Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:23 WIB | Jumat, 17 Januari 2020

Peneliti Australia Temukan Uji Miopia yang Lebih Cepat

Miopia adalah salah satu gangguan mata paling umum di dunia. Sekitar 22 persen dari populasi global atau 1,5 miliar orang menderita miopia. (Foto: allaboutvision.com)

CANBERRA, SATUHARAPAN.COM – Para peneliti Australia mengembangkan pengujian yang lebih cepat dan murah untuk kondisi penglihatan yang paling umum di dunia.

Tim dari Universitas Flinders di Australia Selatan (SA) pada Rabu (15/1), mengungkapkan bahwa mereka telah menemukan metode baru dalam mengidentifikasi miopia.

Biasa dikenal sebagai rabun dekat, miopia dapat merusak mata dan bahkan menyebabkan kebutaan jika tidak ditangani.

Mereka menemukan bahwa tomografi koherensi optik (optical coherence tomography/OCT), sebuah perangkat yang tersedia di kebanyakan praktik optometri, dapat menemukan sejumlah permasalahan pada mata yang disebabkan oleh miopia.

Selain lebih terjangkau, OCT juga lebih murah dibandingkan dengan metode-metode lain untuk mengidentifikasi myopia, seperti pencitraan resonansi magnetik (magnetic resonance imaging/MRI).

"Kami bekerja menggunakan OCT, dan menemukan kelainan-kelainan pada skala ini yang berkorelasi dengan ukuran mata, dan juga tingkat miopia," kata Stewart Lake, ahli mata dari Universitas Flinders, dalam sebuah rilis media.

"Ini mungkin dapat membantu dalam pengawasan, pengukuran, dan pemeriksaan efek miopia, serta bagaimana hal itu dapat menyebabkan hilangnya penglihatan," katanya.

Sekitar 22 persen dari populasi global atau 1,5 miliar orang menderita miopia.

Meskipun kondisi tersebut dapat dikoreksi dengan kacamata atau operasi LASIK (laser-assisted in situ keratomileusis), namun miopia tetap menjadi epidemi global.

Estimasi menunjukkan bahwa hingga 5 miliar orang akan menderita miopia pada 2050 mendatang, 1 miliar di antaranya akan menderita miopia parah.

Tingkat keparahan miopia diukur dengan kekuatan lensa yang dibutuhkan untuk memperbaiki penglihatan pasien.

Menurut tim dari Universitas Flinders tersebut, miopia parah meningkatkan risiko terkena glukoma, ablasi retina, degenerasi makula, dan katarak, yang semuanya dapat menyebabkan hilangnya penglihatan secara permanen. (Xinhua/Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home