Loading...
SAINS
Penulis: Bayu Probo 19:28 WIB | Jumat, 24 Oktober 2014

Ratusan Pasien RSJ Magelang Ikuti Lomba Membatik

Aksi flash mob dance memeriahkan acara Hari Kesehatan Jiwa se-Dunia 2014 Jumat (10/10) malam di sekitar air mancur Monumen Selamat Datang Bundaran HI.(Foto: Kartika Virgianti)

MAGELANG, SATUHARAPAN.COM  – Ratusan penyandang skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Kota Magelang mengikuti lomba membatik dan melukis untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa se-Dunia 2014.

Direktur Utama RSJ Prof. Dr Soerojo, Bambang Prabowo di Magelang, Jumat (24/10), mengatakan kegiatan ini sebagai salah satu terapi psikososial bagi penyandang skizofrenia.

“Jika mereka terus dilatih maka akan berperilaku seperti biasa dan lebih tenang dengan aktivitas membatik dan menggambar ini, karena aktivitas ini bisa membantu pemulihan penyandang skizofrenia, khususnya pemulihan secara psikologis,” katanya.

Menurut dia aktivitas yang mengasah keterampilan seperti fun game, olahraga, melukis, dan membatik akan membantu memulihkan kepercayaan diri para penyandang skizofrenia untuk kembali diakui oleh masyarakat.

“Mereka akan menjadi lebih percaya diri dan kami sesuaikan kegiatan ini sesuai dengan minat dan bakatnya,” katanya.

Selain sebagai upaya pemulihan, katanya kegiatan tersebut juga merupakan upaya mengubah stigma masyarakat tentang penyandang skizofrenia. Selama ini masyarakat masih menganggap penyandang penyakit tersebut sangat membahayakan sehingga perlu dijauhi.

Ia menuturkan penyandang skizofrenia itu tidak berbeda dengan pasien diabetes, darah tinggi, dan penyakit lainnya. Bedanya hanya pada titik yang diserang saja. Mereka juga sama-sama membutuhkan obat dan terapi tertentu. Bahkan, lanjutnya, penyandang skizofrenia itu memang terganggu jiwanya tetapi tidak pada kecerdasannya.

“Hal itu terbukti ketika saya mengikuti puncak peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2014 di Jakarta beberapa waktu lalu, ada dua narasumber yang bergelar insinyur dan ahli teknologi informasi adalah penyandang skizofrenia. Mereka sama dan tetap harus minum obat,” katanya.

Ia berharap dengan kegiatan semacam ini penyandang penyakit kejiwaan ini bisa tetap punya potensi dan diberdayakan. Pihak keluarga maupun masyarakat umum perlu tahu tanda-tanda orang yang terjangkit penyakit tersebut.

Beberapa tanda yang bisa dikenali dari penderita penyakit tersebut, katanya, biasanya penyandang akan mengalami perubahan perilaku yang drastis dari perilaku sehari-hari, orang yang biasanya tidak pendiam jadi pendiam atau sebaliknya dia jadi hiperaktif. Sering bergumam atau juga berteriak-teriak. (Ant)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Edu Fair
Back to Home