Loading...
RELIGI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 16:46 WIB | Kamis, 03 November 2016

Tentara Irak Kembalikan Salib ke Desa Kristen Irak

Pastur Ammar dan seorang pastur lainnya bersama dua tentara Irak membawa salib berdiri di atap gereja Tahira, yang merupakan gereja Immaculata, Katolik Suriah di Qaraqosh. (Foto: World Watch Monitor)

QARAQOSH, SATUHARAPAN.COM – Tangis haru menyeruak, para tentara berdoa dan pendeta bernyanyi tatkala ribuan orang Kristen di Irak menunggu saat salib, simbol kemenangan orang Kristen atas kejahatan dibawa kembali oleh tentara Irak ke Niniwe. Ketika ISIS berkuasa di desa itu, salib dianggap sebagai benda ilegal dan haram.

Pengembalian salib ini sebagai simbol tentara Irak telah merebut Qaraqosh dari tangan ISIS dan ini jelas menjadi tanda kehancuran ISIS, seperti yang dilansir dari crossmap.com, hari Rabu (2/11).

Ketika keadaan dirasa sudah aman, para imam masuk ke mobil dan dikawal kembali ke desa mereka. Desa-desa seperti Qaraqosh dan Karamles –kira-kira 30 menit jika berkendara dengan mobil dari Mosul – adalah desa pertama yang bebas dari ISIS.

Pastur Thabet, yang tinggal dengan jemaatnya di kompleks pengungsi di Erbil, membawa salib yang seukuran manusia, ditutupi dengan bunga dan ia akan membawanya kembali ke kampung halamannya di Karamles.

Tanah Irak  adalah Tubuh Kristus

“Saya sangat senang saya bisa melakukan ini. Saya tersenyum dan menangis di saat yang bersamaan. Ini adalah air mata kebahagiaan. Ini adalah perjalanan doa saya selama dua tahun terakhir,” kata dia.

Dia kemudian mendaki bukit Barbara, bersebelahan dengan desanya dan menancapkan salib itu di tanah yang menghadap Karamles.

“Mimpi saya adalah untuk membawa semua orang Kristen kembali ke desa ini. Kemudian kita akan beribadah di Bukit Barbara, kita akan beribadah ekaristi di udara terbuka. Semua orang akan melihat ini adalah gereja. Ini adalah tubuh Kristus; tanah ini adalah tanah Kristen. Itu adalah mimpi saya untuk memberikan kesaksian kepada dunia,” kata dia.

Ketika ia tiba di Karamles, Pastur Thabet melihat gerejanya sudah rusak berat akibat ulah ISIS namun masih tetap berdiri. Palang yang melintang di pintu gereja diambil dan ia buang ke tanah. Bagian dalam gereja itu berantakan tapi tidak bisa diperbaiki.

“Yang penting adalah kita bisa berdoa lagi di sini,” kata dia.

Hal yang sama juga terjadi di desa Qaraqosh yang dikunjungi oleh Pastur Ammar. Dia memperbaiki salib yang ada di gerejanya dibantu tentara Irak yang berjaga setelah bertempur sengit dengan ISIS.

“Saya memuji Tuhan untuk hari yang indah ini,” kata dia. “Ya, mereka menghancurkan dan membakar rumah dan gereja tetapi kita dapat membangunnya kembali. Yang penting adalah kita dapat kembali berdoa di sini dan memasang salib.”

“Setelah pergi meninggalkan desa ini selama 811 hari, setelah diserang kekuatan jahat dan kegelapan, kita bisa kembali merasakan kebebasan beribadah,” kata dia.

Di Qaraqosh, Pastur Ammar telah menemukan 40 dokumen kuno dari sejarah gerejanya yang tak tersentuh oleh ISIS.

“Saya membawa dokumen ini kembali kepada orang-orang di Erbil. Bagi kami, dokumen ini sangat penting karena ini adalah bagian dari  hidup kami.”

ISIS menaklukan kota Niniwe – termasuk kota kedua terbesar Irak, Mosul dan banyak desa Kristen di sekitarnya – pada tahun 2014. Puluhan ribu keluarga Kristen harus meninggalkan rumah mereka untuk tetap hidup. Pertempuran merebut Mosul masih terus terjadi, tapi pemukiman Kristen yang mengelilingi Mosul seperti Karamles dan Qaraqosh sudah bebas dari ISIS. Tentara Irak masih terus berjuang melawan tentara ISIS hingga malam hari.

Salah satu fotografer Kristen yang baru saja kembali dari Qaraqosh, memperkirakan 30 persen rumah di sana telah rusak parah atau hancur.

Diperkirakan akan butuh waktu bila warga desa dekat Mosul bila ingin kembali ke rumah mereka. Namun, kebanyakan dari mereka menunggu di Mosul benar-benar bersih dari ISIS sebelum mereka kembali ke desa mereka. (crossmap.com)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home