Loading...
BUDAYA
Penulis: Sabar Subekti 10:19 WIB | Jumat, 12 November 2021

"Penyalin Cahaya" Raih 12 Piala Citra FFI 2021

 "Penyalin Cahaya" Raih 12 Piala Citra FFI 2021
Sutradara Wregas Bhanuteja (ketiga kiri, bawah) dan jajaran produser serta aktor dan aktris film “Penyalin Cahaya” berpose usai meraih penghargaan Film Panjang Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2021 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (10/11). (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)
 "Penyalin Cahaya" Raih 12 Piala Citra FFI 2021
Wregas Bhanuteja. (Foto: dok. Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM-Film “Penyalin Cahaya” arahan sutradara Wregas Bhanuteja, meraih 12 Piala Citra di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2021.

Sutradara muda (29 tahun) ini mengatakan, regenerasi di dunia perfilman mampu memicu semangat dan mempertahankan kekuatan di industri ini. "Ini (kehadiran sineas muda) adalah suatu gambaran regenerasi. Film-film kita dari zaman Usmar Ismail sampai sekarang bisa bertahan karena adanya regenerasi," kata pria yang mengenyam pendidikan di Fakultas Film dan TV, Institut Kesenian Jakarta, jurusan penyutradaraan film.

"Penyalin Cahaya" merupakan film panjang pertama yang ia sutradarai, setelah sebelumnya ia hanya mengarahkan film-film pendek, seperti "Lemantun" (2014) dan "Prenjak." Itu membuatnya menjadi sutradara Indonesia pertama yang memenangkan penghargaan Cannes Film Festival untuk film pendek itu.

"Penyalin Cahaya" digarap di tengah pandemi, bersama dengan para pemain dan kru yang semuanya orang Indonesia. "Ini adalah awal baru meskipun film ini lahir di tengah pandemi, namun kami bisa melewati dengan baik. Tantangan apa pun ke depannya kita pasti bisa lalui juga," kata pemuda asal Yogyakarta itu.

"Penyalin Cahaya" menceritakan seorang mahasiswa universitas tahun pertama, Sur, pergi ke pesta untuk pertama kalinya dalam hidupnya untuk merayakan pencapaian Mata Hari, grup teater universitas tempat Sur menjadi sukarelawan sebagai perancang web.

Hidup benar-benar berubah untuk Sur setelah dia bangun keesokan paginya. Dia kehilangan beasiswa dan diusir oleh keluarganya setelah selfie-nya beredar secara online.

Khawatir bahwa dia mungkin menjadi bahan lelucon oleh anggota senior Mata Hari, Sur mencari bantuan dari teman masa kecilnya, Amin, yang bekerja dan tinggal di toko fotokopi dekat kampus.

Bersama-sama, di toko, mereka mencoba menemukan kebenaran tentang selfie dan tentang malam di pesta dengan meretas ponsel mahasiswa.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home