Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 12:00 WIB | Selasa, 21 September 2021

Sekjen PBB, Antonio Guterres: PBB Tidak Punya Gigi

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengunjungi pulau dataran rendah Tuvalu pada Mei 2019 untuk melihat bagaimana negara-negara Samudra Pasifik akan terpengaruh oleh kenaikan permukaan laut. (Foto: PBB/Mark Garten)

PBB, SATUHARAPAN.COM- Sekjen Perserikatan Bangsa-bangsa, Antonio Guterres, mengatakan, “Institusi yang kita miliki, tidak punya gigi. Dan kadang-kadang, bahkan ketika mereka memiliki gigi, seperti dalam kasus Dewan Keamanan, mereka tidak memiliki banyak selera untuk menggigit.”

Dia mengatakan itu dalam wawancara dengan UN News, beberapa hari menjelang sesi ke-76 Majelis Umum yang dimulai pekan ini, dan ini pertemuan tingkat tinggi anggota PBB.

 Guterres duduk bersama UN News untuk menjawab pertanyaan tentang sejumlah topik, mulai dari pandemi COVID-19, hingga kesetaraan jender dalam wawancara itu.

Dia menyerukan rencana vaksinasi global yang adil, dengan varian virus yang terus muncul, yang pada titik tertentu, mungkin menjadi resisten terhadap inokulasi saat ini.

“Dan pada hari itu, tidak ada yang akan aman, di selatan dan di utara, bahkan di negara-negara di mana semua orang divaksinasi,” katanya.

Di Afghanistan, dia berpendapat bahwa situasinya “tidak dapat diprediksi” dan memperingatkan: “Apa yang terjadi di Afghanistan, mungkin membuat kelompok teroris atau gerakan pemberontak lainnya menjadi lebih agresif sekarang.”

Sekjen PBB juga menyoroti perubahan iklim, dengan mengatakan dunia “di ambang jurang maut” dan meminta semua negara anggota PBB untuk menyukseskan Konferensi Perubahan Iklim PBB berikutnya, COP26.

Guterres mengatakan, lihat apa yang terjadi pada dunia kita: virus telah mengalahkan dunia. Lebih dari satu setengah tahun setelah semuanya dimulai, kita masih memiliki virus yang menyebar di mana-mana. Dan kita melihat dampak dramatis pada kehidupan orang-orang, peningkatan kesenjangan yang dramatis, ekonomi dalam situasi yang sangat sulit, dan tentu saja, penderitaan yang sangat besar bagi yang paling rentan.

Dunia tidak dapat bersatu dan menentukan rencana vaksinasi global, dan menyatukan negara-negara yang dapat memproduksi vaksin, dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan lembaga keuangan internasional, untuk kemudian berurusan dengan industri farmasi dan melipatgandakan produksi, dan memastikan bahwa ada distribusi yang adil di produksi. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh suatu negara saja; itu perlu dilakukan oleh semua.

Masalahnya adalah lembaga multilateral yang kita miliki sekarang, yang pada dasarnya adalah WHO; WHO bahkan tidak memiliki kekuatan untuk memperoleh informasi tentang situasi tersebut. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menyelidiki asal-usul suatu penyakit.

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home