Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 14:03 WIB | Rabu, 07 September 2022

Psikiater Yang Rawat Korban Khmer Merah Raih Penghargaan Magsaysay

Orang Prancis yang bersihkan Sungai Citarum di Jawa Barat juga di antara penerima penghargaan.
Psikiater Yang Rawat Korban Khmer Merah Raih Penghargaan Magsaysay
Psikiater Kamboja, Sotheara Chhim, 54 tahun, menerima bunga dari anggota stafnya di kantornya di Phnom Penh pada 31 Agustus 2022. (Foto: AFP)
Psikiater Yang Rawat Korban Khmer Merah Raih Penghargaan Magsaysay
Seorang pemulung mengayuh perahu kayunya untuk mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang di sungai Citarum yang tersumbat sampah dan limbah industri, di Bandung, Provinsi Jawa Barat pada 26 Juni 2019. (Foto: dok. AFP)

PHNOM PENH, SATUHARAPAN.COM-Seorang psikiater Kamboja yang merawat para korban Khmer Merah dan seorang pencinta lingkungan Prancis yang membersihkan sungai-sungai di Indonesia termasuk di antara para pemenang Penghargaan Ramon Magsaysay 2022, yang dianggap sebagai Hadiah Nobel Asia, pada hari Rabu (31/8).

Penghargaan tahunan, didirikan pada tahun 1957 dan dinamai sesuai nama seorang presiden Filipina yang meninggal dalam kecelakaan pesawat, menghormati mereka yang telah melakukan “pelayanan tanpa pamrih kepada masyarakat Asia.”

Yayasan yang menjalankan penghargaan tersebut menyebutkan empat pemenang dalam pengumuman online. Di antara mereka adalah Sotheara Chhim, 54 tahun, seorang psikiater dan penyintas rezim Khmer Merah ultra-Maois yang membunuh hampir seperempat penduduk Kamboja melalui kelaparan, kerja paksa, dan eksekusi massal pada 1970-an.

Dia disebut-sebut karena mengabdikan hidupnya untuk membantu orang-orang yang menderita di bawah Khmer Merah, dengan fokus pada pengobatan “baksbat” atau “keberanian yang patah”, sebuah sindrom yang terlihat di Kamboja yang mirip dengan gangguan stres pasca trauma.

Penyelenggara Penghargaan Magsaysay memuji "keberaniannya yang tenang dalam mengatasi trauma mendalam untuk menjadi penyembuh rakyatnya."

“Tidak mudah untuk bekerja dengan para penyintas trauma, untuk mendengarkan cerita trauma dari orang-orang karena itu mengingatkan saya banyak tentang trauma yang saya derita sendiri,” Sotheara Chhim mengatakan kepada AFP dalam sebuah wawancara hari Rabu (31/8). Dia menambahkan penghargaan itu datang sebagai “kejutan .”

"Saya merasa bahwa semakin saya membantu orang, itu menyembuhkan diri saya juga," kata psikiater, menggambarkan pekerjaannya sebagai "semacam katarsis."

Dia juga bersaksi sebagai saksi ahli di hadapan pengadilan yang didukung PBB yang mengadili para pemimpin senior Khmer Merah.

Penerima Penghargaan Magsaysay

Aktivis lingkungan dan pembuat film Prancis, Gary Bencheghib, 27 tahun, diberi penghargaan atas upayanya membersihkan saluran air Indonesia yang tercemar.

Bencheghib dan saudaranya telah membangun kayak yang terbuat dari botol plastik dan bambu untuk mengambil sampah di sungai Citarum, salah satu yang paling tercemar di dunia.

Dokter Filipina Bernadette Madrid, 64 tahun, juga menerima penghargaan karena mendirikan pusat perlindungan anak di seluruh Filipina untuk membantu korban kekerasan dalam rumah tangga.

Dan dokter mata Jepang Tadashi Hattori, 58 tahunh, mendapat kehormatan untuk menyediakan operasi mata gratis di Vietnam, di mana spesialis dan fasilitas seperti itu terbatas. Kedermawanannya, kata yayasan Magsaysay Award, adalah “perwujudan tanggung jawab sosial individu.”

Upacara tatap muka untuk menghormati para pemenang akan diadakan di Manila pada bulan November. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home