Loading...
EKONOMI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 14:10 WIB | Sabtu, 16 Mei 2015

Pengamat Ingatkan Penyediaan Stok Sembako Tekan Inflasi

Ilustrasi salah satu kebutuhan pokok yang penyediaannya harus stabil untuk menekan risiko inflasi. (Foto: Dok.satuharapan.com/Elvis Sendouw)

DENPASAR, SATUHARAPAN.COM – Pengamat Ekonomi dari Universitas Udayana, Denpasar, Prof Dr Wayan Ramantha, mengingatkan kepada pemerintah daerah menjaga penyediaan stok dan distribusi sembilan bahan pokok untuk menekan risiko inflasi yang diprediksi terjadi pada triwulan II/2015.

"Kami harapkan pemerintah menjaga stok dan kelancaran barang baik secara riil atau psikologis dan memastikan stok pangan aman. Operasi pasar lebih akan membantu menenangkan masyarakat," kata dia di Denpasar, Sabtu (16/5).

Meskipun pemerintah dan instansi terkait optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua akan lebih baik dari sebelumnya, dia mengingatkan agar hal itu tidak membuat pihak terkait terlena.

"Bukan berarti karena itu boleh tenang-tenang saja. Peningkatan (pertumbuhan ekonomi triwulan II) disebabkan oleh konsumsi rumah tangga bukan investasi," kata dia menegaskan.

Dengan meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga ditambah dengan adanya momentum Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Galungan dan Kuningan, tahun ajaran baru sekaligus libur sekolah, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Udayana itu memprediksi akan terjadi inflasi.

"Peningkatan ekonomi yang tidak seberapa dan signifikan, tidak ada artinya jika ada peningkatan inflasi, apalagi dalam persentase lebih tinggi. Misalnya inflasi naik satu persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi hanya 0,5 persen saja. Itu artinya pertumbuhan yang tidak berkualitas," kata dia.

Dengan meningkatnya permintaan pada momentum hari besar keagamaan dan musim liburan pada Juni-Juli itu maka diharapkan pemerintah menjaga kelancaran suplai.

Terkait melambatnya pertumbuhan ekonomi triwulan I/2015, lanjut dia, disebabkan oleh belum terserapnya APBD di daerah, padahal menurut dia, belanja daerah di saat perlambatan ekonomi akan menjadi stimulus pertumbuhan ekonomi.

"Padahal belanja pemerintah di situasi ekonomi melemah sebenarnya merupakan stimulus yang semestinya dipercepat, itu akan bantu pertumbuhan sesuai target. Pelambatan disebabkan dari sektor pemerintah," kata dia.

Ramantha menuturkan bahwa dari sektor swasta telah menopang pertumbuhan ekonomi dengan meningkatnya pendapatan sub-sektor akomodasi dan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara yang mencapai 17 persen.

"Jika saja disertai stimulus pemerintah, pertumbuhan ekonomi bisa jadi lebih dari 6,2 persen, misalnya pada angka 6,4 persen," kata dia.

Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan pertama tahun 2015 ini mencapai 6,2 persen, lebih rendah dibandingkan periode sama tahun 2014 yang mencapai 6,55.

Meski pertumbuhan itu di atas rata-rata nasional yang mencapai 4,7 persen, namun Ramantha menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata itu sesuai dengan target Pemerintah Provinsi Bali yakni pada kisaran 6,2-6,5 atau pada posisi terendah dari target.

"Pencapaian target pertumbuhan pada level terendah itu artinya tidak ada pertumbuhan yang baik," kata dia. (Ant)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home