Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 11:13 WIB | Senin, 30 November 2015

PM Italia Marah atas Keputusan Sekolah Larang Perayaan Natal

Perdana Menteri Matteo Renzi, mengatakan bahwa kepala sekolah Marco Parma membuat kesalahan yang sangat besar dengan membatalkan Natal di sekolahnya. (Foto: Lewis Joly / SIPA / REX Shutterstock)

ITALIA, SATUHARAPAN.COM – Perdana Menteri Italia Matteo Renzi, telah mengkritik kepala sekolah yang melarang konser Natal dan lagu-lagu Natal di sekolahnya dekat Milan dalam nama multikulturalisme, hari Senin (30/11).

"Natal jauh lebih penting daripada seorang kepala sekolah yang provokatif," kata Renzi kepada Edisi Minggu Corriere della Sera.

"Jika ia berpikir bahwa ia mempromosikan integrasi dan co-eksistensi dengan cara ini, ia tampaknya telah membuat kesalahan yang sangat besar," ujar Renzi.

Marco Parma, 63 tahun, memicu protes dari beberapa orangtua dan media karena memutuskan untuk menunda konser Natal tahunan untuk murid sekolah dasar sampai Januari dan mengubah citra sebagai "konser musim dingin" yang tidak akan menampilkan lagu-lagu religius.

"Dalam lingkungan multi-etnis, hal itu menyebabkan masalah," kata Parma, mengatakan keputusan itu telah dipengaruhi oleh pengalaman tahun lalu.

"Tahun lalu kami mengadakan sebuah konser Natal dan beberapa orangtua bersikeras membawakan lagu-lagu Natal. Anak-anak Muslim tidak menyanyi, mereka hanya berdiri di sana, benar-benar kaku,” ujar Parma.

"Hal ini tidak baik karena ada anak-anak yang tidak bisa ikut menyanyi, atau lebih buruknya lagi, ada yang diminta orangtua mereka untuk turun dari panggung,” Parma menambahkan.

Sekolah yang terdiri dari sekolah dasar dan menengah tersebut memiliki sekitar 1.000 murid dengan satu persen diperkirakan beragama non-Kristen, terutama Islam.

Tidak jelas apa yang akan terjadi selanjutnya. Matteo Salvini, pemimpin sayap kanan, anti-imigrasi Liga Utara, telah menyerukan Parma akan segera dipecat.

Parma mengatakan dirinya siap untuk mengundurkan diri daripada kembali untuk bertemu guru-guru untuk mendiskusikan bagaimana menangani isu sensitif tersebut.

Parma juga membantah laporan pers bahwa ia telah melarang adanya salib dari ruang kelas. (theguardian.com/feb)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home