Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 17:37 WIB | Sabtu, 15 Desember 2018

Prodi PG PAUD Dukung Salatiga sebagai Kota Inklusif

Maria Melita Rahardjo SP MTeach(EC), project leader pengabdian masyarakat Prodi PG PAUD UKSW Salatiga, mengatakan dengan dilatarbelakangi pencanangan diri Kota Salatiga sebagai Kota Pendidikan Inklusif sejak Desember 2012, maka salah satu bentuk aksi inklusif tersebut ialah lembaga-lembaga pendidikan di Salatiga berkomitmen menerima anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar bersama siswa-siswa regular. (Foto: uksw.edu)

SALATIGA, SATUHARAPAN.COM – Sejumlah dosen program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar pengabdian masyarakat. Tajuk yang diusung, “Optimising Teacher’s Role in Early Development Screening and Early Intervention for Children with Special Needs” (Optimalisasi Peran Guru dalam Deteksi Dini dan Interensi Dini Anak-Anak Berkebutuhan Khusus).

Pengabdian masyarakat itu didukung oleh Pemerintah Australia melalui skema dana hibah alumni, yang diraih oleh Maria Melita Rahardjo SP MTeach(EC) sebagai project leader. Melalui surel yang dikirimkannya kepada tim humas UKSW baru-baru ini, ia menyebut Pemerintah Australia memberikan hibah kepada alumni lulusan Universitas Australia sehingga alumni dapat berkontribusi terhadap pembangunan di Indonesia melalui bidang ilmu yang ditekuninya.

Alumni jurusan Master of Teaching Universitas Australia tahun 2012 itu menyebut program pengabdian masyarakat yang dilakukannya bersama tim dilatarbelakangi oleh pencanangan diri kota Salatiga sebagai Kota Pendidikan Inklusif sejak Desember 2012. Salah satu bentuk aksi inklusif tersebut yakni lembaga-lembaga pendidikan di Salatiga berkomitmen untuk menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) belajar bersama siswa-siswa regular.

“Beberapa isu utama yang melatarbelakangi pengabdian masyarakat ini adalah adanya ketidakjelasan informasi alur penanganan ABK di lapangan. Tak jarang guru melampaui batas wewenang profesional dengan melabeli anak hanya berdasar pengamatannya, tanpa didukung instrumen yang memadai,” tutur Melita.

Salah satu penyimpangan yang pernah terjadi, ia mencontohkan, seorang ABK yang tiba-tiba diterapi tanpa melalui pemeriksaan tenaga profesional terlebih dahulu. Akibatnya, ABK tersebut tidak mendapat bantuan yang tepat dan kehilangan waktu-waktu emasnya untuk meminimalisasi gangguan yang ada di dirinya.

Sejak 2017

Melita menambahkan, proyek pengabdian masyarakat itu dilakukan dalam jangka waktu lima belas bulan terhitung sejak September 2017. Total dana hibah yang diperolehnya yakni AUD 10,000 atau sekitar seratus juta rupiah.

“Pengabdian ini kami awali dengan pembuatan poster Alur Penanganan ABK dan buku pendamping Deteksi Dini ABK. Poster dan buku ini dicetak sebanyak 1.500 eksemplar dan dibagikan gratis saat kegiatan sosialisasi,” ia menjelaskan.

Kegiatan sosialisasi buku dan poster dilakukan kepada guru PAUD yang tergabung dalam Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) dan Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) di empat kecamatan di Kota Salatiga.

Selain kota Salatiga, sosialisasi juga dilakukan di 16 kecamatan di Kota Semarang, beberapa kecamatan di Kabupaten Semarang, Yogjakarta, dan Kalimantan.

Selain pada guru PAUD, sosialisasi yang pertama kali dimulai pada Februari 2018 ini juga dilakukan kepada mahasiswa calon guru PAUD di UKSW dan PG PAUD Universitas Bengkulu saat sedang studi banding di Salatiga.

“Melalui program ini saya berharap supaya guru-guru PAUD dapat menjadi pintu gerbang utama dalam mendeteksi anak-anak spesial atau berkebutuhan khusus dengan jalur yang tepat. Secara khusus PG PAUD UKSW telah berusaha berkontribusi terhadap kebijakan Dinas Pendidikan Kota Salatiga dalam mewujudkan Salatiga sebagai kota yang inklusif,” katanya. (uksw.edu)

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home