Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 17:55 WIB | Rabu, 16 Mei 2018

Turki dan Israel Saling Usir Duta Besar, AS Salahkan Hamas

Warga Turki berunjuk rasa dengan mengacungkan poster bertuliskan “Bebaskan Palestina” dan “Perjuangan untuk pulang ke rumah masih berlanjut selama 70 tahun.” Unjuk rasa berlangsung di dekat Kedutaan Besar AS di Ankara, Turki, 15 Mei 2018. (Foto: VOA)

ANKARA, SATUHARAPAN.COM - Turki dan Israel, Selasa (15/5) saling mengusir duta besar dan saling tuduh terkait tewasnya puluhan warga Palestina oleh pasukan Israel, AFP melaporkan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di twitter dengan menyebut Israel ‘negara apartheid'.

Turki juga memanggil pulang duta besarnya di Washington untuk konsultasi seputar tewasnya 60 warga Palestina oleh pasukan Israel di perbatasan Gaza-Israel pada Senin (14/5).

Insiden itu menimbulkan marah di Ankara dan terjadi pada hari Amerika resmi memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Sementara itu Duta Besar Amerika untuk PBB Nikki Haley hari Selasa (15/5) mengatakan Israel telah “menahan diri” dalam menanggapi bentrokan mematikan dengan Palestina di perbatasan Gaza dan menyalahkan kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza atas aksi kekerasan itu.

“Dalam beberapa hari terakhir ini, teroris Hamas, yang didukung Iran, telah menghasut serangan terhadap pasukan keamanan dan infrastruktur Israel,’’ ujar Haley dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB mengenai situasi Gaza.

Haley menepis pernyataan bahwa aksi kekerasan itu dipicu pembukaan Kedutaan Besar Amerika di Yerusalem hari Senin (14/5).

“Pemindahan kedutaan besar tidak merusak prospek perdamaian apapun. Namun oleh sebagian orang ini dianggap sebagai penyebab aksi kekerasan. Kita harus ingat, organisasi teroris Hamas telah menghasut kekerasan selama bertahun-tahun, jauh sebelum Amerika memutuskan untuk memindahkan kedutaan besarnya.”

Haley menambahkan bahwa kedutaan Amerika itu “mencerminkan kehendak rakyat Amerika hak penuh Amerika untuk memutuskan lokasi kedutaannya, hak yang diklaim setiap orang di ruangan ini untuk negara mereka.”

Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian di Timur Tengah, Nickolay Mladenov yang berbicara kepada anggota-anggota dewan dari Yerusalem, mengatakan bahwa “pembunuhan (di Gaza) itu tidak dapat dibenarkan.”

“Siapa yang dapat menemukan kata-kata untuk menghibur ibu yang anaknya tewas dibunuh? Siapa? Saya menyerukan kepada semua pihak untuk bersama-sama saya hari ini mengutuk sekeras-kerasnya tindakan yang telah menyebabkan hilangnya begitu banyak nyawa di Gaza,” kecam Mladenov.

Mladenov mengatakan, “Israel bertanggung jawab menyesuaikan penggunaan kekuatannya,” jika tidak ada “ancaman kematian atau cedera serius” dan harus melindungi perbatasannya “secara proporsional dan menyelidiki setiap insiden yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia.”

Mladenov juga menyerukan kepada Hamas untuk “tidak menggunakan demonstrasi sebagai kedok untuk menempatkan bom pertahanan dan menciptakan provokasi” dan “seharusnya tidak bersembunyi di antara para demonstran dan membahayakan nyawa warga sipil.”

Duta Besar Kuwait untuk PBB Mansour Al-Otaibi mengatakan negaranya “mengutuk sekeras-kerasnya pembantaian yang dilakukan oleh pihak berwenang resmi Israel kemarin” dan menyerukan negara-negara lain “untuk mengakui negara Palestina dan Yerusalem Timur yang diduduki sebagai ibukotanya.”

Rapat darurat Dewan Keamanan PBB hari Selasa dilakukan pasca-aksi kekerasan antara Israel dan Palestina, yang paling banyak menelan korban jiwa di Gaza dalam lima tahun. (VOA)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home