Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 12:17 WIB | Selasa, 19 Januari 2016

Pilpres AS: Mengapa Umat Kristen Memuja Donald Trump? (1)

Mahasiswa Liberty University di AS mengenakan pakaian bertuliskan Trump (Foto: theblaze.com)

LYNCHBURG, SATUHARAPAN.COM - Bukan rahasia lagi bahwa umat Kristen Injili di Amerika Serikat banyak yang memuja kandidat calon presiden Partai Republik, Donald Trump. Berbagai jajak pendapat juga mengatakan hal itu.

Ini menjadi pertanyaan menarik bagi banyak kalangan.  Mengapa seseorang seperti Donald Trump, tokoh kontroversial yang sering salah dalam menafsirkan Alkitab, menikah tiga kali, suka sok  tahu dan senang menganggap dirinya hebat, dapat dipuja sedemikian rupa oleh kalangan Kristen konservatif itu?

Presiden Liberty University, Jerry Falwell Jr, memiliki jawabannya. Dan ia membeberkannya di depan lebih dari 10.000 mahasiswa pada hari Senin (18/1) pagi di kampus universitas itu di Lynchburg, Virginia.

Menurut Falwell yang merupakan putra dari televangelis legendaris AS, Jerry Falwell, Trump memang bukan kandidat yang  paling religius atau paling saleh di antara seluruh kandidat. Meskipun Trump juga diakuinya mempraktikkan kepemimpinan hamba dan suka membantu orang lain seperti ajaran Yesus, Trump masih kalah religius dibandingkan sejumlah kandidat lain.

Namun, kata Falwell, Trump adalah seorang pengusaha yang cerdas. Dan ia berani berbicara tentang kebenaran di hadapan umum, walaupun tidak nyaman bagi orang yang mendengarnya.

Trump juga, menurut dia, adalah tokoh yang dilihat oleh publik berani menjadi dirinya sendiri, bukan  boneka para penyumbang dana kampanye.

Inilah yang menurut Falwell menjadi ciri menonjol Trump.

Falwell, yang mengatakan komentarnya bukan merupakan dukungan kepada Trump,  membandingkan Trump dengan Ronald Reagan, aktor film yang menjadi politisi. Menurut Falwell, ayahnya dulu menyukai Jimmy Carter, presiden incumbent yang jadi lawan Reagan.

Menurut ayahnya, Jimmy Carter adalah seorang guru sekolah minggu yang hebat di masa mudanya. Namun, "ketika dia (ayah Falwell, red) masuk ke bilik suara, ia tidak memilih seorang guru sekolah minggu atau pendeta atau bahkan presiden yang membagikan keyakinan teologisnya; ia memilih presiden Amerika Serikat yang memiliki bakat, kemampuan dan pengalaman yang diperlukan untuk memimpin bangsa," kata Falwell.

"Jimmy Carter adalah seorang guru sekolah Minggu yang hebat, tapi lihatlah apa yang terjadi pada bangsa kita di masa dia duduk di kursi kepresidenan," kata Falwell.

Trump, seorang Presbyterian arus utama, secara tak terduga sangat populer di kalangan Kristen Injili yang sering memainkan peran sangat penting di beberapa negara. Di mata banyak analis, pemujaan kalangan Kristen Injili kepada Trump  adalah sejenis ketertarikan yang sama dengan melambungnya nama Senator Ted Cruz (Republik), seorang pendeta Southern Baptist  yang sering membahas imannya pada kampanye.

Seiring dengan semakin ketatnya persaingan untuk menjadi capres Partai Republik, persaingan antara Trump dan Cruz  diilustrasikan oleh banyak orang sebagai perang merebut suara kalangan Injili. Dalam jajak pendapat nasional, Trump mengungguli Cruz di kalangan pemilih Injili. Tetapi di Iowa, yang akan menjadi tuan rumah kaukus pada 1 Februari mendatang, Cruz memimpin.

Daya tarik Trump tampaknya masih juga belum surut. Ia dinilai sebagai pahlawan Kristen yang membela kepentingan negara di atas segalanya.

Kenny Brown, 62, seorang pengusaha, mengatakan ia memilih Trump karena menempatkan kepentingan bangsa di atas  segalanya. Trump memiliki seperangkat nilai moral, kata dia, tetapi ia menempatkan kepentingan negara sebagai yang terpenting.

"Dia memang sering marah, tetapi Yesus juga sering marah," kata Brown.

"Dia bukan orang yang sempurna, tetapi ketika Anda melihat apa yang diperlukan oleh negara kita, Anda harus punya orang yang baik, orang yang jujur. "

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home