Loading...
SAINS
Penulis: Melki Pangaribuan 21:09 WIB | Selasa, 04 Agustus 2020

Pendeta Justitia: Refleksi Latih Anak Mampu Berpikir Kritis

Tangkapan layar Pendeta Justitia dalam Seminar Karakter bertajuk “Refleksi Kristiani dalam Pembelajaran Jarak Jauh” pada jenjang TK-SD BPK PENABUR melalui aplikasi Zoom dan YouTube BPK PENABUR Jakarta, hari Selasa (4/8/2020). (Foto: Dok. satuharapan.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pendeta Justitia Vox Dei Hattu, ThD, mengatakan refleksi bagian penting dari proses pembelajaran anak dan karena itu pembiasaan atasnya menjadi sangat penting sekali.

Hal itu dikatakan Pendeta Justitia dalam Seminar Karakter bertajuk “Refleksi Kristiani dalam Pembelajaran Jarak Jauh” pada jenjang TK-SD BPK PENABUR melalui aplikasi Zoom dan YouTube BPK PENABUR Jakarta, hari Selasa (4/8/2020).

“Karena dari sana sebenarnya kita bisa melatih anak dan mendorong anak untuk punya kemampuan berpikir kritis. Ini salah satu yang dibutuhkan sebagai modal kehidupan untuk ada di zaman ini dan waktu waktu selanjutnya,” kata Justitia.

Menurut Dosen STFT Jakarta Bidang Pendidikan Kristiani itu, refleksi merupakan sebuah bagian yang sangat integral dari proses pembelajaran.

“Jadi dia (refleksi) tidak hanya sekadar sisipan. Dia tidak hanya sekadar untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Dia tidak hanya sekadar untuk melengkapi supaya kurikulum kita paling tidak ada dimensi reflektifnya atau dia tidak hanya sekadar pelengkap di dalam rencana pembelajaran kita. Karena refleksi ini bagian yang sangat integral maka kita perlu mengelolanya dengan baik,” kata Justitia.

Ketua Program Magister STFT Jakarta itu merujuk tiga dimensi pendidikan karakter yang diperkenalkan oleh Doni Kusuma yaitu olah pikir, olah rasa, dan olah raga ketika berbicara tentang tujuan dari pendidikan refleksi kristiani ini.

“Saya kira idealnya sebuah proses pendidikan itu harus menyentuh tiga ranah itu,” katanya.

Tenaga Utusan Gereja untuk STFT Jakarta itu menilai bahwa kita seringkali mengutamakan pada ranah kognitif, berpikir saja, dan pengetahuan saja. Lalu kita melupakan bahwa rasa itu juga penting, keinginan anak atau yang mendorong anak untuk sampai pada melakukan sesuatu itu juga penting.

“Tiga dimensi ini perlu diperhatikan sekali ketika kita mau melakukan refleksi Kristiani sebagai bagian yang integral dari proses pendidikan kita,” kata wanita yang lahir di Ambon itu.

Pendeta Gereja Protestan Maluku (GPM) itu mengatakan bahwa guru tidak perlu terburu-buru dalam melalukan proses berefleksi. Guru melatih anak untuk berdiam sejenak, mengingatkan kembali apa yang sudah dipelajari, lalu kira-kira dia mendapatkan apa untuk dirinya.

“Bagaimana dia menghubungkan pengalaman-pengalamannya. Bagaimana dia belajar sesuatu dari materi yang sudah disampaikan tetapi juga dikaitkan dengan karakter yang mau dikembangkan melalui pelajaran tersebut,” katanya.

Kepala Unit Bengkel Pendidikan STFT Jakarta itu mendefinisikan secara sederhana bahwa refleksi merupakan sebuah ruang bagi siswa-siswi kita secara khusus TK dan SD mengekspresikan apa yang dia pelajari, apa yang dia ketahui, apa yang dia rasakan.

“Kesemuanya itu berhubungan dengan pengalaman personal dan atau pengalaman komunal. Jadi dia bisa mengaitkannya dengan pengalaman hari-harinya dia, entah dalam lingkungan sekolah juga tapi bisa juga dengan pengalaman yang dia alami, misalnya di rumah atau dalam lingkungan pergaulan dengan teman-teman yang lain,” kata Justitia.

Seminar Karakter bertajuk “Refleksi Kristiani dalam Pembelajaran Jarak Jauh” pada jenjang TK-SD BPK PENABUR itu dapat disaksikan secara lengkap melalui YouTube BPK PENABUR Jakarta di bawah ini.

 

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home