Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 16:39 WIB | Senin, 31 Oktober 2016

Peringati Reformasi Protestan, Paus Fransiskus Bertolak ke Swedia

Petugas kepolisian berjaga di depan rumah Kerajaan Swedia di Lund, Swedia hari Minggu (30/10). Keluarga Kerajaan akan menyambut Paus Fransiskus dan sejumlah tokoh agama lainnya hari Senin (31/10). (Foto: dailymail.co.uk)

LUND, SATUHARAPAN.COM – Paus Fransiskus berangkat ke sebuah kota di sebelah selatan Swedia, Lund untuk menandai ulang tahun ke-500 dari Reformasi Protestan.

Sebuah sikap, yang menurut Daily Mail hari Senin (31/10), merupakan sikap yang sangat berani mengingat perintah agama agar membela iman melawan ajaran Martin Luther lima abad yang lalu yang dianggap “sesat”.

Sementara kunjungan awalnya dianggap sebagai sebuah hal yang kurang disetujui, gereja Vatikan dan Lutheran bersikeras bahwa acara hari Senin (31/10) bukan perayaan pemberontakan Martin Luther.

Sebaliknya, mereka mengatakan, itu adalah peringatan serius meminta pengampunan karena telah terjadi perpecahan dalam agama Kristen di Barat, di sisi lain bersuka cita bahwa hubungan telah membaik dalam lima dekade terakhir.

Paus Fransiskus memprioritaskan pertemuan ini sebagai sebuah momen yang sangat simbolis guna menunjukkan walau terdapat perbedaan dogma secara mendasar, umat Kristen harus bekerja dan berdoa bersama, terutama pada saat terjadi penganiayaan agama.

“Jika kita tidak melakukannya, kita orang Kristen menyakiti diri kita sendiri dengan pembagian,” kata Fransiskus dalam sebuah wawancara pekan ini dengan jurnal Jesuit.

Setelah bertemu dengan perdana menteri dan bangsawan Swedia hari Senin (31/10), Paus Fransiskus berpartisipasi dalam doa ekumenis di katedral Lutheran di Lund, di Swedia sebelah selatan. Selain itu ada juga kepala Lutheran World Federation, Uskup Munib Younan.

Delegasi dari Vatikan dan Lutheran yang bersama-sama menaiki  bus – perjalanan tersebut disebut juga dengan perjalanan ekumenis – karena acara tersebut menyoroti hubungan kedua gereja yang menjunjung perdamaian dan upaya kemanusiaan. Selain itu ada juga perwakilan dari imigran dan uskup Katolik dari Aleppo, Suriah yang juga akan menyampaikan materi.

Paus Fransikus hari Selasa (1/11) akan meneruskan perjalanannya di Swedia dengan berpartisipasi dalam misa Katolik di stadion milik klub Malmo.

Kedatangan Paus Fransiskus ke Swedia sempat menuai perdebatan karena sekelompok kecil komunitas Katolik mengeluh karena Paus Fransiskus dianggap tidak mempedulikan mereka, karena Paus Fransiskus dianggap hanya mementingkan komunitas Protestan.

“Saya bersikeras ingin menjadi saksi ekumenis,” kata Paus Fransiskus.

“Saya berpikir tentang peran saya sebagai pendeta kelompok Katolik dan saya memimpin satu Misa ekstra,” kata dia. 

Reformasi Protestan dimulai pada tahun 1517 setelah Luther memaku lebih dari 95 tesis di pintu gereja di kota Wittenberg, Martin Luther melancarkan kritik dan menganggap gereja Katolik melakukan pelanggaran, terutama penjualan indulgensi (surat pengampunan dosa).

Paus Leo X dikucilkan, tapi gereja tidak bisa menghentikan persebaran ajaran-ajarannya di seluruh Eropa utara atau dunia. Katolik menganiaya Protestan dan sebaliknya selama ratusan tahun.

Santo Ignatius Loyola mendirikan ordo Yesuit pada tahun 1537, 20 tahun setelah Luther melayangkan protes, sebagai tanggapan terhadap ajaran sesat yang dipromosikan, seorang sejarawan gereja, Pendeta Charles Connor yang dia tulis dalam “Defenders of the Faith in World and Deed.”

“Karya Yesuit dalam mempertahankan iman harus dilihat sebagai sebagai semangat Kontra-Reformasi,” kata Connor dalam tulisannya.

“Waktu memanggil kita semua untuk mempertahankan semangat iman, dan saatnya kita menghadirkan semangat pembaruan Katolik,” kata dia.

Beberapa tahun yang lalu, Paus Fransiskus menentang tegas keberadaan kelompok reformis Protestan. Tapi seiring waktu, Paus Fransiskus mengucapkan banyak pujian jasa Martin Luther.

Dia baru-baru menyebut teolog asal Jerman tersebut sebagai pembaharu di zamannya.  

“Ada korupsi di gereja, ada nafsu keduniawian, ada keterkaitan atas uang dan kekuasaan," kata Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus mengalamatkan kritik tersebut kepada sejumlah pemimpin gereja Katolik di abad ke-21.  (dailymail.co.uk)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home