Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 19:23 WIB | Kamis, 26 Maret 2015

Spiritualitas Hindu India, Tubuh Bagian dari Ritual

Dr. L.G. Saraswati Dewi Putri, M.Hum (kanan) mengupas Teks Erotis dalam Agama di acara Sekolah Agama ICRP, Selasa (25/3). (Foto: ICRP)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pada umumnya masyarakat mengaitkan aktivitas seksual sebagai dosa. Pikiran-pikiran erotis dianggap sebagai sesuatu yang salah dan menyimpang. Namun, seksualitas, menurut spiritualitas Hindu khususnya di India, menempatkan tubuh tidak hanya dipandang secara fisikal atau biologis, tetapi tubuh juga menjadi bagian dari ritual.

Hal itu disampaikan Saraswati Dewi, dalam seminar Sekolah Agama Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) bertajuk Teks Erotis dalam Agama, di Sekretariat Megawati Institute Jakarta, Rabu (25/3).

Lebih lanjut, Saraswati menjelaskan, hubungan seksual merupakan ritual dan tubuh adalah instrumennya. Tubuh perempuan merupakan altar suci para dewata. Di dalam tubuh perempuan bersemayam kemisteriusan serta kesucian para dewata. 

Dosen Filsafat Universitas Indonesia ini menyebut salah satu literatur Sansekerta Kama Sutra karya Mallanaga Vatsyayana yang sangat representatif  menunjukkan erotisme. Ia mengatakan, aktivitas seksual tidak hanya untuk melanjutkan keturunan, namun Kama Sutra khusus membahas kepuasan dan kenikmatan.

Dalam presentasinya, Saraswati menjelaskan, Kama Sutra merupakan kitab yang dikompilasikan oleh Vatsyayana pada abad 2 Masehi. Secara etimologis, “kama” berarti cinta ataupun gairah, sementara “sutra” adalah ajaran atau aturan, sehingga dalam pengertian utuhnya, Kama Sutra dapat dimengerti sebagai kompendium ajaran-ajaran mengenai cinta. 

Teks ini menekankan pada tahap-tahap seksualitas yang manusiawi. “(Aktivitas seks) bukan sesuatu yang harus diredam, dinegasikan, atau disembunyikan,” kata Saraswati.

Bagi Vatsyayana, lanjutnya, hal (seksual) tersebut lumrah. Apalagi, saat manusia berada pada tahap masih muda, seks dijadikan sebagai pembelajaran. “Oleh sebab itu, buku ini bertuliskan science of love,” jelasnya. Saraswati tidak menerjemahkannya menjadi “ilmu tentang cinta”, melainkan “seni tentang percintaan” karena teks Kama Sutra mendeskripsikan hal percintaan dengan sangat indah dalam bahasa Sansekerta.

“Kita harus membayangkan bahwa tubuh, meski berpotensi menjerumuskan manusia ke dalam duka, tubuh juga penghubung manusia dengan sang Brahman yang menjadi sumber kebahagiaan,” ujar perempuan kelahiran Bali 1983 ini.

Meski dalam teks tersebut seksualitas bukanlah sesuatu yang tabu, istri gitaris Christopher Bollemeyer ini menegaskan, Kama Sutra tidak sakral. Dalam kitab Weda, seksualitas dilakukan oleh orang yang saling mencintai dalam relasi menciptakan keturunan, sementara Kama Sutra menekankan kenikmatan dan kepuasan.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home