Loading...
INDONESIA
Penulis: Kris Hidayat 13:39 WIB | Jumat, 14 Maret 2014

Rakyat Resah, Presiden Siap Ambil Alih Pengendalian Bencana Asap di Riau

Bencana kabut asap. (Foto: setkab.go.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, ia bisa memahami keresahan dan kemarahan sebagian rakyat akibat asap dan kebakaran ladang yang terjadi lagi di Provinsi Riau.

Melalui akun twitter pribadinya @SBYudhoyono, Presiden SBY mengemukakan, malam ini ia telah menginstruksikan lagi agar para Menteri terkait segera melakukan operasi tanggap darurat, dengan menggunakan semua cara dan alat.

Presiden juga ingin agar para pejabat daerah di Riau berdiri paling depan untuk mencegah dan menangani asap ini, mengapa terus terjadi dan rakyat jadi korban. “Kalau dalam waktu 1-2 hari ini Pemda Riau dan para Menteri tidak bisa mengatasi, kepemimpinan dan pengendalian akan saya ambil alih,” tegas Presiden SBY dalam akun twitternya itu.

Presiden SBY mengemukakan, kebakaran ladang dan asap yang terjadi di Riau ini, di samping disebabkan oleh cuaca yang ekstrim, juga karena ada penduduk dan perusahaan yang membakar ladang. Ia menyebutkan, sebenarnya pemerintah pusat dan daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta TNI dan Polri telah berusaha untuk mengatasi, tetapi hasilnya masih belum memuaskan.

“Meskipun Polri telah tetapkan 37 tersangka dan mereka akan diadili, tetapi kalau setiap tahun masih membakar, bencana akan terjadi lagi,” kata Presiden SBY.

Asap Riau Berdampak Luas

Sementara itu BNPB menyebutkan, dampak pembakaran lahan dan hutan di Riau makin meluas. Hampir keseluruhan wilayah di Riau dan Sumatera Barat tertutup kabut oleh kabut asap. ‘Arah angin yang dominan dari timur laut ke barat daya membawa asap menyebabkan asap meluas. Asap kebakaran lahan dan hutan di Malaysia sebagian juga menyebar ke Selat Malaka dan wilayah Riau,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (13/3) siang.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB itu, terpantau titik api dari satelit NOAA18 ada 46 titik dan dari satelit Modis ada 137 titik di Riau pada Kamis (13/3). Titik api ini lebih rendah dibandingkan dengan data sehari sebelumnya ada 168 titik dari NOAA18 dan 2.046 titik dari Modis.

Dampaknya, kata Sutopo, jarak pandang hanya 300 meter di Pekanbaru pada pukul 08-12 Wib. Kondisi kualitas udara sudah pada level berbahaya di sebagian besar daerah di Riau, dan seebanyak 49.591 jiwa menderita penyakit akibat asap seperti ispa, pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit.

Menindaklanjuti perintah Presiden agar penegakan hukum lebih digiatkan, menurut Sutopo, kini telah ditambah kekuatan personil satgas penagekan hukum yaitu 582 personil dari Polri dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). “Satgas ini akan memburu para perambah hutan dan pembakar lahan dan hutan,” jelasnya.

Kepala BNPB, Syamsul Maarif, telah meminta PPNS di Kemhut, KLH, Kementerian Pertanian dan Pemda lebih intensif dalam penegakan hukum. “Penegakan hukum diterapkan sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana dan mitigasi sehingga ruang gerak individu atau kelompok yang membakar menjadi tidak leluasa,” jelas Sutopo.

Sutopo juga menginformasikan, guna mengatasi bencana asap di Riau maka pada Jumat pagi (14/3) besok, pemerintah akan mengerahkan pesawat Hercules C-130 untuk modifikasi cuaca dengan homebase Lanud Halim PK, Jakarta.

Selain itu juga, akan dioperasikan enam unit ground based generator sistem sprayer di bandara SSK II Pekanbaru untuk mengurangi kepekatan asap sehingga jarak pandang di bandara diharapkan dapat lebih baik dan penerbangan dapat dilakukan. (setkab.go.id)

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home