Loading...
SAINS
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:04 WIB | Minggu, 24 Maret 2019

Selamatan Wiwitan Upacara Kebo Ketan 2019

Perkumpulan LSM Kraton Ngiyom Perkenalkan Keroncong Jathilan dan Reog Mahesa Nempuh
Penampilan Keroncong Jathilan oleh Perkumpulan LSM Kraton Ngiyom pada acara Wiwitan Upacara Kebo Ketan 2019 di Kedai Kebun Forum, Jumat (22/3). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Bedah buku menjadi tradisi baru bagi LSM Kraton Ngiyom dalam rangkaian Upacara Kebo Ketan (UKK). Jika tahun lalu buku berjudul Demokrasi Indonesia antara Asa dan Realita yang ditulis dosen-peneliti yang pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional, Muhammad AS Hikam, dibedah dalam wiwitan UKK, pada tahun ini buku berjudul Seni Kejadian Berdampak yang ditulis sendiri oleh inisiator UKK Bramantyo Prijosusilo menjadi salah materi dalam Wiwitan UKK 2019.

Sesi bedah buku Seni Kejadian Berdampak dalam Wiwitan UKK 2019 dihelat di Kedai Kebun Forum Jalan Tirtodipuran no 3 Yogyakarta, Sabtu (22/3) sore, menghadirkan aktivis-seniman Yayat Yatmaka, Ade Tanesia, pengajar Ilmu Religi-Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Y Tri Subagya, serta Bramantyo.

Yayat Yatmaka, Ade Tanesia, berbagi pengalaman bagaimana sebuah seni kejadian berdampak bagi masyarakat dan lingkungannya

“Penghutanan kembali misalnya, ini harus memperbincangkan tentang ketersediaan bibit dalam jumlah yang banyak, beragam, dan tersedia sepanjang waktu. Keberadaan hutan bergantung pada ketersediaan bibit,” jelas Yayat Yatmaka.

Sementara Ade Tanesia memberi tekanan bahwa seni kejadian berdampak pada tiga aspek yaitu partisipasi, intensi dalam pelaksanaan, serta dilakukan terus-menerus.

“Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana regenerasi (SDM) di masa datang setelah aktivis-aktivis penggagasnya tidak aktif lagi. Apakah masyarakat akan melanjutkannya. Ini penting bagi keberlangsungan aktivisme itu sendiri,” kata Ade Tanesia.

Y Tri Subagya lebih menyoroti pada terfragmentasinya masyarakat dari nilai-nilai, simbol-simbol lama, sehingga seolah berjarak dengan nilai tradisi.

“(Saat ini) Masyarakat sedang mengalami kelelahan dalam perkembangan dunia yang semakin modern. Manusia lebih banyak bekerja bukan untuk dirinya, tapi untuk uang. Dalam kondisi tersebut, ritus-ritus yang demikian menjadi simpul-simpul penting agar tidak semakin terfragmentasi,” papar Tri Subagya menanggapi perkembangan masyarakat saat ini.

Selain dialektika yang dibangun, buku Seni Kejadian Berdampak menjadi salah satu strategi sumber pendanaan UKK 2019. Melalui narasi yang dibangun dalam peristiwa yang berkelanjutan, Bram menuliskan kejadian-kejadian sebagai sebuah aktivitas dalam peristiwa yang tidak berdiri sendiri. Dalam buku setebal 77 halaman, Bram mengawali bertutur dalam sebuah social sculpture berjudul “Aku Melawan Perusakan Atas Nama Agama” di depan Markas Majelis Mujahidin di Jalan Karanglo 94, Kotagede, Bantul, DI Yogyakarta.

