Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 16:12 WIB | Senin, 24 September 2018

Pendidikan Karakter

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

SATUHARAPAN.COM - Australia Open 2017. Court 2. Alex de Minaur (petenis remaja tuan rumah) vs Sam Querrey (unggulan 31 asal amerika.

 

Set 1, ketat, Minaur kalah 6-7 (tie break). Set 2, Minaur kalah telak 0-6. Set 3 (saat saya mulai menonton) Minaur ketinggalan 0-5 (di babak 2 penyisihan, di luar pertandingan di Rod Raver dan Margaret Court Arena, kita bisa pilih pertandingan siapa yang mau ditonton).

 

Yang menarik adalah dukungan penonton terhadap Minaur yang tak pernah kendor (teriak memberi semangat, bertepuk tangan, mengacung-acungkan kertas bertulisan nama Minaur); bahkan pun di detik-detik kekalahan Minaur di set ke-3. Ketika akhirnya Minaur kalah 1-6, dan berjalan keluar lapangan, penonton memberi applause panjang dan standing ovation.

 

Dalam dunia pendidikan, inilah salah satu bentuk "pendidikan karakter". Upaya, kerja keras, dan ketekunan anak tetap diapresiasi tinggi walau hasilnya tak seperti yang kita harap. 

 

Jadi teringat cerita seorang teman. Saat awal ia di Australia, anaknya yang SD mendapat tugas mengarang di sekolahnya. Walau karangan sang anak, menurut ukuran teman saya itu, Inggrisnya berantakan, tapi oleh gurunya diberi nilai excellent. Waktu teman saya "protes", gurunya menjawab, "Your child hasn't been in this country long, and English is not his native language. the fact that he can write in English like that, its already really good."

 

Begitulah pendidikan karakter; ia tidak hanya berfokus pada hasil, dan abai terhadap proses. Sayang, tidak jarang orang tua baru tergerak memuji anak, hanya kalau nilainya bagus (menurut ukurannya pula). Kalau nilainya jelek, langsung diomelin bahkan dijewer.

 

Ini tidak hanya menyangkut nilai di sekolah, tapi juga dalam keseharian. 

 

 

Editor: Tjhia Yen Nie


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home