Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 13:46 WIB | Jumat, 20 Januari 2017

Usai Dilantik Trump akan Umumkan AS Keluar dari TPP

Presiden AS terpilih Donald Trump saat berpidato saat kampanye di acara Special Events Center of the Florida State Fairgrounds di Tampa, Florida pada 5 November 2016. (Foto: AFP /Mandel Ngan)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM - Donald Trump akan langsung menandatangani sejumlah perintah eksekutif pada hari pertama dia bekerja sebagai presiden Amerika Serikat (AS). Di antara perintah eksekutif yang diperkirakan akan ia tanda tangani dengan segera adalah pengumuman keluar dari pakta perdagangan negara-negara Asia Pasifik,  Trans Pacific Partnership (TPP).

Orang-orang dekat Trump mengatakan, pada hari-hari pertama sebagai presiden, miliarder properti itu akan menandatangani sejumlah perintah eksekutif yang dapat dijalankan tanpa masukan dari Kongres.

Susunan Kabinet Trump - Pence

  • Menteri Luar Negeri, Rex Tillerson
  • Menteri Keamanan Dalam Negeri: John Kelly
  • Menteri transportasi, Elaine Chao
  • Jaksa Agung, Jeff Sessions
  • Menteri Pertahanan, James Mattis
  • Menteri Keuangan, Steven Mnuchin
  • Menteri Pendidikan, Betsy Devos
  • Menteri Dalam Negeri, Ryan Zinke
  • Menteri Perumahan dan Pembangunan Kota, Ben Carson
  • Menteri Kesehatan dan Pelayanan Manusia, Tom Price
  • Menteri Tenaga Kerja, Andy Puzder
  • Menteri Perdagangan, Wilbur Ross
  • Menteri Energi, Rick Perry
  • Menteri Veteran, David Shulkin
  • Menteri Pertanian, George 'Sonny' Perdue

"Dia berkomitmen untuk tidak hanya pada hari pertama, tetapi juga pada hari kedua, hari ketiga, memberlakukan agenda perubahan yang nyata, dan saya berpikir bahwa Anda akan melihatnya pada hari-hari dan minggu-minggu yang akan datang," kata juru bicara Trump, Sean Spicer, pada hari Kamis (19/1), mengatakan kepada wartawan, yang menanyakan apa aktivitas Trump pada hari Jumat dan selama akhir pekan serta awal minggu depan.

Penasihat Trump mengajukan lebih dari 200 usulan perintah eksekutif yang berpotensi untuk ditandatangani. Itu meliputi isu kesehatan, kebijakan iklim, imigrasi, energi dan berbagai masalah lainnya. Belum jelas berapa banyak yang akan ia tanda tangani.

Penandatanganan perintah eksekutif oleh presiden yang baru menjabat memang lazim di Amerika Serikat. Hal seperti ini juga dilakukan oleh Obama dalam beberapa pekan pertama ketika ia menjabat.

"Dia ingin menunjukkan bahwa ia akan mengambil tindakan dan tidak harus tertahan dalam kemacetan (birokrasi) Washington," kata Sejarawan Kepresidenan Princeton University, Julian Zelizer, menjelaskan alasan presiden baru menandatangani perintah eksekutif.

Menurut orang-orang dekat Trump, ia diharapkan akan menandatangani penundaan sebuah peraturan di bidang ketenagakerjaan yang seharusnya berlaku efektif April.

Dia juga akan memberikan pemberitahuan resmi tentang rencananya  untuk menarik diri dari kesepakatan TPP dan akan melakukan negosiasi ulang Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara dengan Kanada dan Meksiko. "Saya pikir Anda akan melihat ini terjadi sangat segera," kata Spicer.

Obama, dalam delapan tahun sebagai presiden, sering juga menggunakan kekuasaan eksekutif selama masa jabatan keduanya. Ini ia lakukan terutama ketika Kongres yang dikuasai oleh Partai Republik menghalangi upayanya untuk merombak undang-undang, misalnya di bidang imigrasi dan lingkungan.

Banyak perintah eksekutif Obama sekarang menjadi target Trump untuk dibatalkan.

Di hari-hari pertamanya, Trump juga diperkirakan akan menandatangani  perintah eksekutif untuk mengarahkan pembangunan tembok di perbatasan selatan dengan Meksiko dan tindakan untuk membatasi masuknya pencari suaka dari Amerika Latin. Penasihatnya telah mengajukan beberapa rekomendasi tentang hal ini. merekomendasikan .

Termasuk ke dalam hal ini adalah membatalkan kebijakan Obama yang memungkinkan lebih dari 700.000 orang yang dibawa ke Amerika Serikat secara ilegal sebagai anak-anak untuk tetap tinggal di AS. Mereka mendapat otorisasi dalam  dua tahun untuk bekerja atau kuliah.

Namun, menurut sumber Reuters, Trump mungkin tidak akan mengambil tindakan ini, melainkan menunggu sampai masa otorisasi berakhir.

Masalah imigrasi ini bisa memicu konfrontasi dengan Obama, yang mengatakan kepada wartawan, pada hari Rabu bahwa ia akan mempertimbangkan langkah jika ia merasa pemerintahan baru menargetkan para imigran secara tidak adil.

Penasihat Trump mengharapkan dia akan membuat pembatasan terhadap orang memasuki Amerika Serikat dari negara-negara tertentu sampai sistem untuk "pemeriksaan ekstrem" untuk ekstrimis Islam dapat dibuat.

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home