Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:01 WIB | Selasa, 28 Februari 2017

Supermarket Ini Hanya Jual Sampah Makanan

Ilustrasi: Supermarket The Good Food, pembeli juga dapat menemukan produk bahan pangan tahan lama yang sudah kedaluwarsa, yang masih bisa dikonsumsi dengan harga sangat murah bahkan gratis. (Foto: dw.com)

SATUHARAPAN.COM – Setiap tahun, sepertiga dari makanan yang diproduksi di dunia tersia-sia. Sebuah supermarket di Jerman membuat gebrakan dengan hanya menjual produk makanan yang nyaris dibuang. Pelanggan boleh bayar sesuka hati.

The Good Food, merupakan supermarket pertama di Jerman, yang hanya menjual makanan dan bahan pangan buangan. Tujuannya bukan sekadar langkah kecil menuju masyarakat zero-waste, tapi juga membawa perubahan besar dalam kesadaran sosial. Toko ini menjual berbagai jenis produk. Mulai dari sayuran, hingga minuman bir, yang membedakan dari toko lainnya: semua produk tersebut nyaris dibuang.

Apa yang membuat Nicole Klaski memutuskan membuka The Good Food? Setiap tahun, sepertiga dari makanan yang diproduksi di dunia tersia-sia. Jika bisa diselamatkan, setidaknya seperempat dari yang makanan yang terbuang, bisa memberi makan hampir 900 juta orang kelaparan, demikian menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO).

Valentin Thurn adalah penulis dan sutradara pemenang penghargaan film dokumenter Taste the Waste. Dia hadir saat supermarket itu dibuka pada Februari 2017. Katanya, “Saya masih tidak mengerti mengapa manusia membuang begitu banyak makanan? Sudah waktunya ambil tindakan mengubah ini.”

FAO mengatakan, di tingkat ritel, sebagian besar makanan terbuang, hanya karena tidak terlihat menarik

Nicole Klaski menceritakan, salah satu cara yang dilakukan dalam mengumpulkan produk yang dijual di supermarketnya adalah mendatangi pertanian-pertanian seusai panen, dan mengumpulkan sayuran sisa. Dianggap sisa karena misalnya berukuran terlalu besar, atau terlalu kecil, atau tampak jelek tampilannya.

Di tokonya, sayuran organik sisa panen itu kemudian bisa diakses oleh semua orang dengan menggunakan sistem bayar sesuka hati. Inilah yang juga membedakan The Good Food dari supermarket lainnya, adalah bahwa tidak ada harga tetap. Konsumen sendiri yang memutuskan berapa nilai barang yang mereka mau beli. Tak punya uang pun bisa belanja di tempat itu. 

Pembeli juga dapat menemukan produk bahan pangan tahan lama, yang sudah kedaluwarsa. “Kami menyimpan sayuran dan produk kedaluwarsa, dan produsen senang bahwa makanan mereka masih bisa dimakan,” kata Klaski, si pemilik toko, dilansir dari situs dw.com.

Beberapa orang menolak membeli produk kedaluwarsa. Sebagian lain tak keberatan, jika warna dan kondisinya masih tampak baik. Klaski mengatakan, ia tidak cemas risikonya, sebab menurutnya, tanggal kedaluwarsa pada produk hanya saran bagi konsumen.

"Sebagian besar produk bertahan lebih lama dari tanggal tertera." Namun, tentu saja, Klaski memperhatikan betul produk-produk yang dijualnya.

Dijual pula hamburger kedaluwarsa. Bertentangan dengan supermarket pada umumnya yang cari keuntungan, The Good Food bertujuan membangun kesadaran sosial.

Tim The Good Food percaya, inisiatif seperti ini dapat memotivasi orang-orang yang sebelumnya tidak menyadari pentingnya membangun kesadaran gaya hidup yang berkelanjutan. Perabotan di sini pun barang bekas atau hasil daur ulang.

Meski supermarket di Kota Koln itu, yang merupakan toko pertama dari jenis seperti ini di Jerman, ternyata merupakan supermarket yang ketiga yang dibuka di Uni Eropa. Sementara itu sebuah kafe kecil di Kota Leeds, Inggris, khusus menghidangkan makanan yang telah dibuang oleh supermarket dan restoran. Tujuannya adalah mengurangi sampah makanan global yang masih bisa dimakan.

 

 

Editor : Sotyati


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home