Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 11:30 WIB | Jumat, 06 April 2018

Pengusaha Nigeria Ubah Sampah Plastik Jadi Produk Mode

Olayemi Samson (kiri), mendaur ulang limbah plastik menjadi produk mode jas hujan, sepatu, tas, dan pelindung atap mobil. (Foto: Gist Reel)

LAGOS, SATUHARAPAN.COM – Olayemi Oluwabamigbe Samson, pengusaha Nigeria, mengubah sampah plastik menjadi jas hujan, tas sekolah, pelindung atap mobil, dan sepatu. Dia melakukannya sebagai sumbangannya untuk melawan polusi dan mempromosikan daur ulang dengan mengubahnya menjadi sebuah mode baru. Tetapi, tidak semua orang dapat menerima hal itu sebagai sebuah mode.

“Saya melihat setiap hari lebih dari 27 juta kantong plastik berisi limbah air berserakan di jalan. Jadi, saya mulai bertanya pada diri sendiri, sampah ini, memerlukan waktu 20 hingga 30 tahun sebelum membusuk dan kemana nanti tujuan akhir sampah ini?” kata Olayemi, mengawali ceritanya kepada reporter VOA Mariama Diallo.

Ketika itulah terpikir oleh Olayemi yang berlatar belakang pendidikan teknik mesin, menurut nairaland.com, tentang cara mengubah problem lingkungan ini menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Ia menggali ilmu tentang daur ulang dari perusahaan yang bergerak dalam daur ulang Ominik Ltd, yang sudah memproduksi barang-barang seperti tas, sepatu, penutup mobil, dan jas hujan. Ia lalu pergi ke tempat pembuangan sampah untuk memungut beberapa kantong air itu, kemudian mencuci dan mensterilkannya sebelum menerapkan keterampilannya dalam mengubah kantong-kantong plastik itu menjadi tas sekolah, topi untuk mandi, dan bahkan pelindung atap mobil supaya terhindar dari sinar matahari.

“Beberapa orang semula sangat skeptis akan hal ini. Ketika orang-orang mulai memakai tas sekolah, dan mantel hujan itu, barang itu menjadi favorit,” kata Olayemi kepada Diallo. Mereka tertanya-tanya, dan mengatakan hanya kreativitas yang mampu menyulap sampah itu menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Namun, tidak semua orang antusias dengan gagasan menggunakan-ulang kantong-kantong plastik sebagai pakaian. Contohnya, Emmanuel Itiniyi, warga Lagos.

“Saya tidak bisa menggunakannya karena kantong plastik air ini kotor. Itu tidak baik. Ini adalah suatu produk dari sampah. Saya tidak akan membiarkan anak saya memakainya sebagai pakaian atau tas untuk ke sekolah,” kata Emmanuel Itiniyi.

Victor Anyaese, juga warga Lagos, berbeda pendapat. Ia bisa menggunakannya karena setelah melihat gambarnya tampak bagus. Tetapi, bergantung pada kemana ia akan bepergian. Ia hanya mengenakannya di tempat-tempat bersantai, namun tidak kalau untuk menghadiri pertemuan.

Diallo, megutip laporan Bank Dunia tahun 2011, menyebutkan di Lagos 9.000 ton sampah menumpuk setiap hari. Olayemi Samson, yang bisnisnya belum berlaba, berharap dapat menjadi inspirasi bagi kaum muda dan mereka yang berwenang dalam urusan melindungi lingkungan hidup. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home