Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 11:01 WIB | Kamis, 24 Desember 2015

Semangat Natal Pengungsi Muslim Suriah di Jerman

Pengungsi Suriah (dari kiri-kanan) Reem Habashieh, Raghad Habashieh, Yaman Habashieh mengunjungi pasar Natal di Zwickau di timur Jerman pada tanggal 8 Desember 2015 lalu. (Foto: AP)

ZWICKAU, SATUHARAPAN.COM – Lagu-lagu Natal terdengar tengah-tengah pusat pertokoan dan aroma anggur yang baru dibuka, kue-kue Natal dan lilin yang menghembus ke udara menyemarakkan semangat Natal di pasar tradisional Zwickau ini.

Empat anak dari keluarga Habashieh, pengungsi Muslim dari Suriah, berjalan dari satu kios ke kios lain, melihat dengan mata besar di semua hidangan lezat. Meskipun mereka tidak merayakan Natal, dengan penuh sukacita mereka akan mengambil bagian dalam tradisi lokal, terutama karena mereka sekarang memiliki rumah sendiri.

Beberapa minggu yang lalu, Khawla Kareem, ibu empat anak tersebut begitu putus asa tentang kehidupan di Jerman. Dia mengatakan lebih suka menghadapi bom di Damaskus daripada menghabiskan hari lain di tempat penampungan sempit dengan tidak ada privasi, tidak ada sekolah untuk anak-anaknya dan takut menghadapi serangan rasis .

Hari ini, dia sangat bahagia. Setelah beberapa bulan tinggal di pusat penampungan yang jorok, pemerintah Jerman menemukan bagi mereka sebuah apartemen kosong di mana mereka bisa hidup dengan sederhana. Keluarga mereka juga telah bergabung dalam semangat Natal dari tetangga mereka, yaitu dengan mendekorasi pintu apartemen mereka dengan lonceng merah berkilauan dan cabang-cabang pohon hijau dan emas.

"Kami sepenuhnya terintegrasi sekarang," kata Reem Habashieh, putri tertua keluarga. Adiknya Raghad, 11, bahkan memiliki mainan kalender Natal seperti kebanyakan anak-anak Jerman, di mana di setiap tanggalnya adalah pintu yang terbuka untuk memberi atau mendapatkan hadiah cokelat sambil menghitung mundur malam Natal. Tidak ada pertanyaan untuk Habashiehs pindah agama - ini adalah cara untuk membangun jembatan dan masuk ke dalam komunitas baru.

Keluarga Habashiehs melalui perjalanan yang sulit dan menyedihkan untuk sampai ke tempat ini yaitu menantang perairan Mediterania ke Yunani lalu berjalan di ladang jagung Balkan dengan tidak ada air di panas terik. Tak hanya itu, mereka juga melompati kawat berduri karena takut dengan polisi perbatasan Hungaria kemudian membayar penyelundup Rumania ribuan euro (dolar) untuk membawa mereka ke Berlin dalam sebuah minibus. Mereka juga menghabiskan malam tanpa tidur yang tak terhitung jumlahnya di pusat-pusat suaka dengan toilet yang kotor.

Semuanya terasa seperti mimpi buruk.

Sekarang mereka hidup dengan mimpi yang baru di Jerman dengan lagu bernuansa Natal. Pada pasar Natal, ada sederetan kios yang menjual ragi roti Dresden yang terlihat menggoda, dengan keju meleleh dan topping krim asam. Tapi begitu anak-anak menemukan potongan-potongan kecil daging babi asap yang bisa dipastikan tidak halal, mereka lebih memilih untuk menjual roti jahe berbentuk hati, apel dan permen kapas.

Yaman (15), memesan sekantung manisan almond di Jerman dan anak-anak yang lain mulai mengunyahnya dan mengabaikan bahwa manisan itu masih hangat,mereka hanya peduli kacang manis. Adik mereka yang paling kecil Raghad merengek untuk naik komidi putar, ia berseri-seri saat  duduk di gajah kuning, mata biru-kehijauan itu berkedip ke dalam malam musim dingin.

Kemudian, mereka cekikikan dan menggoda satu sama lain, empat anak-anak mulai membuat keinginan mereka kepada Sinterklas.

"Jika saya bisa mengucapkan permohonan," kata Reem, "Saya benar-benar ingin belajar di universitas."

"Saya berharap dan berdoa bagi perdamaian di Suriah," kata Mohammed 18 tahun, sambil menghisap rokoknya.

Keinginan Raghad adalah sama dengan anak-anak berusia 11 tahun di Jerman: "Saya ingin boneka Barbie."

Pagi ini terasa menyenangkan, Khawla Kareem bangun sebelum fajar, membuat kopi Arab dengan aroma yang kuat untuk dirinya dan mendengarkan lagu-lagu dari bintang Lebanon Fairuz seperti yang dia lakukan di Damaskus - menjelaskan bahwa tiada hari tanpa suara penyanyi legendaris.

