwa dia menghadiri acara ulang tahun kakeknya, Kim Il Sung, pada 15 April, yang merupakan acara penting di Korut.

Kim, yang diyakini berusia 36 tahun, telah menghilang dari liputan di media pemerintah Korut sebelumnya. Pada 2014, dia menghilang lebih dari sebulan dan televisi pemerintah Korut kemudian menunjukkan dia berjalan dengan pincang. Spekulasi tentang kesehatannya telah dipicu oleh kebiasaan merokoknya yang berat, kenaikan berat badan yang jelas sejak mengambil kekuasaan, dan riwayat keluarga masalah kardiovaskular.

Ketika ayah Kim Jong Un, Kim Jong Il, menderita stroke pada tahun 2008, media Korsel melaporkan pada saat itu bahwa dokter China terlibat dalam perawatannya bersama dengan dokter Prancis.

Tahun lalu, Presiden China, Xi Jinping, melakukan kunjungan kenegaraan pertama dalam 14 tahun oleh seorang pemimpin China ke Korut, negara miskin yang bergantung pada Beijing untuk dukungan ekonomi dan diplomatik.

China adalah sekutu utama Korut dan jalur kehidupan ekonomi bagi negara yang terkena sanksi berat oleh AS, dan memiliki minat yang besar terhadap stabilitas negara tetangganya itu.

Kim adalah pemimpin generasi ketiga yang berkuasa di Korut setelah ayahnya, Kim Jong Il, meninggal pada tahun 2011, karena serangan jantung. Dia telah mengunjungi China empat kali sejak 2018.

Trump mengadakan pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan Kim pada 2018 dan 2019 sebagai bagian dari upaya membujuk dia agar melepaskan persenjataan nuklir Korut. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home