Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 18:24 WIB | Rabu, 01 Juni 2016

Sawo Duren, Buah Potensial Tak Kunjung Populer

Sawo Duren (Chrysophyllum cainito, L.). (Foto: imagejuicy.com)

SATUHARAPAN.COM - Kamus Besar Bahasa Indonesia keluaran Pusat Bahasa menamakan buah ini sawo duren, sawo apel, atau sawo beludru. Sebagian orang lagi, menyebutnya kenitu, mengacu pada nama ilmiahnya dalam bahasa Latin, Chrysophyllum cainito, L.  

Pertumbuhannya yang cepat, dengan daun berwarna hijau pada permukaan atas dan berwarna cokelat keemasan pada bagian bawah, menjadi salah satu pertimbangan untuk memilihnya menjadi tanaman peneduh. Sawo duren menghiasi ruas jalan atau taman-taman di kota-kota besar.

Sawo duren adalah jenis buah dari suku sawo-sawoan (Sapotaceae). Berdasarkan pemerian di worldagroforestry.org, sawo duren adalah tumbuhan pohon, yang dapat mencapai tinggi hingga 30 meter. Batang pohon berkayu, silindris, tegak, pepagan (kulit kayu) berpermukaan kasar berwarna cokelat, abu-abu gelap sampai keputihan. Banyak bagian pohon yang mengeluarkan lateks, getah putih yang pekat, ketika dilukai.

Sawo duren berdaun tunggal. Nama chrysophyllum diberikan karena melihat daunnya yang berwarna keemasan, karena bulu-bulu halus yang tumbuh terutama di sisi bawah daun dan di ranting. Duduk daun berseling, memencar, bentuk lonjong sampai bundar telur terbalik.

Perbungaan terletak di ketiak daun, berupa kelompok kuntum bunga kecil-kecil bertangkai panjang, kekuningan sampai putih lembayung, berbau harum.

Buah sawo duren adalah buah buni berbentuk bulat hingga bulat telur, berdiameter 5–10 cm. Kulit buah licin mengkilap, berwarna cokelat keunguan atau hijau kekuningan sampai keputihan. Kulit buahnya agak tebal, liat, banyak mengandung lateks, dan tak dapat dimakan.

Daging buahnya berwarna putih atau keunguan, lembut, dan banyak mengandung sari buah, rasanya manis, membungkus endokarp berwarna putih yang terdiri atas 4-11 ruang yang bentuknya mirip bintang jika dipotong melintang. Itu pula sebabnya, sawo duren disebut star apple dalam bahasa Inggris.

Biji sawo duren 3-10 butir, pipih agak bulat telur, berwarna cokelat muda sampai hitam keunguan, keras mengkilap.

Sawo duren berasal dari dataran rendah Amerika Tengah dan Hindia Barat, yang kemudian menyebar ke seluruh daerah tropis. Di Asia Tenggara, tumbuhan ini banyak ditanam di Filipina, Thailand, dan Indocina bagian selatan.

Di wilayah penyebarannya, sawo duren dikenal dengan berbagai nama. Mengutip situs worldagroforestry.org, di Filipina buah tanaman ini disebut kamito atau cainito, mengambil nama belakang nama ilmiahnya. Di Thailand, orang menyebutnya sata apoen, dan di Malaysia namanya tidak jauh berbeda dengan nama dalam bahasa Indonesia, sawu duren dan pepulut.

Nama lain berdasarkan penyebarannya adalah hnin-thagya (Burma), bon kaymit, kaymit fey do,kaymit fran, kaymit jaden, gran kaymit (Creole), cainito (Italia), caimo,caimito,caimo morado, cainito, maduraverde (Spanyol), caimitier a feuilles d’or, caimitier, caimite franche, caimite des jardins, caimite, bon caimite, pomme surette, grand caimite (Prancis).

Selain star apple, dalam bahasa Inggris buah ini disebut caimito, cainito, golden leaf, west indian star apple. Buah ini dikenal pula dengan aneka nama lain, seperti chicle durian, sterappel, golden leaf tree, abiaba, pomme de lait, estrella, dan aguay.

Di Indonesia, buah tumbuhan ini memiliki aneka nama lokal, seperti sawo apel, sawo ijo, atau apel ijo (Jawa), sawo hejo (Sunda), sawo kadu (Banten), kenitu atau manécu (Jawa Timur), dan sawo manila (Lampung).

Berkhasiat Obat

Sawo duren umumnya dikonsumsi sebagai buah segar, atau sebagai bahan baku es krim atau sorbet.

Selain ditanam sebagai tanaman peneduh di taman-taman dan tepi jalan, kayu sawo duren dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Wikipedia menyebutkan banyak bagian pohon yang berkhasiat obat, misalnya kulit kayunya, getah, buah dan biji. Rebusan daunnya dipakai untuk menyembuhkan diabetes dan rematik. Dari kulit kayu dihasilkan obat kuat dan obat batuk.

Di berbagai daerah di Amerika dan Afrika, menurut Mochammad Amrun Hidayat, Umiyah, Siti Zulaikhah, dan Zahrotul Hikmah, dari Universitas Jember, buah dan daun sawo duren dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional diabetes. Dekok (ekstrak air) daun sawo duren diketahui memiliki aktivitas hipoglikemia pada kelinci diabetes. Sejauh ini belum terdapat informasi tentang aktivitas antidiabetes ekstrak etanol daun kenitu.

Berdasarkan kenyataan itu, mereka, pada 2013, melakukan penelitian, “Pengembangan Ekstrak Daun dan Buah Kenitu (Chrysophyllum cainito L.) untuk Obat Herbal Terstandar Diabetes Mellitus”. Penelitian yang mereka lakukan, seperti dimuat di repository.unej.ac.id, ditujukan untuk menguji aktivitas antidiabetes ekstrak etanol daun kenitu dengan metode hambatan suatu enzim dan menentukan kandungan senyawa aktif dalam ekstrak.

Selain menggali khasiat sebagai obat diabetes, peneliti lain juga dilakukan untuk menggali aktivitas antioksidan ekstrak daun sawo duren, seperti dilakukan Indah Yulia Ningsih, Siti Zulaikhah, Moch Amrun Hidayat, Bambang Kuswandi. Penelitian mereka, “Antioxidant Activity of Various Kenitu (Chrysophyllum Cainito L.) Leaves Extracts from Jember, Indonesia”, dimuat di sciencedirect.com,

Pohon sawo duren menghasilkan buah setelah berumur 5-6 tahun. Sumber lain menyebutkan pohon ini mampu berbuah pada 3 tahun. Wikipedia menyebutkan musim puncak berbuah sawo duren di Jawa terjadi pada musim kemarau.

Sayang sekali, buah yang sangat populer di berbagai negara ini tidak kunjung populer di negeri ini. 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home