Dia kemudian membangunkan anak-anaknya, dan mereka semua berjalan bersama-sama untuk  kelas bahasa Jerman di dekat apartemen mereka.

Khawla Kareem mengatakan sulit akan kembali ke sekolah setelah bertahun-tahun menjadi guru di Suriah sendiri. Tapi anak-anak sudah mulai besar. Reem telah mengambil peran sebagai asisten guru, membantu untuk menerjemahkan instruksi dari bahasa Inggris ke bahasa Arab bagi siswa pengungsi lainnya.

Tidak semua pencari suaka seberuntung keluarga Habashiehs. Sebagian besar hampir 1 juta migran yang telah terdaftar untuk suaka di Jerman tahun ini masih tertahan di pusat penerimaan yang penuh sesak, menunggu selama berbulan-bulan agar permintaan suaka mereka diproses. Bentrokan antara kelompok etnis yang berbeda juga semakin umum. Dan ada kekhawatiran tentang pelecehan perempuan dan anak di kamp-kamp pengungsi oleh sesama, staf keamanan, atau predator yang berpura-pura menjadi relawan untuk masuk ke dalam tempat penampungan.

Sementara itu, suasana di Jerman kepada migran telah berubah dari semangat menyambut menjadi sikap memusuhi. Tempat penampungan pencari suaka sering dirusak atau dibakar, dan petugas juga telah diserang. Pihak sayap kanan mengatur aksi protes terhadap masuknya migran. Dan pekerja berurusan dengan kedatangan pengungsi seperti  polisi, penerjemah, karyawan kota dan pekerja sosial mengatakan mereka kelelahan.

The Habashiehs mengatakan bahwa mereka merasa ditolak. Reem, khususnya, mengatakan dia melihat tatapan tak bersahabat dari penduduk setempat karena dia menutupi rambutnya dengan jilbab, menurut tradisi Muslim.

Hari lain, ketika Raghad mendekati anak-anak seusianya - untuk mencoba beberapa kosakata Jerman yang baru - gadis-gadis hanya berpaling. "Menurutmu, apakah mereka tidak akan suka dengan saya di sini?" kata dia sedih bertanya kepada kakaknya.

Hanya sekitar 3.000 - sedikit di atas 2 persen - dari populasi Zwickau yang berjumlah 90.000 merupakan orang asing. Di antaranya adalah, Vietnam dan Rusia, yang pindah ke kota timur Jerman selama masa komunis. Mereka terdiri dari dua kelompok terbesar. Hanya ada 130 warga Suriah di Zwickau. Yang menjelaskan mengapa seorang pegawai di balai kota mendaftarkan Habashiehs sebagai keluarga yang tidak memiliki agama: "Maaf, Islam tidak ada dalam sistem komputer kita," katanya kepada kepada mereka.

Meskipun merasa kesulitan, yang membuat keluarga Habashiehs sangat gembira ketika mereka akan memiliki wawancara suaka mereka pada tanggal 22 Desember, tiga hari sebelum Natal.

"Kami memiliki harapan tinggi bahwa kami akan menerima status pengungsi dengan segera," kata Reem. Hampir semua warga Suriah pencari suaka mendapatkan status sebagai warga negara Jerman untuk antara satu sampai tiga tahun setelah wawancara mereka.

Setelah mereka secara hukum diterima sebagai pengungsi, keluarga akan diizinkan untuk meninggalkan kota Zwickau dan bergerak bebas di negeri ini.

"Mimpi besar kami masih Berlin," kata Reem, mengingat kota itu adalah kota kosmopolitan dengan komunitas imigran yang ramai, di mana mereka menghabiskan dua minggu pertama mereka di Jerman. "Mimpi itu kabur, samar-samar dan warnanya terus berubah, tapi di situlah kita melihat masa depan kita."

Yaman, putra kedua, tiba-tiba berhenti di depan sebuah pohon Natal besar di pasar yang ramai. Mengacak-acak rambutnya yang sudah tertata dengan gel, ia meminta mikrofon – meski ketika itu warga Jerman yang sedang bersenang-senang memandangnya dengan tatapan bingung.

Dia mulai menyanyikan rap - dengan ritme lagu Timur Tengah yang menggelegar dari ponselnya - tentang bagaimana rasanya menjadi pengungsi Suriah berumur  15 tahun di Jerman:

"Saya masih ingat suara ramai Damaskus, ketika saya mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman saya,

Aku tiba di negara baru dan sekarang aku orang asing,

Bangun dengan perasaan lelah di pagi ini tapi tidak ada yang bertanya bagaimana perasaan saya,

Tidak tahan lagi, saya sedang mencari sebuah negara hangat setelah negara saya sendiri hancur!" (abcnews.com)

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home