Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 04:59 WIB | Senin, 04 Januari 2021

Pemerintah Tibet di Pengasingan Selenggarakan Pemilu

Pemerintah Tibet di Pengasingan Selenggarakan Pemilu
Seorang biksu Buddha Tibet di pengasingan yang mengenakan masker sebagai tindakan pencegahan terhadap virus corona memberikan suara di Dharmsala, India, hari Minggu (3/1/2021). Orang-orang Tibet di pengasingan memberikan suara pada putaran pertama untuk memilih pemimpin politik baru dan anggota parlemen Tibet. (Foto-foto: AP)
Pemerintah Tibet di Pengasingan Selenggarakan Pemilu
Lobsang Sangay, ketiga dari kanan, presiden pemerintahan Tibet di pengasingan yang menjalani masa jabatan kedua dan terakhirnya, berfoto dengan beberapa anggota kabinetnya setelah memberikan suaranya di Dharmsala, India, hari Minggu (3/1/2021).
Pemerintah Tibet di Pengasingan Selenggarakan Pemilu
Biksu dan biksuni Tibet yang diasingkan menjaga jarak sosial sebagai tindakan pencegahan terhadap virus corona saat mereka berdiri dalam antrian untuk memberikan suara di Dharmsala, India, hari Minggu (3/1/2021).

DHARMSALA, SATUHARAPAN.COM-Ratusan warga Tibet di pengasingan menantang hujan dan dingin pada hari Minggu (3/1) di kota Dharmsala di India bagian utara, tempat pemerintah yang diasingkan berbasis, untuk memilih pemimpin politik baru mereka, karena masa jabatan lima tahun pemegang jabatan saat ini mendekati akhir.

Para pemilih menggunakan masker, menjaga jarak sosial, dan menggunakan hand sanitizer saat memberikan suara pada putaran pertama pemilu. Banyak yang membantu para pemilih lanjut usia untuk mengisi formulir secara benar.

Dalam pemungutan suara tahap pertama ini, dua kandidat untuk posisi presiden akan dipilih, termasuk 90 anggota parlemen. Pemungutan suara putaran kedua dan terakhir akan berlangsung pada bulan April.

“Dengan ini kami mengirimkan pesan yang jelas ke Beijing bahwa Tibet berada di bawah pendudukan, tetapi orang-orang Tibet di pengasingan bebas. Dan diberi kesempatan, kami lebih memilih demokrasi,” kata Lobsang Sangay, yang akan segera menyelesaikan masa jabatan kedua dan terakhirnya sebagai pemimpin politik Tibet.

"Tidak peduli apa yang Anda lakukan, kebanggaan orang Tibet, perasaan orang Tibet, adalah menjadi demokratis dan mempraktikkan demokrasi," katanya.

Bangsa Yang Merdeka

Dibentuk pada tahun 1959, pemerintahan Tibet dalam pengasingan, sekarang disebut Pemerintah Pusat Tibet, memiliki cabang eksekutif, yudikatif, dan legislatif, dengan kandidat untuk jabatan sikyong, atau presiden, yang dipilih sejak 2011 dengan suara terbanyak.

China mengatakan Tibet secara historis telah menjadi bagian dari wilayahnya sejak pertengahan abad ke-13, dan Partai Komunisnya telah memerintah wilayah Himalaya itu sejak 1951.

Tetapi banyak orang Tibet mengatakan bahwa mereka secara efektif bangsa yang merdeka pada sebagian besar sejarah mereka, dan bahwa pemerintah China menginginkan untuk mengeksploitasi wilayah mereka yang kaya sumber daya dengan menghancurkan identitas budaya mereka.

Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet yang diasingkan, dan para pengikutnya telah tinggal di Dharmsala sejak mereka meninggalkan Tibet setelah pemberontakan pada tahun 1959 yang gagal melawan pemerintahan China.

Banyak pemuda Tibet yang ikut serta dalam pemilihan parlemen tahun ini. Seiring dengan bertambahnya usia Dalai Lama, ada kesadaran yang berkembang di kalangan pemuda Tibet bahwa mereka harus lebih berpartisipasi dalam pemerintahan.

“Sebagai seseorang yang telah mempelajari teknologi, saya yakin saya dapat mencoba dan membuat komunikasi parlemen lebih aman dan mengisi celah dalam basis data informasi,” kata Lobsang Sither, 48 tahun, yang ikut serta dalam pemilihan saat ini.

Sither mengatakan bahwa pemerintah sebelumnya sebagian besar berfokus pada diaspora Tibet dan tidak cukup pada orang Tibet di dalam Tibet.

“Itu harus berubah. Kecuali kami memiliki informasi yang dapat dipercaya tentang situasi di Tibet, kami tidak dapat merumuskan kebijakan untuk membantu orang Tibet di sana,” kata Sither.

China tidak mengakui pemerintah Tibet di pengasingan, dan tidak mengadakan dialog apa pun dengan perwakilan Dalai Lama sejak 2010. India menganggap Tibet sebagai bagian dari China, meski menjadi tuan rumah bagi para pengungsi Tibet.

Beberapa kelompok Tibet menganjurkan kemerdekaan bagi Tibet, karena hanya sedikit kemajuan yang dicapai dalam dialog dengan China. (AP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home