Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 17:13 WIB | Minggu, 19 September 2021

Terjadi Baku Tembak ketika Taliban Bahas Pembentukan Kabinet

Pejuang Taliban berpatroli di sebuah pasar di Kota Tua Kabul, Afghanistan, Selasa, 14 September 2021. Dikhawatirkan Afghanistan dapat semakin terjerumus ke dalam kelaparan dan keruntuhan ekonomi setelah kekacauan bulan lalu, yang membuat Taliban menggulingkan pemerintah dalam sekejap, ketika pasukan AS dan NATO keluar dari perang 20 tahun. (Foto: dok. AP/Bernat Armangue)

KABUL, SATUHARAPAN.COM-Orang yang diharapkan Amerika Serikat dan sekutunya menjadi suara moderat dalam pemerintahan Taliban di Afghanistan telah dikesampingkan, setelah baku pukul, dan baku tembak dramatis di istana presiden di Kabul, menurut orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Mullah Abdul Ghani Baradar, wajah paling moderat dari kelompok yang memimpin pembicaraan damai dengan AS, diserang secara fisik oleh seorang pemimpin Jaringan Haqqani yang masuk daftar teroris oleh AS pada awal September. Ini terjadi selama pembicaraan di istana mengenai pembentukan kabinet, kata orang-orang yang tidak mau diungkap identitasnya.

Baradar mendorong dibentuknya “kabinet inklusif yang mencakup para pemimpin non Taliban dan etnis minoritas, yang akan lebih dapat diterima oleh seluruh dunia,” kata orang-orang. Pada satu titik selama pertemuan, Khalil ul Rahman Haqqani bangkit dari kursinya dan mulai meninju pemimpin Taliban.

Pengawal mereka memasuki keributan dan menembak satu sama lain, membunuh dan melukai beberapa dari mereka, kata orang-orang. Sementara Baradar tidak terluka, dia telah meninggalkan ibu kota dan menuju ke Kandahar, pangkalan kelompok itu, untuk berbicara dengan Pemimpin Tertinggi Haibatullah Akhundzada, yang secara efektif menjadi kepala spiritual Taliban.

Susunan kabinet yang dirilis pada 7 September tidak memasukkan siapa pun dari luar Taliban, dengan sekitar 90% tempat jatuh ke etnis Pashtun dari kelompok tersebut.

Anggota keluarga Haqqani menerima empat posisi, dengan Sirajuddin Haqqani, pemimpin Jaringan Haqqani yang ada dalam daftar paling dicari FBI karena aksi terorisme, menjadi penjabat menteri dalam negeri. Baradar ditunjuk sebagai salah satu dari dua wakil perdana menteri. Kelompok Taliban dan Haqqani bergabung sekitar tahun 2016.

Orang-orang mengatakan kepala badan intelijen Pakistan, yang berada di Kabul selama diskusi, mendukung Haqqani atas Baradar, yang menghabiskan sekitar delapan tahun di penjara Pakistan sebelum pemerintahan Trump memfasilitasi pembebasannya untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai.

Mullah Mohammad Hassan yang kurang dikenal dipilih sebagai perdana menteri, dan bukanya Baradar karena dia memiliki hubungan yang lebih baik dengan Islamabad, dan bukan merupakan ancaman bagi faksi Haqqani, kata mereka. Kantor media militer Pakistan tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Selama sepekan terakhir, anggota Taliban telah menolak laporan tentang bentrokan itu. Baradar muncul di televisi yang dikelola pemerintah pada hari Kamis (16/9) untuk menyangkal desas-desus bahwa dia telah terluka atau bahkan terbunuh. Baradar tidak hadir pada 12 September untuk menyambut menteri luar negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, dan dia melewatkan pertemuan kabinet pertama Taliban pekan ini.

“Alhamdulillah, saya aman dan sehat,” katanya dalam pidato singkat. “Pernyataan lain yang dibuat oleh media bahwa kami memiliki perselisihan internal juga sama sekali tidak benar.”

