Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 19:41 WIB | Selasa, 28 Januari 2020

Wabah Virus Corona Guncang Saham Global

Jepang konfirmasi kasus orang terinfeksi yang tidak bepergian ke Wuhan,
Orang-orang mengantre untuk membeli masker di Hong Kong, hari Selasa (28/1), untuk mencegah tertular virus corona yang mematikan. (Foto: dari Reuters)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM-Pasien terinfeksi virus corona yang meninggal telah mencapai angka 106 orang. Sedangkan kasus terinfeksi yang dilaporkan pemerintah China pada hari Minggu (26/1) baru 2.835, namun pada hari Senin (27/1) telah meningkat drastis menjadi 4.515 orang.

Situasi ini membuat sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Kanada memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke China. Bahkan wabah virus corona ini telah mengguncang juga pasar saham secara global.

Saham global dilaporkan jatuh, dan harga minyak mencapai posisi terendah dalam tiga bulan terakhir. Sedangkan mata uang yuan China merosot ke level terlemah pada 2020, karena investor cemas tentang kerusakan pada ekonomi China yang merupakan terbesar kedua di dunia. Hal ini terjadi akibat larangan perjalanan dan liburan Tahun Baru Imlek.

China mengatakan pada hari Selasa (28/1) bahwa 106 orang telah meninggal karena virus corona baru yang menyebar di seluruh negeri, naik dari jumlah sebelumnya yang mencapai 81 orang.

China pada Selasa juga menunda dimulainya semester musim semi untuk sekolah dan universitas di seluruh negeri, karena kekhawatiran tentang wabah virus yang mematikan itu.

Para siswa dan mahasiswa saat ini sedang liburan untuk Tahun Baru Imlek dan kementerian pendidikan tidak memberikan tanggal kapan mulai kembali belajar.

Tawaran Bantuan AS

Presiden AS, Donald Trump, pada hari Senin (27/1) menawarkan kepada China bantuan apa pun yang diperlukan. Sementara Departemen Luar Negeri AS mengatakan orang Amerika harus "mempertimbangkan kembali" untuk mengunjungi seluruh China karena virus baru.

Kanada, yang memiliki dua kasus virus corona dikonfirmasi sedang menyelidiki 19 lebih kasus potensial, juga memperingatkan warganya untuk menghindari perjalanan ke provinsi Hubei, China, pusat wabah.

Pihak berwenang di Provinsi China dilaporkan semakin sering mengecam masyarakat karena tanggapan awal mereka terhadap virus itu. Perdana Menteri China, Li Keqiang, mengunjungi kota Wuhan untuk mendorong pekerja medis dan menjanjikan bantuan.

Li memuji petugas medis dan mengatakan 2.500 lebih banyak pekerja akan bergabung dengan mereka dalam dua hari ke depan, dan mengunjungi lokasi rumah sakit baru yang akan dibangun dalam beberapa hari.

Kemarahan Meningkat

Di media sosial China yang sangat disensor, para pejabat menghadapi kemarahan yang meningkat atas wabah virus tersebut, yang diperkirakan berasal dari pasar di mana satwa liar dijual secara ilegal.

Beberapa mengkritik gubernur Provinsi Hubei, di mana Wuhan adalah ibu kotanya, setelah ia mengoreksi dirinya dua kali selama konferensi pers mengenai jumlah masker wajah yang diproduksi.

"Jika dia dapat mengacaukan data beberapa kali, tidak heran penyakitnya telah menyebar begitu parah," kata salah satu pengguna platform media sosial China Weibo.

Dalam kritik mandiri publik yang jarang terjadi, Walikota Wuhan, Zhou Xianwang mengatakan manajemen krisis kota itu "tidak cukup baik" dan mengindikasikan dia bersedia mengundurkan diri.

Kota Wuhan yang berpenduduk 11 juta orang dalam isolasi untuk mencegah penyebaran virus dan meluas ke bebarapa wilayah lain di Provinsi Hubei yang berpenduduk sekitar 60 juta orang, dan mereka berada di bawah keputusan pembatasan perjalanan.

Di tempat lain di China, orang-orang dari wilayah itu menghadapi pertanyaan tentang gerakan mereka. "Orang-orang Hubei didiskriminasi," seorang warga Wuhan mengeluh di akun Weibo.

Kasus-kasus yang terkait dengan orang-orang yang melakukan perjalanan dari Wuhan telah dikonfirmasi di selusin negara, dari Jepang samai ke Amerika Serikat, di mana pihak berwenang mengatakan mereka memiliki 110 orang yang sedang diselidiki di 26 negara.

Sri Lanka adalah negara yang terbaru yang mengkonfirmasi kasus virus corona. Sementara Jepang menemukan kasus virus corona pada orang yang tidak mengunjungi Wuhan. Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato,  hari Selasa (28/1) mengatakan seseorang di Jepang yang tidak mengunjungi Wuhan telah terinfeksi virus corona baru. Ini menguatkan dugaan tentang kemungkinan penularan terjadi di luar Wuhan.

Investor Khawatir

Investor khawatir tentang dampak pada perjalanan, pariwisata dan kegiatan ekonomi yang lebih luas dari wabahvirus corona. Banyak pandangan mengatakan bahwa dalam jangka pendek, output ekonomi akan terpukul ketika pihak berwenang membatasi perjalanan dan memperpanjang liburan Tahun Baru selama sepekan, di maba jutaan orang bepergian dengan kereta api, kendaraan dan pesawat terbang, untuk membatasi penyebaran virus.

Saham Asia dan Eropa dilaporkan jatuh, dengan Nikkei Jepang rata-rata turun dua persen, penurunan dalam satu hari yang terbesar dalam lima bulan. Saham Eropa turun lebih dari dua persen. Dan S&P 500 AS ditutup turun hampir 1,6 persen.

Cina diakui sebagai pendorong terbesar pertumbuhan global, dan wabah virus corona mempunyai dampak ekonomi yang luas. Selama wabah Sindrom Pernafasan Akut yang Parah (SARS / severe acute respiratory syndrome) tahun  2002-2003, yang berasal dari China dan menewaskan hampir 800 orang secara global, permintaan untuk penumpang perjalanann udara di Asia anjlok 45 persen. Dan industri perjalanan sekarang banyak bergantung pada pelancong Tiongkok.

Hong Kong yang dikuasai China, yang memiliki delapan kasus virus corona, melarang masuknya orang yang mengunjungi Hubei baru-baru ini.

Beberapa operator tur Eropa membatalkan perjalanan ke China, sementara pemerintah di seluruh dunia bekerja untuk memulangkan warga negara mereka.

2019-nCoV

Virus corona baru yang mematikan ini secara resmi dikenal sebagai 2019-nCoV. Virus baru ini diidentifikasi dapat menyebabkan pneumonia, tetapi masih terlalu dini untuk mengetahui seberapa berbahayanya dan seberapa mudah penyebarannya.

“Apa yang kita ketahui tentang virus ini adalah bahwa penularan terjadi melalui kontak manusia tetapi itu berbicara tentang contak dekat, yaitu kurang dari satu meter," kata Jerome Salomon, seorang pejabat senior di kementerian kesehatan Prancis.

“Berpapasan dengan seseorang (terinfeksi) di jalan tidak menimbulkan ancaman. Risiko rendah ketika Anda menghabiskan sedikit waktu di dekat orang itu dan menjadi lebih tinggi ketika Anda menghabiskan banyak waktu di dekat orang itu." (AFP/AP/Reuters/Jiji)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home