Loading...
INDONESIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:45 WIB | Jumat, 11 Juli 2014

Perbedaan Hasil Hitung Cepat Cederai Kaidah Survei

Seorang pendukung pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa berdoa saat menyaksikan hitung cepat hasil pemungutan suara Pilpres di Rumah Polonia, Jakarta, Rabu (9/7). KPU akan mengumumkan hasil pemenang Pilpres pada 22 Juli mendatang (Foto: antaranews.com)

DEPOK, SATUHARAPAN.COM - Direktur Lingkar Studi Efokus, Rizal E Halim mengatakan, perbedaan hasil hitung cepat atau "quick count", yang dirilis oleh sejumlah lembaga survei, setelah Pilpres 9 Juli 2014, telah mencederai kaidah dan etika penyelenggaraan survei.

"Setidaknya tiga hal mendasar yang perlu dikritisi dari quick count Pilpres 2014," kata Rizal, yang juga peneliti di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), menanggapi perbedaan hasil hitung cepat pilpres 2014 di Depok, Jabar, Jumat (11/7).

Pertama, katanya motif yang dikedepankan, tidak lagi bersifat memberi informasi yang sebenar-benarnya (objectivity and truth). Kedua lanjut dia, mengabaikan faktor etika, yang selama ini dijaga oleh mereka yang benar-benar peneliti.

Sedangkan ketiga, komersialisasi survei khususnya di bidang politik, telah mencoreng aktivitas survei, yang selama ini banyak dijadika acuan, untuk memperbaiki peradaban manusia.

"Kemurnian, obyektivitas dan kebenaran yang menjadi tujuan sebuah survei, telah diperkosa secara massal oleh lembaga survei," ucapnya, menegaskan.

Ia mengatakan, untuk mengatasi persoalan hitung cepat, sebaiknya KPU melarang lembaga survei, yang tidak mampu menunjukkan kaidah dan keahlian dibidang survei, untuk merilis hasil-hasil yang menyesatkan.

Selain itu, ada baiknya lembaga-lembaga survei komersil tidak dijadikan konsumsi publik lagi, cukup untuk konsumsi klien saja.

Jika ingin menggunakan quick count, tunjuk para peneliti yang memang ahli dari sejumlah universitas nasional, dan diberi tugas oleh KPU. Jadi quick count disediakan oleh KPU sebelum rilis resmi "real count".

Rizal juga menjelaskan, hasil hitung cepat merupakan prediksi jadi bisa benar bisa juga salah, untuk itu seharusnya tidak dijadikan dasar sebagai pemenang pilpres.

Pilpres 9 Juli 2014 diikuti dua pasangan capres-cawapres, yaitu Prabowo Subianto - Hatta Rajasa dan Joko Widodo -Jusuf Kalla. (Ant)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home