Loading...
EKONOMI
Penulis: Eben Ezer Siadari 12:48 WIB | Selasa, 19 Mei 2015

Pengusaha Malaysia Kritik Indonesia Tidak Serius Dukung MEA

Datuk Seri Nazir Razak, chairman CIMB Group Holdings Bhd (Foto: thestar.com.my)

SINGAPURA, SATUHARAPAN.COM - Pengusaha Malaysia mengeritik sikap pengusaha dan pemerintah Indonesia yang dinilai tidak antusias mewujudkan pasar tunggal ASEAN dalam kerangka Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang diharapkan berlaku mulai akhir tahun ini.

Jika negara-negara lain di Asean dipandang cukup serius untuk menghalau berbagai rintangan demi terwujudnya pasar tunggal itu sebagai basis produksi di kawasan, sikap Indonesia dipertanyakan sehubungan dengan responnya yang dinilai  hangat-hangat kuku.

Kritik ini disampaikan oleh chairman CIMB Group Holdings Bhd, Datuk Seri Nazir Razak di Singapura belum lama ini.  

"Asean tidak ada artinya tanpa Indonesia," kata Nazil, yang juga co-chair Asean Business Club (ABC), sebuah asosiasi para pemimpin bisnis di Asean.

Akhir pekan lalu, ABC mengadakan pertemuan tahunan yang ketiga, yang bertujuan untuk mempertemukan para pemimpin dari  sektor publik dan swasta di seluruh wilayah Asean untuk mempromosikan inisiatif AEC .Hanya saja,  tidak adanya delegasi dari Indonesia di forum ini meningkatkan keraguan atas komitmen negeri ini untuk mewujudkan MEA.

Nazir mengatakan Indonesia sangat penting bagi Asean. Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US $ 870 miliar,  Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN. Indonesia juga menawarkan ukuran pasar terbesar di wilayah Asean dengan populasi yang mencapai 250 juta jiwa.

"Saya berharap Indonesia akan memimpin dalam mendorong inisiatif MEA," kata Nazir, sebagaimana dikutip oleh thestar.com.my.

Nazir cukup cemas karena ia menilai Presiden Joko Widodo sampai sejauh ini belum mengungkapkan pernyataan yang tegas akan dukungannya terhadap MEA.

"Komitmen Indonesia terhadap MEA telah ambigu (di bawah kepemimpinan saat ini) ... kami menunggu Jokowi untuk secara resmi menyatakan sikapnya pada MEA."

Nazir mengungkapkan tidak seperti pendahulunya, yang jelas lebih mendukung integrasi ekonomi regional, Jokowi, yang menjabat Oktober lalu, belum menunjukkan banyak minat dalam MEA, yang secara kolektif diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan 10 negara anggota Asean.

MEA sebagai pasar tunggal Asean awalnya diharapkan menjadi pasar dan basis produksi tunggal di Asean dengan pergerakan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja dan modal. Sejatinya, pasar tunggal itu diharapkan terwujud pada akhir tahun ini.

Namun, mengingat tingkat implementasi  inisiatif MEA saat ini baru 90.5 persen di masing-masing negara, diakui bahwa integrasi penuh MEA tidak akan terwujud akhir tahun ini. Masing-masing negara dewasa ini sedang mengejar tingkat implementasi sampai 95 persen akhir tahun ini.

Menurut Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia, Datuk Seri Mustapa Mohamed,  pembuat kebijakan Asean harus menunjukkan kemauan politik yang lebih besar dalam mengatasi berbagai masalah seperti kesenjangan perkembangan pembangunan di antara 10 negara anggota, untuk mempercepat proses integrasi regional.

"Sementara kami telah membuat kemajuan yang signifikan terhadap mengintegrasikan ekonomi kita, masih ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," kata Mustapa dalam pidatonya di baru-baru ini ABC Forum.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home