Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:04 WIB | Senin, 22 Februari 2016

Permintaan Aborsi Perempuan Hamil di Amerika Latin Meningkat

Seorang ahli saraf di rumah sakit di Campina Grande, Brasil meneliti bayi yang lahir dengan mikrosefali, pada Kamis (18/2) (Foto: news.com.au/AP Felipe)

AMERIKA LATIN, SATUHARAPAN.COM - Wanita hamil di Amerika Latin takut melahirkan bayi yang cacat karena virus zika, dan meminta pil untuk aborsi, padahal melakukan aborsi adalah perbuatan ilegal di negara mereka.

Beberapa ibu mengatakan, mereka sudah dinyatakan positif zika, sementara yang lain mengekspresikan ketakutan tertular penyakit yang telah dikaitkan dengan mikrosefali itu, yang menyebabkan kepala berukuran dan kerusakan otak.

Para wanita dari negara-negara seperti Brasil, Kolombia, Venezuela, Peru, dan El Salvador, telah mengirimkan ratusan email untuk Women on Web, sebuah kelompok yang berbasis di Kanada, yang  bertujuan menolong perempuan yang akan melakukan aborsi di negara-negara yang melarang aborsi, seperti dilaporkan Washington Post.

Hukum terhadap aborsi berbeda di setiap negara. El Salvador melarang aborsi, termasuk untuk kasus-kasus pemerkosaan dan inses. Sementara Kolombia mengizinkan, ketika janin menampilkan tanda-tanda cacat parah.

Virus zika telah memicu perdebatan sengit di negara-negara mayoritas Katolik. Tetapi, wanita banyak yang telanjur putus asa, dan tidak menunggu undang-undang yang harus diubah, bahkan memohon bantuan pil aborsi dengan mengirim email ke situs Women on Web. 

Kelompok Women on Web didirikan pada 2005 oleh Dr Rebecca Gomperts, seorang dokter Belanda, dan telah mengirimkan Mifepristone dan Misoprostol (obat aborsi) untuk perempuan di seluruh dunia selama lebih dari 10 tahun.

Jumlah perempuan Brasil yang menghubungi Women on Web meningkat menjadi hampir tiga kali lipat, yaitu dari 100 orang pada minggu pertama bulan Desember sebelum virus ini mewabah di masyarakat, menjadi 285 orang pada minggu pertama bulan Februari.

"Ketika zika menjadi berita yang besar, kita melihat segera peningkatan jumlah permintaan dari negara-negara yang terpapar virus zika," katanya kepada Washington Post, seperti dikutip dari news.com.au.

"Kami pikir itu terkait dengan virus wabah zika. Kita tidak bisa menjelaskannya dengan cara lain. Mungkin banyak perempuan yang mencari layanan aborsi sekarang. Perempuan yang sedang hamil dan menduga mereka terpapar virus zika, dan mereka hanya tidak ingin mengambil risiko memiliki bayi mikrosefalik."

"Kami khawatir perempuan ini akan beralih ke metode aborsi yang tidak aman, sementara kita dapat membantu mereka dengan, aborsi medis yang aman."

Dr Gomperts menceritakan dan membagi beberapa email yang dikirim yang berisi ungkapan kesedihan dan keputusasaan .

"Saya terpapar virus zika empat hari yang lalu, dan saya baru mengetahui kehamilan saya berusia  6 minggu. Saya memiliki anak yang saya cintai. Saya mencintai anak-anak. Tapi saya tidak percaya itu adalah keputusan yang bijaksana, untuk menjaga bayi yang akan menderita. Saya perlu aborsi. Saya tidak tahu siapa yang berpaling. Tolong bantu saya segera," demikian pengakuan seorang perempuan yang hamil dan mengirim email kepada Dr Gomperts.

Banyak dari perempuan hamil yang telah diuji positif terpapar virus zika, sehingga tidak bisa bepergian, atau mendapatkan pil aborsi.

"Saya terpapar virus zika dan tidak bisa meninggalkan negara ini!" Tulis seorang wanita yang mencari pil.

Seorang perempuan lainnya mengatakan, dia berhasil memperoleh Misoprostol di pasar gelap, tetapi tidak yakin bagaimana untuk mengambil obat tersebut. Perempuan lainnya mengatakan, mereka tidak diuji dan beberapa mengatakan mereka tidak percaya diagnosis dokter mereka.

Seorang wanita mengatakan, dia telah menunjukkan gejala ruam, demam, dan diare, pada tiga minggu kehamilannya. Ketika memeriksakan diri ke dokter, ternyata tidak terpapar zika. Namun, dia tidak percaya dokter, dan takut bayinya menjadi cacat karena terpapar virus tersebut.

Editor : Sotyati

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home