Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 01:00 WIB | Senin, 20 Februari 2017

Tuhan Tidak Tidur

Nama Tuhan kerap digunakan sebagai tameng untuk pembenaran diri dan golongan, mendapatkan simpati orang lain, bahkan menjatuhkan lawan politik.
Hujan: berkat atau musibah? (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Tuh, banjirnya datang…,” tulis status seorang teman di media social.

”Bukan banjir, itu cuma genangan air,” sahut yang lain, ”hehe…Tuhan memang tidak tidur.”

Sejujurnya diakui atau tidak, Jakarta memang kerap banjir, terutama menjelang Imlek.  Sampai-sampai ada yang mengatakan, hujan saat Imlek melambangkan hujan berkat.  Dan tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena saat Imlek, walaupun hujan turun, tidak terdapat banjir di wilayah yang biasa tergenang air.

Bukankah seharusnya itu patut disyukuri, terutama bagi orang-orang yang terkena dampak positifnya? Namun, ternyata tidak semuanya demikian.  Setelah riuh pelaksanaan pilkada serentak, hujan yang mengguyur Jakarta menyebabkan banjir di beberapa wilayah… dan itu menjadi bahan olok-olok, bahkan dengan membawa nama Tuhan, untuk menjatuhkan kinerja kepemimpinan yang sedang berlangsung.

Padahal semua tahu bahwa penanggulangan banjir adalah sebuah proses berkesinambungan, bukan suatu hal yang bisa ditanggulangi dengan mantera adakadabra atau sim salabim.

Demikian juga dengan gempa yang terjadi di wilayah tertentu, ada yang mengatakan bahwa itu adalah acungan tangan Tuhan karena melarang ibadah pemeluk agama lain. Alih-alih menyadari bahwa Indonesia adalah negara yang  terletak di daerah gugusan gunung api dan pertemuan lempeng tektonik dunia.

Nama Tuhan kerap digunakan sebagai tameng untuk pembenaran diri dan golongan, mendapatkan simpati orang lain, bahkan menjatuhkan lawan politik.  Sesungguhnya, apakah ada manusia yang tak bernoda di hadapan-Nya, sehingga layak mengatasnamakan Sang Maha Agung untuk kepentingan diri atau kelompoknya?

Tuhan tidak tidur, memang itu benar.  Mata Tuhan mengamati yang baik dan yang jahat. Biarlah manusia mengerjakan bagian manusia, bertanggung jawab atas talenta dan waktu yang sudah diberikan kepada-Nya di tanah yang Dia tempatkan. Dan kehendak Tuhan, biarlah Dia sendiri yang menentukan karena manusia pada hakikatnya hanyalah debu.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home