Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 22:27 WIB | Senin, 14 November 2016

Wapres: Bom Samarinda Peringatan Radikalisme

Tim Gegana Brimob Polda Kaltim mengamankan benda diduga sisa bom di lokasi ledakan di depan Gereja Oikumene Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11). Ledakan bom tersebut menyebabkan lima orang terluka yang semuanya merupakan masih anak-anak, empat diantaranya mengalami luka bakar parah dan seorang terduga pelaku peledakan berhasil ditangkap warga. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bom yang meledak di depan Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/11), merupakan peringatan bagi pemerintah bahwa radikalisme masih bergentayangan di Indonesia.

"Kami merasa prihatin dan bersedih atas korban bom kemarin. Sekali lagi ini memberikan kita suatu `warning` bahwa radikalisme, terorisme masih ada di sekitar kita. Bahkan, cukup banyak," katanya saat ditemui di Kantor Wapres di kompleks Istana Merdeka, Jakarta, Senin (14/11) sore.

Oleh sebab itu, pihaknya mendorong personel TNI dan Polri memprioritaskan perlawanan terhadap radikalisme dan terorisme.

"Langkah-langkah pemerintah tentu di samping pendidikan dan upaya sosialisasi, juga pendekatan keamanan dan hukum harus ditegakkan," kata Kalla setelah menemui ratusan murid SMP Athirah, Makassar, di ruang kerjanya itu.

Salah seorang balita korban ledakan molotov di Gejera Oikumene, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal dunia pada Senin subuh sekitar pukul 04.00 WITA akibat menderita luka bakar cukup parah.

Peristiwa yang terjadi pada Minggu (13/11) sore itu mengakibatkan lima orang terluka, empat di antaranya menderita luka bakar serius dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah IA Moeis, Samarinda Seberang.

Namun seorang balita bernama Intan Olivia Marbun (2,5) yang menjadi korban ledakan bom itu meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AW Sjahranie, Samarinda, Senin sekitar pukul 04. 00 WITA.

"Korban meninggal dunia akibat menderita luka bakar cukup parah yakni mencapai 78 persen," ujar Direktur RSUD AW Sjahranie, Rahim Dinata Majidi.

Seorang korban lainnya, Triniti Hutahaya (3) yang mengalami luka bakar mencapai 50 persen, saat ini masih dalam perawatan intensif tim dokter.

"Luka bakar yang dialami Triniti mencapai 50 persen dan juga mengalami pembengkakan paru-paru akibat menghirup asap saat ledakan. Masa kritis biasanya berlangsung 10 sampai 12 hari dan kami terus berupaya agar korban bisa melewati masa kritisnya," kata Rahim.

Dua balita lainnya, Alvaro Aurelius Tristan Sinaga dan Anita Kristabel Sihotang (2) sampai saat ini juga menjalani perawatan atas luka-luka yang dideritanya.

Sementara itu, terduga pelaku peledaksn dengan ciri-ciri berambut panjang, berhasil ditangkap warga saat hendak melarikan diri dengan cara berenang di Sungai Mahakam. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home