Aksi Bram ketika dikenal itu juga dengan happening art berjudul “Membanting Macan Kerah” karena rencananya dia akan membawakan puisi berjudul ”Membanting Macan Kerah”, yang mengisahkan wilayah Yogyakarta sebenarnya memiliki seorang Kalifatullah Panatagama, yaitu Sultan Hamengku Buwono X, sehingga tidaklah elok jika muncul gerakan-gerakan atas nama agama yang justru bertentangan dengan ekspresi keagamaan Keraton Yogyakarta yang damai dan berestetika. Meskipun aksi tersebut belum sempat terlaksana hingga tuntas, namun aksi tersebut memberikan gairah dan warna baru dalam sebuah seni kejadian (happening art).

Konsep seni kejadian berdampak pada Upacara Kebo Ketan bukanlah sekadar event, namun sesuatu yang dikerjakan sepanjang tahun untuk mendapatkan dampak-dampak dimana masyarakat bisa memiliki hutan yang berfungsi secara baik.

Narasi besar seni kejadian berdampak tersebut dimulai sejak tahun 2014 diawali dari prosesi Mbah Kodok Rabi Peri Setyowati pada 8 Oktober 2014 di Sendang Marga dan dilanjutkan bulan Juni, 2015 dengan lahirnya Jaga Samudra dan Sri Parwati dari perkawinan Kodok-Setyowati tersebut. Untuk keperluan tumbuh-kembang Jaga Samudra-Sri Parwati, dibangunlah rumah bagi mereka oleh warga.

Prosesi Upacara Kebo Ketan yang diawali dengan bergerak beberapa saat setelah puncak prosesi menjadi sebuah sajian seni kejadian berdampak. Selama kurang lebih setahun kedepan LSM Kraton Ngiyom bersama masyarakat terlibat "menghias" sendang agar bisa digunakan untuk meng-guyang kebo (memandikan kerbau). Agar sendang tetap bisa mengeluarkan mata airnya, sekitar sendang harus memiliki penyimpan air alami. Pohon berikut sistem perakarannya adalah penyimpan alami air.

"Menghias" sendang tidak semata-mata membuat sendang menjadi lebih bersih dan cantik, namun juga memberikan "hiasan" berupa mata air bersih yang mengalir sepanjang tahun. Aktivitas tersebut dilakukan secara terus-menerus dibarengi juga dengan upaya mengembalikan daya dukung lahan pertanian dengan sistem organik meminimalkan bahkan menghindari penggunaan pupuk kimia.

Dalam buku Seni Kejadian Berdampak diulas juga peristiwa-kejadian selama penyelenggaraan UKK dengan keterlibatan masyarakat dalam lintas generasi, keterlibatan seniman lintas disiplin seni, strategi penyusunan rencana seni kejadian berdasar pengalaman. Yang menarik pula ilustrasi pada buku dengan sketsa yang dibuat oleh pengajar pada Seni Rupa ISI Yogyakarta Joseph Wiyono, yang membuat karya sketsa selama proses UKK 2018 berlangsung mampu memberikan ilustrasi atas narasi yang ditulis Bramantyo.

Selain bedah buku Seni Kejadian Berdampak dalam Wiwitan UKK 2019 diperkenalkan kreasi seni Keroncong Jathilan dan Reog Mahesa Nempuh yang melibatkan warga-masyarakat Desa Sekaralas dalam proses penciptaannya. Reog Mahesa Nempuh merupakan ekpserimen LSM Kraton Ngiyom bersama masyarakat Sekaralas, Widodaren-Ngawi untuk menciptakan kesenian rakyat dengan mengadopsi dan berbasis pada kesenian reog.

Pada Reog Mahesa Nempuh, bagian Dadak Merak yang menjadi salah satu perlengkapan penting pertunjukan, kepala harimau diganti dengan kepala kerbau. Sementara pada pada Keroncong Jathilan, selain musiknya yang masih mencoba mempertahankan pakem keroncong ditambahkan pula beberapa instrumen gamelan dari keluarga balungan serta kendang.

Buku Seni Kejadian Berdampak dapat diperoleh pada Perkumpulan LSM Kraton Ngiyom, Desa Sekaralas Kecamatan Widodaren-Ngawi dengan menghubungi nara hubung Godeliva D Sari  dengan nomor kontak 0821-35901008.

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home