Loading...
EKONOMI
Penulis: Martha Lusiana 16:28 WIB | Rabu, 29 Juli 2015

Pengamat: Bea Masuk Bisa Turunkan Laju Impor Tiongkok

Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE), Mohammad Faisal. (Foto: Martha Lusiana).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Terkait dengan kenaikan bea masuk impor yang baru-baru ini ditetapkan oleh Kementerian Keuangan, pengamat ekonomi menilai hal tersebut seharusnya menjadi salah satu solusi untuk menahan laju impor manufaktur asal Tiongkok.

“Kenaikan biaya impor untuk manahan laju masuknya barang-barang manufaktur Tiongkok itulah yang diperlukan,” ujar Ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE), Mohammad Faisal, dalam diskusi Managing Economic Slowdown di Jakarta, hari Selasa (28/7).

Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa situasi ekonomi global saat ini mengalami tren pelambatan. Di satu sisi ekonomi Tiongkok melambat dalam beberapa tahun, namun di sisi lainnya Amerika Serikat (AS) menunjukkan kondisi yang membaik sehingga membuat nilai tukar rupiah semakin tertekan terhadap dolar AS. Kondisi ini memengaruhi nilai ekspor Indonesia.

Menurut data Badan Pusat Statistik, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia pada Januari-Juni 2015 mencapai 78,29 dolar AS. Jumlah tersebut turun 11,86 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2014. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai 68,30 dolar AS atau menurun 6,62 persen.

Berdasarkan sektornya, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan pada periode Januari-Juni 2015 turun sebesar 6,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2014, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 9,80 persen, sementara ekspor hasil pertanian naik sebesar 1,35 persen.

Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Ekspor nonmigas ke AS pada Juni 2015 mencapai angka terbesar yaitu 1,38 miliar dolar AS, disusul Tiongkok 1,23 miliar dolar AS.

Melihat kondisi tersebut, Faisal mengatakan, Indonesia harus lebih banyak melakukan diversifikasi barang dagang dan negara tujuan ekspor. Menurutnya, Indonesia harus bisa melihat peluang pasar sehingga kinerja ekspor tidak terlalu turun.

Selain itu, ia melanjutkan, negara ini kalah dengan Tiongkok dari sisi manufaktur. Artinya, dalam kondisi harga komoditas Indonesia yang semakin turun, industri manufaktur harus ditingkatkan dan dijaga agar tidak terus-menerus mengandalkan impor dari Tiongkok. Faisal melihat manufaktur bisa menjadi tumpuan dalam menopang perekonomian nasional sebab industri tersebut tidak telalu berdampak pada kondisi global karena ada faktor kreativitas di dalamnya.

“Sisi persaingan dagang untuk manufaktur, terutama dalam negeri, juga harus dijaga,” ujar Faisal.

Selain dimaksudkan untuk menahan, ia juga mengingatkan perlunya penyesuaian antara biaya masuk barang impor dan kondisi pengembangan industrinya. “Bea masuk impor harus disesuaikan dengan pengembangan industrinya. Kita membangun manufaktur prioritasnya yang mana,” kata faisal yang juga menyinggung perlunya mempertimbangkan sektor hulu dan hilir.

“(Prioritas) itu menentukan bea impor mana yang akan naik dan sampai kapan (peraturan) itu dipertahankan,” ujar dia melanjutkan. 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home