Loading...
HAM
Penulis: Prasasta Widiadi 11:09 WIB | Kamis, 28 Januari 2016

Sebut Muslimah Tunduk Ajaran Radikal, PM Cameron Diprotes

Ilustrasi: Perdana Menteri inggris David Cameron (kanan) berpartner ping pong dengan Presiden Amerika Serikat Barrack Huseini Obama (kiri). (Foto: indiatimes.com).

LONDON, SATUHARAPAN.COM – Lebih dari 10.000 muslimah di Inggris melakukan swafoto (selfie) dan membawa tulisan bertanda pagar #TraditionallySubmissive untuk memprotes pernyataan Perdana Menteri Inggris, David Cameron.

“Saya sangat kecewa ketika membaca berita tentang Cameron,” kata Shelina Janmohamed, penulis aktivis Love in a Headscarf seperti diberitakan Global Post, Rabu (27/1).

Janmohamed meluncurkan kampanye media sosial setelah membaca pernyataan Cameron yang menginginkan para muslimah bisa berbahasa Inggris agar tidak tunduk kepada pemberi ajaran radikalisme dan mampu menentang seruan ekstremisme.

“Pernyataan Perdana Menteri hanya membuat hidup perempuan Muslim makin susah. Pernyataan ini adalah sekadar stereotip tentang perempuan Muslim. Dan, kami tidak seperti yang dituduhkan. Kami bersemangat, beragam, kami berbakat, dan kami memiliki pendapat sendiri. Perdana menteri selalu mengatakan kami harus mengadosi nilai-nilai orang Inggris, jadi saya merespons pernyataannya dengan cara yang paling ‘Inggris’—dengan sarkasme,” Janmohamed menambahkan.

Menggunakan tanda pagar #TraditionallySubmissive, puluhan ribu muslimah Inggris mengetik #traditionallysubmissive di akun twitter masing-masing.

Muslimah tersebut berasal dari segala usia dan jenjang pendidikan, dan tingkat profesional dengan mengenakan jilbab menentang pernyataan Cameron dalam tulisan di atas poster dan kertas yang mereka pegang dengan kedua tangan.

Janmohamed mengatakan dengan tegas Cameron harus dicuci otaknya agar selalu mengambil nilai-nilai penting kehidupan di Inggris. 

Seperti diberitakan BBC beberapa hari yang lalu, Cameron merencanakan menghabiskan 20.000.000 pound sterling (32,33 triliun) guna membantu 190.000 peningkatan kemampuan bahasa Inggris muslimah yang hidup di Inggris, dengan tujuan muslimah bisa lebih baik berintegrasi ke dalam masyarakat Inggris dan menghindari radikalisme dan ekstremisme.

“Kami sekarang akan mengatakan jika Anda tidak meningkatkan kefasihan Anda, yang dapat memengaruhi kemampuan Anda untuk tinggal di Inggris,” kata Cameron.

Cameron menambahkan peraturan imigrasi saat ini mengharuskan adanya pasangan yang dapat berbicara bahasa Inggris sebelum seseorang tiba di Inggris untuk hidup dengan pasangannya.

Cameron mengatakan perempuan Muslim di Inggris akan menghadapi tes lebih lanjut setelah 2,5 tahun berada di Inggris.

Janmohamed menambahkan bahwa kebanyakan orang Inggris banyak yang kurang memahami dan tidak melakukan pendekatan terhadap muslimah.

“Ini terjadi karena apa yang saya sebut ‘toleransi pasif’, masyarakat setuju dengan ide cacat tentang pembangunan yang terpisah-pisah. Ini adalah waktu untuk mengubah pendekatan kami. Kami tidak akan pernah benar-benar membangun satu bangsa kecuali kita lebih tegas tentang nilai-nilai liberal kami. Juga, lebih jelas dengan harapan pada kami yang tinggal di sini dan membangun negara kita ini bersama-sama dan lebih kreatif dan murah hati dalam pekerjaan yang kami lakukan untuk mendobrak hambatan,” Janmohamed menambahkan.

Daniele Joly, Profesor Emeritus di Departemen Sosiologi di University of Warwick dan penulis studi “Wanita dari Komunitas Muslim: Otonomi dan Kapasitas Aksi” menjelaskan bahwa Cameron memilih cara terlalu pragmatis yakni dengan menambah anggaran untuk belajar bahasa Inggris.

“Aspirasi muslimah Inggris telah berubah karena adanya konsekuensi hidup di Inggris karena pandangan hidup mereka telah berkembang di luar pernikahan dan keluarga, mereka ingin diakui di masyarakat Inggris yang diberikan mereka kesempatan yang lebih besar sebagai perempuan,” Joly menambahkan.

Mungkin uang akan lebih baik dihabiskan mengajar Cameron dan penasihatnya tentang perempuan Muslim Inggris di abad ke-21. (globalpost.com/bbc.com).

Editor: Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home