Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 19:57 WIB | Jumat, 14 Desember 2018

Wali Kota Nazaret: “Musim Natal Berkah bagi Kami”

Pohon natal di Nazaret, acara penyalaannya menjadi atraksi yang ditunggu-tunggu wisatawan dari seluruh penjuru dunia. (Foto: gil-lahav.co.il)

NAZARET, SATUHARAPAN.COM – Nazaret, ibu kota dan kota terbesar di Distrik Isarel Utara, dikenal sebagai tujuan ziarah utama umat Kristen. Setiap tahun, di bulan Desember, kota itu dikunjungi ratusan ribu umat Kristen dari seluruh penjuru dunia, untuk merasakan dan menikmati suasana perayaan Natal di kota yang disebutkan di Kitab Perjanjian Baru sebagai kota masa kecil Yesus.

Nazaret, mengutip Wikipedia, disebut sebagai “ibu kota warga Arab di Israel”, warganya adalah Palestina yang menjadi warga negara Israel. Penduduknya 76.551 jiwa menurut sensus tahun 2017, mengutip dari Wikipedia, yang 69 persen Muslim dan 30,9 persen Kristen.

Sebagai sesama Palestina, warga Nazaret juga tersulut rasa marah atas pengakuan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan Yerusalem, ibu kota Otoritas Palestina, sebagai ibu kota Israel. Ali Salam, Wali Kota Nazaret, menyebut Presiden AS itu “menikam” warga Palestina atas keputusannya memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem.

“Kami mencintai Yerusalem. Kami tidak akan pernah meninggalkan warga Yerusalem dalam keadaan apa pun,” kata Ali Salam, seperti dilaporkan Ben Lynfield dari Jerusalem Post.

 Di tengah kemarahan itu, Ali Salam, melalui suatu konferensi pers, memutuskan pada Kamis (13/12) untuk tetap menggelar perayaan Natal tahun ini. Walaupun tetap menggelar perayaan Natal yang menjadi daya tarik bagi umat Kristen di seluruh dunia untuk berwisata ziarah ke Nazaret, ia mengumumkan pertunjukan musik di panggung luar ruang yang biasanya menjadi bagian dari Pasar Natal Nazaret, dibatalkan tahun ini.

Ali Salam mengakui keputusan untuk tetap menyelenggarakan perayaan Natal itu berkaitan dengan, “kepentingan komersial kota dan kami terbiasa dengan ratusan ribu yang datang untuk musim ini.”

Sempat dilaporkan Salam membatalkan perayaan Natal. Namun, menurut situs web Al-Arab, pemerintah kota mengeluarkan pernyataan yang menyangkal berita itu. Ditegaskan, “pembatalan hanya berlaku untuk pertunjukan seni secara bertahap”, kios-kios tetap berdiri, penyalaan pohon natal yang menjadi salah satu atraksi yang ditunggu-tunggu wisatawan tetap dilangsungkan sesuai jadwal, program di Kota Tua dilanjutkan. Penyalaan pohon natal dilangsungkan 9 Desember lalu, dan sebuah parade akan diadakan pada 23 Desember.

“Musim Natal di Nazaret adalah musim yang baik dan berkah, dan kami akan menjaga kepentingan komersial tidak akan terganggu,” demikian pernyataan itu.

Tradisi Pemasangan Pohon Natal di Ruang Publik

Beberapa negara melakukan tradisi penyalaan pohon natal. Di Amerika Serikat, tradisi itu, seperti dikutip dari nationalparks.org, pertama kali dirayakan pada tahun 1923 oleh Presiden Calvin Coolidge.

Tahun ini, penyalaan pohon natal di President’s Park (Gedung Putih), Washington, DC itu dilangsungkan 28 November.

Tradisi pemasangan pohon natal di ruang publik dimulai di Riga, ibu kota Latvia, negara di Laut Baltik. Lebih dari 500 tahun yang lalu, dikutip dari liveriga.com, pohon natal pertama dibuat dan dihias di alun-alun pasar. Sejak saat itu, setiap tahun Riga menjadi “ibu kota” pohon natal dunia. Banyak objek seni berbeda dan kreatif dipajang di seluruh kota.

Pohon natal modern pun diperkenalkan, memamerkan orisinalitas karya yang mengagumkan dengan menggunakan berbagai bahan, mulai dari instalasi cahaya, ke kayu, kaca, batu bata. Eksposisi itu mencakup karya-karya terbaik seniman, mahasiswa akademi seni, serta para profesional kreatif lainnya.

Objek-objek seni itu paling baik dinikmati di malam hari ketika lampu-lampu kota menyala. Karya kreatif itu dapat dinikmati selama bulan Desember.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home