Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:22 WIB | Selasa, 15 Januari 2019

Presentasi Karya Residensi "Jalan-Jalan-Jalan"

Presentasi Karya Residensi "Jalan-Jalan-Jalan"
Pameran presentasi karya "Jalan-Jalan-Jalan" di MDTL, 14-19 Januari 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Presentasi Karya Residensi "Jalan-Jalan-Jalan"
Rimpang empon-empon di atas karya dua matra.
Presentasi Karya Residensi "Jalan-Jalan-Jalan"
Lizzy Simpson di antara karya instalasi-video mappingnya.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Mengawali tahun 2019, seniman asal Australia yang kerap memanfaatkan benda-benda yang ditemui di sekitarnya menjadi medium-material karya sebagai pembacaan atas realitas observasinya di berbagai tempat residensinya, Elizabeth “Lizzy” Simpson, mempresentasikan karya instalasi terbarunya. Pameran bertajuk “Jalan-Jalan-Jalan” yang dihelat di Museum dan Tanah Liat (MDTL), dibuka pada Senin (14/1).

Karya terbaru Lizzy merupakan hasil proses selama residensi di Sangkring art space selama Oktober 2018 hingga Januari 2019. Beragam benda yang ditemukan Lizzy mulai dari empon-empon, palawija (kacang tanah, ketela pohon), buah-buahan (kelapa, petai cina), patahan ranting pohon, papan kayu, balok kayu, makanan masyarakat setempat, makanan ringan hasil industri, termasuk serangga-batu koral mati, dan juga kertas maupun plastik bekas, menjadi material-medium karya instalasinya.

Melalui observasi yang dilakukan selama residensi, benda-benda yang ditemukan Lizzy dibentuk menjadi sebuah karya instalasi besar memenuhi ruang pamer MDTL. Melalui karya instalasi tersebut Lizzy mencoba untuk menggambarkan relasi yang terbangun antara masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Dapat disaksikan sebuah meja kerja dengan berbagai peralatan kerja, display foto observasi selama residensi yang dipajang membangun narasi yang acak, papan-papan kayu yang digantung di langit-langit MDTL dan ditembak dengan karya video mapping ke arah dinding, potongan balok-balok besar dengan dilengkapi rimpang maupun empon-empon yang ditanam pada botol bekas air mineral dan miniatur aktivitas objek-objek manusia maupun serangga mati. Pada sebidang lantai Lizzy mendisplay buah kelapa, buah-biji petai cina kering, rimpang-empon-empon, batu koral yang sudah mati di atas karya dua matra yang dibuat selama residensi.

Pada sebuah dinding Lizzy melengkapi perjalanan observasi residensinya dengan nama jalan-jalan yang dilewatinya. Menariknya Lizzy membuat nama jalan tersebut dengan nama jalan yang unik dan di luar kebiasaan: Jl. Not that, Jl. Dead end, Jl. Shoelace undone again... what’s with the loose lace?, Jl. Full stop, Jl. Absence of sound, Jl. There is something I need to remember, serta puluhan nama jalan lain. Dalam perjalanan observasi Lizzy membuat sebuah sketsa besar dengan denah dan sebagian nama-nama jalan tersebut.

Pada display karya makanan manggleng dan keripik singkong yang bisa dinikmati pengunjung, Lizzy melengkapi dengan narasi dari catatan Astri Munawaroh tentang proses pembuatan makanan tersebut: Biasanya pada musim kemarau tidak memungkinkan untuk menanam padi. Namun sekarang mudah untuk membeli beras karena adanya infrastruktur yang lebih baik ketimbang dulu. Singkong di area Gunungkidul adalah pilihan kedua untuk sumber karbohidrat. Para petani membuat makanan ringan atau biasa disebut klethikan. Manggleng salah satunya. Masyarakat biasanya menanam sigkong dalam setahun hanya sekali yaitu saat musim penghujan. Membutuhkan waktu hingga 10 bulan untuk tiba masa panen. Setelah panen, beberapa digunakan untuk membuat manggleng.

Relasi sosial-lingkungan dalam masyarakat menjadi ketertarikan Lizzy dalam berbagai karyanya. Benda-benda yang ditemukan dan dijadikan material-medium karya adalah cara pembacaan Lizzy pada realitas dan relasi yang ada.

Dan ketika Lizzy menggunakan benda-benda tersebut (bukan manusia, benda mati) dalam karyanya, ada keindahan sekaligus drama kehidupan dari hubungan yang terbangun: relasi historis kolonialisme dan konsumerisme yang membentuk budaya manusia hari ini. Hal tersebut digambarkan Lizzy pada seonggok sampah kertas bekas dan plastik yang dihasilkan dari eksploitasi sumberdaya alam yang ada dan hari ini meninggalkan permasalahan baru sampah-sampah yang bisa membahayakan kehidupan manusia. Ini menjadi pembacaan sekaligus kritik Lizzy pada realitas yang ada.

Bayu Wardhana dari RuangDalam art space dalam pembukaan pameran menjelaskan bahwa program ini merupakan kerja sama antara seniman-perupa Australia-Indonesia untuk bertukar ide hingga bertukar seniman residensi dari kedua negara.

“Beberapa seniman luar (Australia) memandang bahwa benda-benda yang mereka temukan di Indonesia itu selain eksotis juga memberikan mereka semangat dan jiwa bagi karya-karya yang dihasilkan. Sekaligus ini juga menarik minat kolektor-kolektor di sana. Semoga ke depan (kerja sama Forum Seni Australia-Indonesia/AIAF) bisa lebih memberikan warna bagi seni rupa (kedua negara),” Bayu menjelaskan.

Pameran prsentasi karya residensi Lizzy Simpson bertajuk "Jalan-Jalan-Jalan" akan berlangsung hingga tanggal 19 Januari 2019 di Museum Dan Tanah Liat, Kersan Rt 5, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul, Yogyakarta.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home