Dia menepis spekulasi atas ketidakhadirannya selama kunjungan delegasi Qatar, di mana anggota kabinet lainnya termasuk beberapa Haqqani hadir. Negara Teluk telah menjadi tuan rumah Baradar selama beberapa tahun dan memfasilitasi negosiasi dengan Menteri Luar Negeri AS, Michael Pompeo, untuk mengakhiri perang terpanjang Amerika.

“Saya tidak mengetahui kunjungan menteri luar negeri Qatar,” tambah Baradar. “Saya bepergian selama kunjungan menteri luar negeri Qatar ke Kabul, dan saya tidak dapat mempersingkat perjalanan saya dan kembali ke Kabul.”

Dihubungi melalui telepon, juru bicara Taliban, Bilal Karimi, mengatakan Baradar “tidak absen dan kami berharap dia akan segera kembali.”

“Tidak ada perbedaan di antara para pemimpin Imarah Islam,” kata Karimi. “Mereka tidak bertengkar karena jabatan atau posisi pemerintah.”

Perpecahan di dalam Taliban adalah tanda yang mengkhawatirkan bagi negara-negara barat yang telah mendesak kelompok itu untuk menerapkan kebijakan yang lebih moderat termasuk menghormati hak-hak perempuan.

China dan Pakistan menekan AS untuk mencairkan cadangan Afghanistan karena negara itu menghadapi inflasi yang melonjak dan krisis ekonomi yang membayanginya.

Hubungan antara faksi Haqqani dan Taliban telah lama tidak nyaman. Namun, Anas Haqqani, pemimpin kunci kelompok itu, juga menggunakan Twitter untuk menyangkal adanya keretakan. (Bloomberg)

 

 

Merasa Ditinggalkan, Prancis Tarik Dubes dari AS dan Australia

Presiden Prancis, Emmanuel Macron (kiri), berbicara dengan Presiden AS, Joe Biden, di markas NATO di Brussels pada 14 Juni 2021. (Foto: dok. AFP)

PARIS, SATUHARAPAN.COM-Prancis menarik duta besarnya untuk Amerika Serikat dan Australia pada hari Jumat (17/9), beberapa hari setelah kesepakatan dicapai antara dua negara terakhir, dan mengakibatkan hilangnya kesepakatan kapal selam senilai US$ 40 miliar.

Diplomat top Prancis, Jean Yves-Le Drian, merilis pernyataan untuk mengumumkan keputusan tersebut. Dia mengatakan itu atas "perilaku yang tidak dapat diterima" dan bahwa langkah itu "dibenarkan oleh keseriusan yang luar biasa dari pengumuman" antara AS dan Australia.

Seorang pejabat Gedung Putih dengan cepat membalas, mengatakan AS menyesali keputusan untuk memanggil kembali para duta besar dan akan bekerja dengan mitra Prancisnya untuk menyelesaikan perbedaan dalam "beberapa hari mendatang."

Awal pekan ini, AS, Australia, dan Inggris mengumumkan aliansi baru yang dipandang sebagai upaya melawan China di Indo-Pasifik. Prancis ditinggalkan dan mengatakan itu dibutakan, meskipun mengajukan pertanyaan dalam pembicaraan pribadi dengan pejabat AS.

Prancis bahkan menyebut langkah itu sebagai "tikaman dari belakang" dan membatalkan acara diplomatik yang diadakan di Washington pada hari Jumat. Seorang perwira tinggi Angkatan Laut Prancis berada di AS, tetapi pergi lebih awal untuk kembali ke Paris.

Selain ditinggalkan dari aliansi, Prancis kehilangan kesepakatan yang telah disepakati dengan Australia beberapa tahun lalu untuk membangun kapal selam diesel-listrik.

Kesepakatan baru dengan AS akan membuat Washington memberi Australia kapal selam bertenaga nuklir. (Al Arabiya)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home