Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 08:26 WIB | Senin, 07 Desember 2020

Ribuan Warga Belarusia Anti Lukashenko Gelar Demonstrasi

Demonstran, kebanyakan dari mereka mengenakan masker untuk membantu mencegah penyebaran virus corona, menghadiri rapat umum oposisi di Minsk, Belarusia, hari Minggu (6/12/2020). (Foto: AP)

MINSK, SATUHARAPAN.COM-Ribuan pengunjuk rasa berbaris di ibu kota Belarusia, Minsk, dan tempat lain pada hari Minggu (6/12) pada protes mingguan menuntut pengunduran diri Presiden Alexander Lukashenko, dan polisi menahan lebih dari 100 orang.

Belarusia, negara berpenduduk 9,5 juta yang dilihat Rusia sebagai penyangga keamanan terhadap NATO, telah diguncang oleh protes massa sejak pemilihan presiden 9 Agustus yang menurut Lukashenko dia yang menang. Namun lawannya mengklaim pemungutan suara itu dicurangi dan bersama rakyat menuntut dia mundur.

Sebagian besar pengunjuk rasa berbaris di daerah pemukiman terpencil ibu kota, bertepuk tangan, meneriakkan "hidup Belarusia" dan mengibarkan bendera putih dengan garis merah di tengah, simbol oposisi.

“(Protes) ini berhasil, karena tidak mungkin untuk memerintah negara ketika mayoritas tidak menerima Anda. Dengan protes kami menunjukkan bahwa kami adalah mayoritas,” kata salah satu pengunjuk rasa, Alisa, 21 tahun.

Lukashenko, yang telah berkuasa selama 26 tahun, telah mengabaikan skala protes, dan mengatakan bahwa mereka disponsori oleh Barat, dan menunjukkan sedikit tanda-tanda kesediaan untuk memulai dialog dengan pihak oposisi.

Kendaraan militer dan meriam air terlihat di jalan-jalan Minsk pada hari Minggu, sementara pria berseragam, banyak yang menggunakan helm, menangkap orang-orang dengan pakaian sipil. Pernyataan saksi dan video yang diposting di media sosial menunjukkan hal itu.

Kelompok hak asasi Viasna-96 (Spring-96) Belarusia mengatakan setidaknya 100 orang telah ditahan di seluruh negeri pada Minggu sore.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mendesak kekuatan politik di Belarus untuk mencoba menyelesaikan perbedaan melalui dialog, dan juga mengatakan bahwa negara bekas republik Uni Soviet dan sekutu dekat Moskow itu menghadapi campur tangan kekuatan eksternal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dukungan Rusia dipandang penting untuk peluang Lukashenko untuk tetap berkuasa, dan pernyataannya dipantau dengan cermat untuk perubahan nada atau tanda apa pun bahwa Moskow dapat mendorong semacam transisi kekuasaan. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home